ZONAUTARA.com – Ketua Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun, memastikan bahwa Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) saat ini masih sangat aman untuk menopang subsidi bahan bakar minyak (BBM). Pemerintah berkomitmen tidak akan menaikkan harga BBM bersubsidi hingga akhir tahun, kendati harga minyak mentah dunia telah menembus angka 100 dolar AS per barel.
Kondisi geopolitik global mempengaruhi lonjakan harga minyak dunia, yang saat ini mencapai lebih dari 100 dolar AS per barel, jauh dari asumsi awal APBN sebesar 70 dolar AS per barel. Namun, menurut Misbakhun, kondisi fiskal Indonesia cukup kuat untuk menanggung subsidi BBM yang meningkat. “Pemerintah memastikan sepanjang rata-rata harga minyak dunia tetap 100 dolar per barel, pemerintah masih mampu menanggung beban itu,” ujarnya dalam rapimnas SOKSI di Bandung, Jumat (15/5).
Misbakhun menegaskan bahwa walaupun harga minyak dunia telah melewati 100 dolar AS per barel, perekonomian Indonesia tetap dalam kondisi aman. “Kita juga pernah menghadapi harga minyak di bawah 70 dolar, sehingga secara rata-rata tetap dalam kondisi aman,” tambahnya. Pemerintah bertekad untuk melindungi daya beli masyarakat, dengan Presiden Prabowo memiliki komitmen untuk menjaga kekuatan pembelian masyarakat dan inflasi agar ekonomi tetap tumbuh.
Meski nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar AS, yang berdampak pada inflasi barang-barang impor, Misbakhun meminta Bank Indonesia melakukan langkah serius untuk menstabilkan nilai tukar rupiah. Gubernur Bank Indonesia telah mengonfirmasi nilai tukar rupiah berada di bawah nilai fundamentalnya. “Ini tugas BI untuk stabilisasi kurs, karena selisih harga akibat melemahnya kurs dapat menekan inflasi barang-barang impor,” jelas Misbakhun.
Menanggapi keraguan publik terhadap ketahanan fiskal di tengah subsidi BBM yang tinggi, Misbakhun menjelaskan bahwa kebijakan ini didasarkan pada kalkulasi yang matang. Bersama pemerintah, DPR memastikan bahwa fiskal telah dipersiapkan dengan cermat selama rata-rata harga minyak dunia tetap 100 dolar AS per barel. “APBN masih kuat menahan beban kompensasi tersebut,” tutupnya.
Diolah dari laporan Media Indonesia.

