ZONAUTARA.com – Iran resmi membuka kembali Selat Hormuz, jalur perairan vital, di tengah masa gencatan senjata 10 hari di Lebanon. Namun demikian, pergerakan kapal di kawasan tersebut masih menunjukkan keragu-raguan. Data pelacakan pelayaran dari MarineTraffic melaporkan bahwa hingga Jumat (17/4/2026) malam, beberapa kapal gagal meninggalkan Teluk meski selat sudah dibuka.
Teheran mengumumkan pembukaan kembali Selat Hormuz telah mempengaruhi pasar global secara dramatis. Harga minyak dan komoditas turun, sementara bursa saham menguat. Namun, kondisi di lapangan belum stabil sepenuhnya, mencerminkan perbedaan antara pengumuman kebijakan dan implementasinya.
MarineTraffic mengungkapkan sekitar 20 kapal sempat bergerak menuju selat tersebut. Namun, kebanyakan menghentikan perjalanan atau berbalik arah, termasuk tiga kapal kontainer milik CMA CGM yang enggan berkomentar. Sementara itu, beberapa tanker baru masih mencoba mendekati selat.
Seorang pejabat senior Iran mengonfirmasi bahwa semua kapal komersial, termasuk berbendera AS, diizinkan melintas dengan catatan harus dikoordinasikan dengan Garda Revolusi Iran. Jalur harus dianggap aman oleh Iran, sedangkan kapal militer dilarang.
Sekretaris Jenderal Organisasi Maritim Internasional, Arsenio Dominguez, mengatakan pihaknya masih memverifikasi kebijakan ini untuk memastikan kebebasan navigasi. Industri pelayaran juga khawatir akan risiko keamanan, seperti ranjau laut. Knut Arild Hareide dari Asosiasi Pemilik Kapal Norwegia menyebut beberapa isu krusial, termasuk syarat dan aturan pelayaran oleh Iran.
Diolah dari laporan CNBC Indonesia.

