ZONAUTARA.com – Founder dan Chair MCorp Indonesia, Hermawan Kertajaya, menekankan pentingnya peran strategis Sulawesi Utara (Sulut) dalam memperkuat kerja sama ekonomi dengan negara-negara Asia Timur seperti Tiongkok, Jepang, dan Korea Selatan. Hal itu ia sampaikan dalam Manado Marketing Festival, Selasa (2/09/25) di Fourpoints Manado.
Dalam pidatonya, Hermawan menegaskan bahwa Indonesia, sebagai negara besar yang belum sepenuhnya kuat secara ekonomi, sebaiknya tidak terjebak dalam blok geopolitik manapun.
Sebaliknya, menurut Hermawan, Indonesia harus mengoptimalkan potensi wilayah-wilayahnya, terutama daerah yang memiliki kedekatan geografis dan budaya dengan pusat-pusat pertumbuhan Asia, salah satunya Sulawesi Utara.
“Sulut itu punya keunggulan lokasi. Dekat dengan Tiongkok, Jepang, dan Korea. Ini kekuatan Asia yang utama. Kita harus bisa manfaatkan ini,” ujar Hermawan.
Hermawan juga menyoroti bahwa komoditas kelapa yang menjadi andalan Sulut memiliki daya saing tinggi, bahkan terhadap produk-produk unggulan negara-negara besar.
Ia menyarankan agar Indonesia berhenti meniru produk asing seperti Apple, dan fokus pada komoditas yang tidak bisa ditiru, seperti kelapa.
Di sisi lain, ia menyampaikan pentingnya pendekatan STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) dalam meningkatkan daya saing daerah. Ia mencontohkan bagaimana diaspora Tiongkok di berbagai negara mampu unggul secara akademik dan teknologi, meskipun menghadapi keterbatasan bahasa.
Hermawan juga memuji langkah beberapa tokoh lokal seperti Pak Dhanan Iskandar, yang sejak lama menjalin koneksi dengan Tiongkok jauh sebelum negara tersebut menjadi kekuatan global. Ia menilai pendekatan personal dan kerja sama antardaerah, seperti program sister province antara Sulawesi Barat dan Yunnan, Tiongkok, dapat menjadi model kerja sama yang konkret.
“Kita jangan iri dengan sistem satu partai seperti di China, tapi kita bisa belajar dari fokus mereka pada tujuan pembangunan nasional,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa kerja sama dengan Tiongkok tidak harus dalam bentuk investasi besar, tetapi bisa dimulai dari kerja sama konkret seperti penyerapan kelapa dan pengembangan sektor pariwisata serta pertambangan yang ramah lingkungan.
Hermawan mengakhiri pidatonya dengan mengajak semua pihak untuk lebih berorientasi pada keunggulan lokal, menjalin kemitraan strategis dengan negara-negara Asia, dan menghindari ketergantungan pada bantuan pemerintah pusat dalam membangun daya saing daerah.


