ZONAUTARA.com – Kenaikan harga beras yang terus terjadi dalam beberapa bulan terakhir memberikan dampak serius bagi kelompok rentan, terutama perempuan dan anak. Sebagai bahan pangan pokok mayoritas masyarakat Indonesia, beras memiliki peran vital dalam ketahanan pangan rumah tangga.
Ketika harganya naik, tekanan ekonomi paling besar seringkali dirasakan oleh perempuan, terutama mereka yang menjadi kepala keluarga atau bertanggung jawab dalam mengatur kebutuhan sehari-hari.
Dalam banyak rumah tangga, perempuan berperan sebagai manajer dapur yang harus menyesuaikan pengeluaran dengan anggaran yang terbatas. Ketika harga beras melonjak, pilihan perempuan untuk memenuhi kebutuhan gizi keluarga semakin sempit. Mereka kerap harus mengurangi porsi makan, mencari alternatif pangan yang lebih murah namun kurang bergizi, atau bahkan berutang demi memastikan anak-anak tetap bisa makan.
Dampak ini tidak berhenti di dapur. Perempuan yang bekerja sebagai buruh tani atau pedagang kecil, yang pendapatannya tidak sebanding dengan inflasi bahan pokok, merasakan tekanan ganda. Di satu sisi, pendapatan stagnan atau menurun, sementara di sisi lain biaya kebutuhan pokok meningkat. Ketidaksetaraan gender dalam akses ekonomi memperburuk situasi mereka, membuat perempuan semakin terpinggirkan secara ekonomi.
Anak-anak pun terdampak langsung. Saat asupan gizi terganggu karena keterbatasan pangan, risiko stunting dan gangguan tumbuh kembang menjadi lebih tinggi.
Menurut laporan Badan Pusat Statistik (BPS) dan UNICEF tahun 2023, hampir 24 persen anak Indonesia mengalami stunting, dan salah satu penyebab utamanya adalah ketidakcukupan gizi akibat kemiskinan dan keterbatasan akses pangan.
Dalam jangka panjang, dampak kenaikan harga beras ini dapat memperluas lingkaran kemiskinan struktural. Perempuan yang harus mengorbankan kebutuhan pribadinya demi anak-anaknya akan mengalami penurunan kesehatan fisik dan mental. Sementara anak-anak yang tumbuh dengan gizi buruk berisiko mengalami kesulitan belajar dan produktivitas rendah di masa depan.
Pemerintah memang telah mengupayakan berbagai bantuan sosial dan subsidi pangan. Namun, program tersebut kerap belum menjangkau semua yang membutuhkan, terutama perempuan di pedesaan dan wilayah terpencil. Distribusi yang tidak merata dan data yang kurang akurat menjadi tantangan dalam memastikan keadilan bagi kelompok yang paling terdampak.
Untuk mengatasi krisis ini, diperlukan kebijakan yang berpihak pada perempuan dan anak sebagai kelompok paling rentan. Intervensi harus mencakup stabilisasi harga, distribusi pangan bergizi, perlindungan sosial berbasis gender, dan penguatan peran perempuan dalam rantai pasok pangan. Tanpa langkah konkret, lonjakan harga beras hanya akan memperdalam jurang ketimpangan sosial dan memperburuk kualitas hidup generasi mendatang.


