Hilirisasi perkebunan Sulut digenjot untuk sejahterakan petani

Pemerintah kucurkan bantuan bibit senilai Rp139 miliar untuk 41 ribu hektar lahan di Sulut.

Hilirisasi perkebunan Sulut digenjot untuk sejahterakan petani

Pemerintah kucurkan bantuan bibit senilai Rp139 miliar untuk 41 ribu hektar lahan di Sulut.

ZONAUTARA.com – Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan komitmennya memperkuat hilirisasi atau pengolahan lanjut sektor perkebunan di Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) demi meningkatkan nilai tambah produk lokal dan kesejahteraan petani.

Hal ini disampaikan Amran dalam Rapat Koordinasi Hilirisasi Perkebunan se-Sulawesi Utara yang digelar di Kantor Gubernur Sulut, Manado, Jumat 12 September 2025. Pertemuan tersebut dihadiri Wakil Gubernur Sulut Victor Mailangkay serta para bupati dan wakil bupati se-Sulut, menunjukkan sinergi kuat antara pemerintah pusat dan daerah.

Mentan Amran mengungkapkan potensi pertanian-perkebunan Sulut sangat besar dan harus dikawal secara menyeluruh agar memberikan nilai tambah maksimal dan berujung pada peningkatan pendapatan petani.

Pertanian dongkrak ekonomi, stok beras aman

Secara nasional, sektor pertanian terus menunjukkan peran vital dalam perekonomian. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Indonesia triwulan I-2025 tumbuh 4,87% (year-on-year) dan lapangan usaha Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan mengalami pertumbuhan tertinggi, mencapai 10,52% (yoy).

Artinya, pertanian menjadi penyumbang terbesar pertumbuhan ekonomi Indonesia awal tahun ini. Di Sulawesi Utara sendiri, kontribusi sektor pertanian mencapai sekitar 20,59% terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) provinsi pada kuartal I 2025.




Dari sisi ketahanan pangan, Mentan memastikan ketersediaan beras nasional dalam kondisi aman. Pasokan beras pemerintah yang dikelola Bulog per 12 September 2025 tercatat sekitar 4,2 juta ton, tertinggi sepanjang sejarah.

Produksi beras nasional pun meningkat; data Kementan menunjukkan produksi Januari–Desember 2024 mencapai 31,03 juta ton, dan diproyeksikan naik lagi tahun 2025 seiring musim panen yang membaik.

Hilirisasi perkebunan Sulut digenjot untuk sejahterakan petani
Infografis Kementan RI

Di tingkat global, Organisasi Pangan Dunia (FAO) memprediksi produksi beras dunia 2025/2026 mencapai 551,5 juta ton (beras giling), naik 0,9% dibanding 2024/2025. Beberapa negara produsen utama seperti Indonesia bahkan diproyeksikan meningkatkan produksi – FAO memperkirakan produksi beras Indonesia mencapai 35,6 juta ton pada 2025/2026, atau naik sekitar 4,5% dari tahun sebelumnya.

Meski produksi dunia tumbuh moderat, gejolak iklim dan kebijakan ekspor impor dapat memengaruhi perdagangan beras global. Namun Indonesia berupaya mandiri.

“Ketersediaan dan stok pangan di Sulawesi Utara sangat mencukupi kebutuhan masyarakat,” tegas Wakil Gubernur Victor Mailangkay yang turut memimpin Rakor, sembari mengingatkan tantangan alih fungsi lahan pertanian yang perlu dikendalikan.

Hilirisasi komoditas unggulan: kelapa, kakao, kopi, dan pala

Sulawesi Utara dikenal memiliki komoditas perkebunan unggulan antara lain kelapa, kakao, kopi, dan pala. Mentan Amran menekankan hasil perkebunan tersebut tidak boleh lagi dijual mentah atau setengah jadi dengan nilai rendah. Ia mendorong agar tiap komoditas diolah lebih lanjut menjadi produk akhir yang memiliki nilai tambah tinggi.

