Mengenal empat satwa kunci Sulawesi Utara

Sulawesi tidak akan pernah sama tanpa siulan aneh Maleo, tarian taring Babirusa, tatapan muram Anoa, atau jambul tegap Yaki. Masa depan mereka kini ada di tangan kita bersama.

Editor: Redaktur
Kolase foto empat satwa kunci Sulawesi Utara. (Foto: Zonautara.com/Ronny Adoolof Buol)

ZONAUTARA.com– Pulau Sulawesi memiliki bentuk yang unik, bagaikan huruf “K” raksasa yang membentang di antara garis Wallacea. Keunikan geologisnya melahirkan keanekaragaman hayati luar biasa dengan tingkat endemisitas yang sangat tinggi.

Namun, kekayaan ini sedang berada dalam krisis. Empat satwa kunci, yakni Anoa, Babirusa, Maleo, dan Yaki, mewakili warisan evolusi yang tidak dapat ditemukan di tempat lain di dunia. Ironisnya, data terbaru dari International Union for Conservation of Nature (IUCN) Red List menunjukkan bahwa keempatnya sedang berjuang keras untuk bertahan hidup di tengah gempuran perburuan dan kerusakan hutan.

Berikut adalah potret lengkap tentang kehidupan, keunikan, dan status kritis mereka.


1. Anoa dataran rendah (Bubalus depressicornis): Kerbau kerdil yang terisolasi

Sekilas, Anoa menyerupai kerbau biasa, tetapi tubuhnya jauh lebih kecil dan kompak. Endemik Sulawesi dan Pulau Buton, satwa yang termasuk dalam famili Bovidae ini terbagi menjadi dua jenis (Anoa Dataran Rendah dan Anoa Gunung), meskipun para ilmuwan masih memperdebatkan status taksonominya. Anoa Dataran Rendah mendiami hutan tropis dataran rendah hingga ketinggian 1.000 meter.

anoa
Seekor anoa dipotret di penangkaran Anoa Breeding Center di Manado yang dikelola oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sulawesi Utara. (Foto: Zonautara.com/Ronny Adolof Buol)

Hal Unik dan Perilaku: Tidak seperti kerbau liar lainnya yang hidup berkelompok, Anoa merupakan hewan soliter. Mereka jarang terlihat berpasangan kecuali pada musim kawin. Anoa adalah pemakan dedaunan (browser) yang sangat menyukai area dengan sumber air, dan mereka sering terlihat berkubang di lumpur.




Fakta menarik lainnya, Anoa diketahui dapat meminum air laut untuk memenuhi kebutuhan mineralnya di daerah yang tidak memiliki sumber garam (mineral springs).

Reproduksi dan Populasi: Masa generasi Anoa berkisar antara 7 hingga 9 tahun, dengan betina melahirkan satu anak per tahun setelah masa kehamilan tertentu. Sayangnya, populasinya sangat memprihatinkan.

IUCN mencatat jumlah individu dewasa kurang dari 2.500 ekor di alam liar, dengan laju penurunan lebih dari 20% dalam dua generasi terakhir. Tidak ada subpopulasi yang melebihi 250 individu dewasa.

Status dan Ancaman: Terancam (Endangered/EN). Ancaman utama berasal dari perburuan untuk diambil dagingnya dan alih fungsi lahan hutan menjadi area pertanian dan tambang emas. Meski sudah dilindungi penuh oleh UU Indonesia dan tercantum dalam CITES Apendiks I, upaya konservasi in-situ dan ex-situ terus dilakukan untuk menjaga kerbau kerdil ini agar tidak punah.

