ZONAUTARA.com – Sebuah tren mengkhawatirkan muncul dari Kamboja, angka kematian Warga Negara Indonesia (WNI) di sana melonjak drastis, dan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Phnom Penh melihat adanya kaitan erat dengan maraknya WNI yang terjebak dalam operasi penipuan daring (online scam) ilegal.
Data terbaru menunjukkan situasi yang memerlukan kewaspadaan ekstra dari masyarakat Indonesia, terutama para pencari kerja.
Dalam tiga bulan pertama tahun 2025 (Januari-Maret), KBRI Phnom Penh mencatat peningkatan angka kematian WNI sebesar 75 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Selama periode ini, KBRI menangani 28 kasus kematian WNI.
Peningkatan kematian ini berjalan seiring dengan lonjakan kasus WNI bermasalah yang ditangani KBRI. Angkanya mencapai 1.301 kasus dalam tiga bulan, naik 174 persen dari tahun sebelumnya. Yang lebih mengkhawatirkan, mayoritas besar kasus tersebut, yakni 85 persen, berhubungan langsung dengan WNI yang terlibat dalam operasi penipuan daring.
Duta Besar RI untuk Kamboja, Santo Darmosumarto, secara terbuka menyatakan adanya korelasi antara dua fenomena ini.
“Nampaknya walaupun sudah ada himbauan Pemerintah, walaupun pemberitaan di media cukup masif, dan kasus sering viral di sosial media, ternyata masih banyak WNI yang terbuai dengan tawaran pekerjaan yang menyesatkan,” ujar Dubes Santo dalam keterangan persnya.
Bagaimana WNI terjerat?
Modus operandi sindikat ini seringkali dimulai dengan tawaran pekerjaan yang tampak menggiurkan. Posisi seperti customer service atau staf IT diiklankan dengan janji gaji fantastis, bisa mencapai $800-$1.000 (sekitar Rp 12-16 juta) per bulan, fasilitas mewah, dan syarat mudah.
Tawaran ini menyebar cepat melalui media sosial, aplikasi pesan seperti Telegram, atau bahkan dari mulut ke mulut.
Namun, kenyataan pahit menanti setibanya di Kamboja. Para WNI ini dipaksa bekerja sebagai penipu daring, melakukan berbagai modus seperti penipuan investasi yang menjebak korban untuk menanamkan modal pada platform investasi bodong (termasuk kripto atau binary option).
Modus lainnya berupa penipuan asmara (romance scam) dimana pelaku membangun hubungan palsu secara daring untuk menguras harta korban. Sementara pelaku lainnya menggunakan cara menjadi korban sebagai operator judi daring ilegal untuk mnjalankan situs-situs perjudian ilegal.
Ironisnya, mereka sering dipaksa menipu sesama WNI di Indonesia.
Dipaksa bekerja
Lingkungan kerja di pusat-pusat penipuan ini dilaporkan sangat tidak manusiawi. Para WNI dipaksa bekerja dengan jam sangat panjang (seringkali 12 jam atau lebih) dengan target penipuan yang tinggi. Kegagalan mencapai target atau pembangkangan bisa berujung pada kekerasan fisik seperti pemukulan, disetrum, hingga ancaman dijual ke kelompok lain.
Mereka ditahan di kompleks yang dijaga ketat, paspor dan ponsel disita, serta dibebani utang atau denda besar jika ingin keluar, membuat mereka terperangkap. Akses terhadap makanan layak dan layanan kesehatan sangat minim atau bahkan tidak ada.
Kondisi inilah yang diduga kuat menjadi pemicu utama lonjakan kematian. Data KBRI menunjukkan penyebab kematian terbanyak adalah penyakit tidak menular seperti stroke dan penyakit jantung (11 kasus), diikuti diabetes serta gangguan ginjal/hati (5 kasus). Stres ekstrem berkepanjangan, kurang tidur, nutrisi buruk, ditambah minimnya akses pengobatan, sangat mungkin memperburuk kondisi kesehatan yang sudah ada atau memicu penyakit fatal baru.
Imbauan kewaspadaan
KBRI Phnom Penh terus berupaya menangani kasus, berkoordinasi dengan otoritas Kamboja untuk penyelamatan, dan memfasilitasi pemulangan WNI korban. Namun, skala masalah yang besar dan kecanggihan sindikat menjadi tantangan tersendiri.
Dubes Santo menekankan pentingnya peningkatan kewaspadaan. “Diperlukan peningkatan edukasi dan literasi digital agar WNI terhindar dari jebakan perekrutan loker ilegal dan kejahatan daring yang merugikan banyak pihak,” tegasnya.
Masyarakat diimbau untuk sangat berhati-hati terhadap tawaran kerja di luar negeri dengan janji yang terlalu indah untuk menjadi kenyataan. Pastikan mencari informasi lowongan kerja melalui jalur resmi dan terverifikasi, serta bekali diri dengan literasi digital agar tidak mudah tertipu.
Jika anggota keluarga bekerja di luar negeri dan menunjukkan tanda-tanda mencurigakan atau sulit dihubungi, segera laporkan ke pihak berwenang atau KBRI/KJRI terdekat.


