ZONAUTARA.com– Bilalang bukanlah sekadar satu toponimi tunggal, melainkan sebuah lanskap budaya yang terbentang di dataran tinggi Sulawesi Utara, dengan iklim yang sejuk dan dikelilingi perbukitan yang bergelombang. Kawasan ini secara geografis terintegrasi dan diikat oleh kedekatan dengan kemegahan vulkanik Gunung Ambang dan memiliki sumber daya air yang vital, termasuk mata air panas yang dipercaya secara lokal sebagai “akar” yang terhubung langsung ke kekuatan interior Gunung Ambang.
Namun dari keunikannya, Bilalang hidup dalam dualitas. Perkampungan ini terpecah oleh garis-garis birokrasi administratif pemerintahan, di mana Bilalang I dan II telah menjadi bagian dari Kota Kotamobagu, sementara Bilalang III dan IV serta beberapa desa lainnya yang lebih agraris berada di wilayah Kabupaten Bolaang Mongondow (Bolmong). Pembagian ini menciptakan atmosfer transisi, tempat fasilitas kota perlahan memudar ke dalam realitas pedesaan.
Sejarah topografi Bilalang juga tersimpan dalam nama-nama yang diwariskannya termasuk warisan intelektual turut memahat tanah ini. Di Bilalang I, terawat sebuah Sumur Tua sedalam sembilan meter peninggalan misionaris-antropolog Belanda, W. Dunnebier, yang pernah menetap di sini pada tahun 1930-an untuk mengkodifikasi bahasa Mongondow. Sumur ini bukan hanya artefak kolonial, tetapi juga metafora yang kuat, sebuah sumber daya yang menampung narasi sejarah.
Menghadapi fragmentasi administratif yang kadang membuat warga terperangkap di tengah sengketa yurisdiksi dan kurangnya layanan, masyarakat Bilalang telah lama berpegangan pada etos leluhur orang Bolmong, momosad, atau gotong royong. Sebuah semangat kolektif yang menjadi tulang punggung ketahanan komunal. Semangat inilah yang mendorong warga untuk tidak menunggu intervensi pemerintah, melainkan bergerak sendiri untuk mengatasi kekurangan infrastruktur maupun sosial.
Barangkali Momosad telah menciptakan solusi mandiri untuk tantangan pembangunan modern, termasuk dalam hal akses terhadap pengetahuan. Di tengah lanskap yang unik ini, di mana batas-batas politik mudah dilalui oleh kabut dataran tinggi namun sulit ditembus oleh birokrasi, munculah sebuah ruang literasi yang berfungsi sebagai jembatan kultural. Ruang itu bernama Bulandu, sebuah toko buku dan penerbit lokal yang lahir dari kecintaan mendalam Supri Gantu (32) terhadap buku.
Mengambil namanya dari salah satu mata air bersejarah di Bilalang, Bulandu didirikan dengan harapan agar ia dapat “mengalir seperti air”, mendistribusikan pengetahuan ke desa-desa yang terpencil dan menjembatani jurang minat baca di Bolmong Raya. Kehadiran Bulandu di Bilalang III menjadi fenomena menarik, sebuah upaya akar rumput yang merawat ekosistem baca di wilayah yang terbelah ini.
Toko buku milik Supri ini hidup sebagai ruang yang merawat ekosistem baca di wilayah tersebut. Desa yang dapat dikategorikan terpencil itu justru melahirkan sosok seperti Supri pemilik toko buku Bulandu yang selama bertahun-tahun bertahan sebagai penerbit lokal sekaligus penjual buku. Dari sebuah desa kecil, ia mengelola proses penerbitan, merawat toko buku sederhana, dan membuka ruang baca bagi masyarakat sekitar. Di era digital ketika industri penerbitan di kota-kota besar pun menghadapi penurunan minat baca dan tantangan distribusi, kemampuan Bulandu untuk bertahan bahkan tetap produktif menjadi cerita yang menarik di Bolmong.
Kecintaan Supri terhadap buku menjadi awal lahirnya Bulandu. Ia bercerita bahwa dirinya mulai menjual buku sejak masih kuliah. “Saya sudah mulai menjual buku sejak tahun 2017 secara mandiri. Dari situ kemudian lahirlah Bulandu,” ungkap Supri saat dihubungi Zonautara.com, (19/11/2025).
Nama Bulandu ia ambil dari salah satu cerita tentang mata air di Bilalang yang memiliki sejarah turun-temurun dalam masyarakat setempat sebagai salah satu mata air yang dahulu pernah disinggahi Raja Tadohe dan Inde Dou. Dari cerita itulah nama Bulandu diadopsi sebagai sebuah brand toko buku, dengan harapan bisa mengalir seperti air.