“Hasil perkebunan di Sulut tidak boleh hanya berhenti pada penjualan bahan setengah jadi. Komoditas tersebut harus diolah menjadi produk jadi bernilai tambah lebih tinggi,” tegas Amran.

Langkah hilirisasi ini, lanjutnya, akan memberikan multiplier effect signifikan: menciptakan lapangan kerja baru, mengurangi pengangguran, dan meningkatkan kesejahteraan petani secara berkelanjutan.

Sebagai tindak lanjut, Kementerian Pertanian memberikan dukungan konkret berupa bantuan bibit dan program perluasan tanam untuk komoditas strategis di Sulut. Dalam forum rakor tersebut, Mentan Amran menyerahkan secara simbolis bantuan bibit untuk tiga komoditas perkebunan utama Sulut, yakni kelapa, kakao, dan pala, dengan total anggaran Rp139 miliar. Program bantuan bibit pertanian Sulut ini akan dilaksanakan selama tiga tahun ke depan dan menargetkan pengembangan lahan seluas 41.430 hektare.

“Program ini bertujuan meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan petani, sekaligus menggerakkan perekonomian daerah,” ujar Amran.

Adapun alokasi bantuan per komoditas mencakup:

  • Kelapa – bibit untuk 24.500 hektare, dengan anggaran sekitar Rp88,76 miliar. Kelapa merupakan komoditas andalan Sulut yang nilai ekonominya tinggi, mulai dari kopra, minyak kelapa, hingga produk turunan lainnya.
  • Kakao – bibit untuk 15.000 hektare, anggaran sekitar Rp13,14 miliar. Kakao berperan penting sebagai bahan baku industri cokelat dan komoditas ekspor unggulan.
  • Pala – bibit untuk 1.930 hektare, anggaran sekitar Rp37,09 miliar. Pala asal Sulut (terutama dari Sitaro) terkenal berkualitas tinggi dan memiliki pasar ekspor stabil sebagai rempah-rempah bernilai tinggi.
pala
Pekerja sedang menyortir biji pala di salah satu gudang eksportir pala di Manado. (Foto: Ronny A. Buol)

Mentan Amran bahkan mengaku baru menyadari betapa besar potensi tanaman pala Sulut untuk pendapatan nasional, sehingga ia mendorong pembangunan pabrik pengolahan pala di sentra produksi (Sitaro) agar komoditas ini bisa diolah di dalam negeri sebelum diekspor.

Upaya hilirisasi pala tersebut disambut baik oleh pemerintah daerah. Wakil Bupati Sitaro Heronimus Makainas, yang hadir dalam rakor, menyebut bahwa panen pala di wilayahnya bisa mencapai 3.000 kilogram per tahun dan akan meningkat jika ada dukungan pengolahan. Dengan hilirisasi, pala Sulut diharapkan memberi nilai tambah lebih tinggi bagi petani dan mendongkrak perekonomian lokal.

Hilirisasi perkebunan Sulut digenjot untuk sejahterakan petani
Wakil Bupati Sitaro Heronimus Makainas saat menghadiri Rapat Koordinasi Hilirisasi Perkebunan se-Sulawesi Utara yang digelar di Kantor Gubernur Sulut, Manado, Jumat 12 September 2025. (Foto: Yegar Sahaduta)

Tak hanya ketiga komoditas itu, kopi juga menjadi perhatian dalam pengembangan hilirisasi Sulut. Kopi asal Minahasa dan daerah lain di Sulut memiliki cita rasa khas dan berpeluang dikembangkan industrinya (seperti produksi kopi bubuk specialty lokal).

Begitu pula kelapa dalam Sulut dapat diolah menjadi berbagai produk bernilai tinggi seperti minyak kelapa, VCO, briket tempurung, gula semut, dan lain-lain. Sebagai ilustrasi, harga kelapa bulat di tingkat petani sekitar hanya beberapa ribu rupiah per kg, sedangkan produk olahan seperti virgin coconut oil (VCO) dapat mencapai Rp145.000 per liter – nilai tambah lebih dari 100 kali lipat.