Mengenal empat satwa kunci Sulawesi Utara
Peta duistribusi anoa (Sumber: IUCN)

2. Babirusa Sulawesi (Babyrousa celebensis): Babi dengan taring melingkar ke belakang

Mungkin tidak ada babi di dunia yang semenghebohkan Babirusa. Ciri paling ikonik dari satwa dalam famili Suidae ini adalah taring atas mereka yang tumbuh menembus kulit moncong, melingkar ke arah belakang, dan terus membesar hingga membentuk seperti gading tanduk rusa.

babirusa
Dua ekor babirusa Sulawesi sedang menjilati garam di Kolam Adudu yang ada di Suaka Margasatwa Nantu, Gorontalo. (Foto: Zonautara.com/Ronny Adolof Buol)

Hal Unik dan Pakan: Meskipun tergolong babi, Babirusa tidak memiliki tulang rostral (tulang hidung) yang menonjol, sehingga mereka tidak bisa mengais tanah seperti babi pada umumnya. Habitat asli mereka adalah hutan hujan tropis di tepian sungai dan kolam yang kaya akan tanaman air.

Babirusa adalah omnivora atau pemakan buah, daun, akar, invertebrata, dan vertebrata kecil, serta sangat menyukai area yang memiliki kandungan garam alam.

Perilaku dan Distribusi: Dahulu mereka sering ditemukan di dataran rendah dekat pantai, namun kini terdesak ke dataran tinggi yang lebih sulit dijangkau manusia. Hewan ini hidup dalam kelompok hingga 13 ekor, meski jantan dewasa lebih sering menyendiri. Secara historis, mereka tersebar di Sulawesi, Muna, Buton, dan Lembeh, namun kini telah punah di ujung timur laut semenanjung Sulawesi.

Status dan Ancaman: Rentan (Vulnerable/VU). IUCN memperkirakan populasinya di bawah 10.000 individu dewasa dengan penurunan lebih dari 30% dalam tiga generasi (sekitar 18 tahun). Ancaman terbesar adalah perburuan untuk memasok pasar daging di Sulawesi Utara, serta pembalakan liar. Mereka telah dilindungi penuh sejak tahun 1931.

Mengenal empat satwa kunci Sulawesi Utara
Peta distribusi babirusa Sulawesi (Sumber: IUCN)

3. Yaki (Macaca nigra): Monyet hitam berjambul yang terdesak

Yaki, atau Celebes Crested Macaque, adalah primata berwarna hitam pekat dengan ciri khas jambul tegak di atas kepalanya. Berbeda dengan monyet lainnya, Yaki adalah spesies dengan struktur sosial yang sangat toleran di antara betinanya.

yaki
Seekor yaki jantan diporet di Taman Wisata Alam Batu Putih, Tangkoko, Bitung. (Foto: Zonautara.com/Ronny Adolof Buol)

Hal Unik dan Perilaku: Yaki hidup dalam kelompok multi-jantan dan multi-betina yang besar, mencapai 60 hingga 80 individu, bahkan hingga 100 ekor. Sekitar 60% aktivitasnya dilakukan di atas tanah (terrestrial). Betina Yaki memiliki sistem birahi yang ditandai dengan pembengkakan alat kelamin, dan perilaku sosial mereka sangat damai, minim agresi.

Yaki adalah pemakan buah (frugivora) yang juga sesekali memangsa invertebrata dan vertebrata kecil, namun seringkali terpaksa mencuri tanaman budidaya.

Distribusi dan Populasi: Endemik di timur laut Sulawesi (sekitar Minahasa hingga Bolaang Mongondow) serta pulau-pulau kecil seperti Manado Tua dan Talise. Yaki juga diperkenalkan ke Pulau Bacan di Maluku. Sayangnya, di habitat aslinya, Yaki telah mengalami penurunan populasi yang sangat drastis.Di Cagar Alam Tangkoko, satu-satunya kawasan yang memiliki populasi paling viabel, kepadatannya tercatat sekitar 58 individu per km² pada tahun 2015. Namun di luar kawasan ini, mereka hampir mustahil ditemukan.

Status dan Ancaman: Terancam Kritis (Critically Endangered/CR). Diperkirakan populasinya turun lebih dari 80% dalam tiga generasi terakhir (33 tahun) akibat perburuan daging yang masif (terutama untuk konsumsi masyarakat) dan kehilangan habitat.