Supri memutuskan menjadi penjual buku karena hobi membaca. “Saya ingin apa yang saya rasakan dalam membaca bisa juga dirasakan oleh teman-teman di Bilalang dan Bolmong secara keseluruhan. Itu sebabnya Bulandu lahir,” katanya.
Bulandu resmi didirikan pada tahun 2020, meski sejak 2011 ia telah mulai menjual buku secara personal. Tantangan terbesar yang ia hadapi adalah maraknya pembajakan buku yang menurutnya belum mendapatkan penindakan serius dari pemerintah. Sesuatu yang merusak ekosistem literasi dan merugikan penulis serta penerbit.
Untuk proses penerbitan, manajemen Bulandu dilakukan di Bolmong, tetapi percetakan tetap harus dilakukan di Pulau Jawa atau Yogyakarta. “Di Sulut belum ada percetakan khusus buku. Bahkan di Makassar yang literasinya sudah bagus, tetap cetak di Jawa. Di Sulawesi belum ada pabrik kertas. Kalau pun ada mesin cetak, kertasnya tetap dipesan dari Jawa, jadi lebih efisien dicetak di sana saja,” jelas Supri.
Meski terdapat percetakan di Bolmong, kualitasnya belum memenuhi standar komersial toko buku. Tantangan lainnya adalah bagaimana buku-buku terbitan Bulandu dapat terdistribusi di toko-toko buku besar di Jakarta, Yogyakarta, dan Bandung.

Melihat ruang literasi yang digerakkan oleh warga secara perorangan ini, tokoh pemuda Bolaang Mongondow Raya, Hamri Mokoagow menjelaskan bahwa literasi merupakan aspek fundamental dalam pembangunan masyarakat.
“Literasi sangat penting karena menyangkut kemampuan seseorang mengakses informasi melalui bacaan, tulisan, dan komunikasi. Itu membuat kita mampu berpikir kritis dan menganalisis sebuah peristiwa secara objektif berdasarkan data,” ujarnya.
Hamri yang juga menjadi Staf Khusus Wali Kota Kotamobagu di Bidang Pendidikan memberi contoh bagaimana Pemerintah Kotamobagu menempatkan pendidikan dan kebudayaan sebagai salah satu visi dasar pembangunan daerah, termasuk aktivitas literasi. Menurutnya dalam berbagai diskusi bersama Wali Kota dan OPD terkait, ia selalu menyorot soal literasi agar mendapatkan perhatian yang lebih serius.
Hamri memberi contoh, bagaimana Pemkot Kotamobagu akan memanfaatkan ruang terbuka hijau (RTH) sebagai ruang aktivitas literasi. RTH tersebut akan dilengkapi dengan fasilitas seperti lemari buku, koleksi bacaan, hingga akses Wi-Fi gratis bagi siswa, mahasiswa, dan komunitas baca. Komunitas literasi, termasuk Bulandu melalui Supri, akan diajak sebagai pengelola kegiatan, karena meski Bulandu secara administratif berada di Bolmong tetapi sangat dekat dengan Kotamobagu.
Untuk Kotamobagu sendiri menurut Hamri, selain akan mendorong literasi melalui pemanfaatan RTH sebagai taman baca dan ruang diskusi komunitas, juga akan mendorong keterlibatan komunitas literasi lokal dalam ruang diskusi dan kebudayaan. Begitu juga akan mendorong kurikulum berbasis muatan lokal melalui Dinas Pendidikan dengan melibatkan praktisi, budayawan, dan komunitas literasi. Dan mendorong lahirnya buku-buku karya anak daerah yang dikoleksi oleh Perpustakaan Daerah dan sekolah agar penulis serta penerbit lokal semakin terlihat dan terbaca.
Menurutnya, literasi di Kotamobagu dan Bolaang Mongondow Raya pada umumnya dalam tiga tahun terakhir menunjukkan perkembangan signifikan. Beberapa indikatornya adalah, banyak lahir komunitas literasi, munculnya komunitas penulis, pengkaji, dan peneliti lokal. Banyak karya bertema Mongondow saat ini diterbitkan oleh penulis lokal yang membuat sekolah dan perpustakaan memiliki koleksi referensi yang semakin banyak dan mudah diakses.

Gerakan literasi perlu kolaborasi semua pihak
Menanggapi insiatif yang dilakukan oleh Supri dengan Bulandu, Rektor Universitas Dumoga Kotamobagu Dr Muharto S.Pd.i S.E, M.Si menilai bahwa keberadaan penerbit lokal sangat penting. Para penulis lokal dapat menjadi pemasok utama bagi penerbit. Tapi tantangannya juga soal rendahnya tingkat literasi di berbagai lapisan masyarakat.