Permintaan global terhadap produk turunan kelapa juga meningkat pesat, seiring tren superfood dan kebutuhan bahan baku alami.

“Momentum ini tidak boleh kita lewatkan. Petani harus sejahtera, dan nilai tambah harus tinggal di daerah,” kata Amran pada kesempatan lain, saat mendorong daerah penghasil kelapa untuk membangun industri pengolahan sendiri.

Hilirisasi perkebunan Sulut digenjot untuk sejahterakan petani
Rida memotong kelapa yang akan di sajikan kepada pembeli(Foto: Zonautara.com/Yegar Sahaduta)

Investasi hilirisasi: Proyeksi produksi dan serapan tenaga kerja

Mendorong hilirisasi membutuhkan investasi besar dan perencanaan matang. Pemerintah pusat telah menyiapkan program pengembangan dan hilirisasi komoditas perkebunan strategis secara nasional untuk 2025–2027.

Program ini mencakup perluasan/peremajaan lahan total sekitar 870.890 hektare berbagai komoditas unggulan (tebu, kelapa, kakao, kopi, jambu mete, lada/pala, dll) dengan estimasi kebutuhan pendanaan sekitar Rp9,95 triliun.

Investasi tersebut dialokasikan untuk biaya tanam ulang/peremajaan dan pengadaan benih unggul. Dari program ini, Kementan memproyeksikan tambahan produksi hasil perkebunan nasional sekitar 5,29 juta ton per tahun dengan nilai ekonomi mencapai Rp138 triliun ketika tanaman sudah berproduksi optimal.

Selain itu, geliat hilirisasi diperkirakan akan menyerap tenaga kerja dalam jumlah masif – program perluasan 870 ribu hektare tadi dapat menciptakan lebih dari 1,6 juta lapangan kerja bagi petani, tenaga pengolahan, dan sektor pendukung lainnya.

Hilirisasi perkebunan Sulut digenjot untuk sejahterakan petani
Infografis: Kementan RI

Di Sulawesi Utara sendiri, dengan adanya alokasi 41 ribu hektare untuk kelapa, kakao, dan pala tadi, potensi penciptaan lapangan kerja baru sangat signifikan. Kegiatan pembibitan, penanaman hingga pembangunan unit pengolahan di daerah akan membutuhkan banyak tenaga kerja lokal.

Seiring berjalannya waktu, hilirisasi juga akan melahirkan industri-industri kecil di pedesaan – misalnya pengolahan kopra menjadi minyak kelapa atau VCO, pengolahan biji kakao menjadi produk cokelat, hingga pengolahan pala menjadi minyak atsiri atau bubuk pala.

Seluruhnya akan membuka peluang usaha baru di pedesaan dan menyerap pekerja, sehingga bonus demografi dapat tersalurkan ke sektor produktif. Mentan menegaskan bahwa pemerintah akan mengawal program hilirisasi ini hingga berhasil.

“Pesan saya, kelola baik-baik bantuan yang diberikan ini, dan kami akan mengawal sampai bisa berproduksi dengan baik,” ucap Amran kepada para petani dan kepala daerah, menandakan komitmen Kementan untuk mendampingi pelaksanaan di lapangan.




perempuan
Bening Sisil saat melayani pembeli bibit kakao di lokasi pembibitannya di Werdhi Agung, Dumoga, Bolmong. (Foto: Zonautara.com/Ronny A. Buol)

Optimalisasi lahan dengan pola tumpang sisip

Strategi lain yang turut didorong untuk meningkatkan produktivitas adalah tumpang sisip/tumpang sari tanaman pangan di sela-sela perkebunan. Mentan Amran mengimbau agar lahan perkebunan, terutama kebun kelapa, dioptimalkan dengan menanam komoditas lain di antaranya.