Mengenal empat satwa kunci Sulawesi Utara
Peta distribusi yaki. (Sumber: IUCN)

4. Maleo (Macrocephalon maleo): Burung yang menetaskan telur di pasir panas

Maleo adalah burung megapoda endemik Sulawesi yang memiliki metode reproduksi paling unik di antara burung-burung di dunia. Bertubuh besar dengan perpaduan warna hitam dan putih serta memiliki “helm” tulang (casque) yang menonjol di atas kepalanya.

maleo
Dua pasang maleo sedang menggali pasir di nesting ground Muara Pusian bagian dari kawasan Taman Nasional Bogani Nani Wartabone. (Foto: Zonautara.com/Ronny Adolof Buol)

Hal Unik dan Reproduksi: Maleo tidak mengerami telurnya! Betina akan menggali lubang di pasir pantai, tepi danau, atau sungai yang dipanaskan oleh sinar matahari atau energi panas bumi (geothermal), lalu menetaskan telurnya di dalam pasir tersebut.

Telur Maleo sangat besar, mencapai sekitar 16% dari berat tubuh induknya. Setelah telur dierami oleh alam selama 2-3 bulan, anak Maleo lahir dan langsung dapat terbang tanpa bantuan induknya. Dengan masa generasi sekitar 10,8 tahun, siklus ini sangat lambat untuk memulihkan populasinya.

Populasi dan Distribusi: Dulu Maleo tersebar luas. Namun, IUCN mencatat dari 149 lokasi sarang yang diketahui, hanya 47 lokasi yang masih aktif. Diperkirakan total populasi hanya berkisar 4.000 hingga 7.000 pasang berkembang biak (sekitar 8.000–14.000 individu dewasa).

Status dan Ancaman: Terancam Kritis (Critically Endangered/CR). Ancaman utama adalah pengambilan telur secara tidak berkelanjutan oleh manusia untuk dikonsumsi, serta hilangnya konektivitas antara hutan dan pantai tempat bersarang akibat pembalakan dan pembukaan lahan.

Mengenal empat satwa kunci Sulawesi Utara
Peta distribsui maleo. (Sumber: IUCN)

Upaya konservasi

Meski nasib keempat satwa ini tampak suram, ada secercah harapan. Pemerintah Indonesia telah mengeluarkan strategi dan rencana aksi konservasi, seperti untuk Anoa (2013-2022), Babirusa (2013-2022), dan perlindungan ketat terhadap Yaki dan Maleo berdasarkan UU No. 5/1990.

Upaya penyelamatan juga didorong oleh lembaga konservasi dan masyarakat lokal. Contohnya, konservasi berbasis masyarakat oleh AlTo (Alliance for Tompotika Conservation) di Sulawesi Tengah berhasil menstabilkan populasi Maleo di lokasi sarang Libuun (Taima) dengan menghentikan total pencurian telur dan memberikan manfaat ekonomi kepada masyarakat desa.

Di Tangkoko, ekowisata berhasil menjaga kestabilan populasi Yaki. Penegakan hukum yang lebih tegas dan pengawasan pasar satwa liar secara berkelanjutan diharapkan dapat menyelamatkan spesies-spesies unik ini dari kepunahan total.

Sulawesi tidak akan pernah sama tanpa siulan aneh Maleo, tarian taring Babirusa, tatapan muram Anoa, atau jambul tegap Yaki. Masa depan mereka kini ada di tangan kita bersama.


Artikel ini diolah berdasarkan data dari IUCN Red List of Threatened Species™ (Anoa, Babirusa Sulawesi, Maleo, dan Yaki) periode 2016–2021. Dipublikasikan oleh Tim Data Zonautara.com.

Share This Article
Bekerja sebagai jurnalis lebih dari 20 tahun terakhir. Sebelum mendirikan Zonautara.com bekerja selama 8 tahun di Kompas.com. Selain menjadi jurnalis juga menjadi trainer untuk digital security, literasi digital, cek fakta dan trainer jurnalistik.
Leave a Comment

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com