ZONAUTARA.com – Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef), M Rizal Taufikurahman, menekankan perlunya pemerintah untuk tidak hanya optimistis terhadap kondisi fiskal, tetapi juga mengambil langkah konsolidasi nyata. Hal ini agar Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tidak hanya terlihat stabil di permukaan, namun juga kokoh menghadapi tekanan global.
Menurut Rizal, meski kapasitas fiskal Indonesia pada kuartal II masih cukup untuk meredam guncangan jangka pendek, daya tahannya dinilai belum kuat dalam menghadapi tekanan ekonomi global jangka panjang. Beberapa faktor seperti kenaikan harga energi, pelemahan nilai tukar rupiah, dan potensi penurunan penerimaan pajak akibat aktivitas ekonomi yang melemah, menjadi sumber tekanan fiskal.
Tekanan tersebut mempersempit ruang belanja pemerintah, sementara kebutuhan anggaran untuk subsidi dan kompensasi energi meningkat. Kondisi ini menjadikan APBN sebagai peredam guncangan dengan biaya besar dan lebih terbatasnya ruang gerak jika tekanan global berlanjut.
Rizal menilai optimisme pemerintah lebih untuk menjaga kepercayaan pasar, namun harus diikuti strategi konkret dalam menjaga fleksibilitas fiskal. Ia menggarisbawahi bahwa tantangan utama fiskal Indonesia ada pada kualitas daya tahannya, bukan pada besaran defisit semata.
Dalam konteks ini, penting bagi pemerintah untuk melakukan konsolidasi fiskal yang lebih konkret, khususnya memperbaiki penyaluran subsidi agar tepat sasaran dan memperkuat struktur penerimaan negara, guna memastikan ketahanan fiskal yang kokoh menghadapi tekanan global di masa depan.
Diolah dari laporan Media Indonesia.