“Kita harus maksimalkan lahan. Di bawah kelapa bisa ditanam padi, bisa juga jagung,” ujarnya dikutip dari ditjenbun.pertanian.go.id. Ia menjelaskan, dengan sistem tumpang sari, petani dapat panen kelapa sekaligus panen jagung atau padi dari lahan yang sama.

Pola tanam sela ini memberikan penghasilan tambahan bagi petani sembari menunggu tanaman pokok (misalnya kelapa) berproduksi penuh. Contohnya, di sela tegakan kelapa yang masih muda bisa ditanami jagung atau padi gogo (ladang). Hasil panen jagung/padi tersebut tidak hanya menambah pendapatan petani, tapi juga berkontribusi pada ketahanan pangan lokal dan nasional.

Langkah ini dipandang sebagai salah satu cara cepat mencapai swasembada pangan tanpa perlu membuka lahan baru, serta memitigasi risiko kegagalan salah satu komoditas (diversifikasi). Ke depan, model tumpang sisip akan diperluas ke berbagai kawasan perkebunan rakyat.

Hilirisasi perkebunan Sulut digenjot untuk sejahterakan petani
Tanaman tumpang sisip antara kelapa dan jagung. (Foto: Kementan RI)

Sinergi pusat dan daerah, Sulut siap melangkah maju

Program hilirisasi perkebunan ini mendapat dukungan penuh dari pemerintah daerah Sulawesi Utara. Wakil Gubernur Victor Mailangkay menyampaikan apresiasi atas perhatian pemerintah pusat.

“Kami sangat mengapresiasi, dan akan sama-sama mengawal sehingga bantuan Kementerian Pertanian akan dimanfaatkan dengan baik, untuk kesejahteraan masyarakat,” ungkap Victor.

Pernyataan ini menegaskan komitmen Pemprov Sulut dan para bupati di seluruh kabupaten/kota untuk menyukseskan hilirisasi di Bumi Nyiur Melambai. Pemerintah daerah bertekad memastikan bibit dan bantuan yang diberikan pusat benar-benar ditanam, dikelola, dan menghasilkan output sesuai target.

Tantangan seperti alih fungsi lahan pertanian akan ditekan semaksimal mungkin melalui kebijakan tata ruang yang pro-pertanian, agar luas lahan produktif tidak terus menyusut.

sulut
Wakil Gubernur Sulut Victor Mailangkay saat memberi sambutan pada Rapat Koordinasi Hilirisasi Perkebunan se-Sulut di Kantor Gubernur Sulut, Manado, Jumat (12/9/2025). / Foto: Yegar Sahaduta.

Dengan kolaborasi erat antara Kementerian Pertanian dan pemerintah daerah, Sulawesi Utara berpeluang menjadi salah satu motor hilirisasi pertanian di Indonesia timur. Potensi besar komoditas seperti kelapa, kakao, kopi, pala, cengkih, dan vanili di daerah ini dapat diolah menjadi produk-produk bernilai tinggi yang kompetitif di pasar ekspor.

Langkah hilirisasi dan optimalisasi lahan tidak hanya akan meningkatkan nilai ekonomi sektor pertanian Sulut, tapi juga membuka lapangan pekerjaan, menahan arus urbanisasi, dan memperkuat ketahanan pangan.

Jika konsisten dijalankan, upaya ini sejalan dengan agenda nasional menjadikan Indonesia lumbung pangan dan pusat agroindustri dunia. Pemerintah pusat telah memberikan kick-start melalui pendanaan dan pendampingan; kini tugas bersama untuk mengawal implementasinya. Tujuannya agar Sulawesi Utara melangkah maju, dari penghasil bahan mentah menjadi produsen produk olahan berkualitas, demi terwujudnya petani sejahtera dan ekonomi daerah yang semakin tangguh.

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com