ZONAUTARA.com – Presiden Rusia Vladimir Putin menghadapi momen kritis dalam kepemimpinannya dengan memimpin parade Hari Kemenangan pada Sabtu (9/5). Ini adalah peringatan kemenangan Uni Soviet atas Nazi Jerman yang kali ini berlangsung di tengah perang berkepanjangan dengan Ukraina, yang telah melampaui durasi Perang Patriotik Raya (1941-1945).
Parade tahun ini menjadi simbol kerentanan, bukan kemenangan. Serangan drone Ukraina yang terus-menerus, mencapai pusat ibu kota, memaksa penyelenggara menurunkan skala acara drastis. Tidak ada kendaraan lapis baja atau barisan kadet militer seperti tahun-tahun sebelumnya, dan untuk alasan keamanan, layanan internet serta telepon seluler di Moskow diperkirakan akan terganggu selama beberapa hari.
Di dalam Kremlin, rasa ketidakpuasan menyebar di berbagai lapisan masyarakat Rusia. Dengan jumlah korban jiwa yang diperkirakan melebihi satu juta orang, dan ekonomi yang tertekan, stabilitas kekuasaan Putin menghadapi tantangan besar. Layanan keamanan Rusia menanggapi dengan pembatasan ketat, termasuk membatasi aktivitas daring ala sistem Great Firewall Tiongkok, yang malah memicu kritik dari loyalis nasionalis.
Pada Januari, durasi operasi militer resmi melewati perang melawan Nazi, dan narasi Kremlin untuk mendenazifikasi Ukraina kini berbalik menjadi beban moral. “Setiap hari yang berlalu menambah sentimen bahwa kita tidak layak atas memori kakek-nenek kita. Putin menciptakan kultus ini dan sekarang hal itu berbalik menyerangnya,” kata Abbas Gallyamov, mantan penulis pidato Putin.
Meski analis menilai revolusi tidak akan terjadi dalam waktu dekat, perubahan suasana hati masyarakat Rusia sangat terasa. Harapan akan perdamaian cepat berganti dengan ketidakpastian. John Sullivan, mantan Duta Besar AS untuk Moskow, menyatakan, “Di Rusia, segala sesuatu tidak terjadi dengan cepat, tetapi ketika itu terjadi, semua akan berlangsung sangat cepat.”
Diolah dari laporan Media Indonesia.