“Karena itu saya mendorong generasi muda untuk mencintai kegiatan membaca, serta mengaktifkan kembali suasana perpustakaan. Para aktivis dan mahasiswa yang bergerak dalam organisasi saya dorong untuk banyak membaca, berdiskusi, dan menulis,” ujarnya saat dihubungi Zonautara.com.
Muharto juga menilai perlu dilakukan pemberdayaan bagi penerbit lokal agar mereka dapat terus berkembang. Salah satu langkah yang dapat ditempuh adalah menciptakan platform atau komunitas pembinaan menulis yang bekerja sama dengan perguruan tinggi.
“Kita perlu memberdayakan anak-anak yang memiliki bakat menulis. Sejak SMA mereka perlu kita bimbing dan kita mentori, lalu karya mereka bisa diterbitkan melalui penerbit lokal,” tutur Muharto.
Dengan langkah tersebut, penerbit lokal akan memperoleh suplai tulisan yang berkelanjutan. Di sisi lain, generasi muda juga termotivasi untuk menulis, dan karya mereka dapat disebarkan ke berbagai pusat bacaan, termasuk sekolah-sekolah.
Muharto juga mengkritik keberadaan Perpustakaan Daerah termasuk yang ada di Kotamobagu. Perpustakaan yang sudah dilengkapi dengan fasilitas yang cukup memadai ini, belum berperan optimal dalam menghidupkan ekosistem literasi.
“Menurut saya, pemerintah daerah perlu memiliki program yang secara langsung mendorong generasi terutama anak sekolah dan mahasiswa untuk terlibat dalam kegiatan literasi, seperti lomba karya tulis ilmiah, lomba cerpen, dan kegiatan lain yang mampu menstimulasi minat baca dan tulis,” kata Muharto.
Ia menjelaskan bahwa tidak ada satu peradaban besar di dunia ini termasuk peradaban Yunani yang berdiri tanpa fondasi literasi yang kuat. Namun sayangnya, persoalan literasi sering kali diabaikan oleh pemerintah daerah yang lebih menitikberatkan pada pembangunan infrastruktur atau sekadar mengejar peningkatan angka statistik pendidikan. Padahal, meskipun fasilitas pendidikan memadai, tanpa literasi yang kuat akan sulit melahirkan generasi yang inovatif dan produktif ke depan.
Ia memberi saran pemerintah daerah harus lebih serius menangani persoalan literasi. Selain membuka program-program yang mendukung, perlu dibentuk satu unit atau lembaga secara khusus yang fokus mengelola dan mengembangkan literasi. Pemerintah dapat bekerja sama dengan ikatan penerbit atau penerbit lokal seperti Bulandu untuk menciptakan ajang kompetisi dan budaya literasi sehingga tumbuh generasi yang terbiasa membaca, menulis, dan memiliki kemampuan retorika akademis yang kuat.

Sementara itu pegiat literasi yang merupakan pemuda asal Kotobangon, Ahmad Bilawal Al-Farabi berpendapat bahwa minat baca di Kotamobagu dan sekitarnya, setidaknya dalam lima tahun terakhir terlihat adanya peningkatan, khususnya di kalangan pemuda dan lingkungan pendidikan. Berbagai forum literasi mulai bermunculan di tingkat SMA sederajat, bahkan beberapa SMP melalui OSIS juga telah membentuk bidang yang berfokus pada peningkatan minat baca.
Namun demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa meskipun terjadi peningkatan, masih banyak kelompok masyarakat yang belum merasakan dampak dari tren positif ini. Menurut Abil, pemerintah dapat memberikan dukungan dengan memaksimalkan fasilitas yang sudah tersedia, khususnya Perpustakaan Daerah. Misalnya, dengan memperpanjang jam operasional agar masyarakat dapat mengakses bahan bacaan pada waktu yang lebih fleksibel. Selain itu, pemerintah juga dapat memperkuat upaya peningkatan minat baca dengan memberikan pendanaan bagi komunitas-komunitas nonprofit yang bergerak di bidang literasi, seperti Moisipun.
“Saya juga berharap pemerintah dapat menyediakan wadah bagi masyarakat untuk menumbuhkan, mempertahankan, dan menguatkan minat baca di Kotamobagu, baik melalui kompetisi maupun bentuk kegiatan lainnya,” ujarnya.
Soal keberadaan perpustakaan daerah ini, Supri juga memberikan sorotannya terutama soal akses pembaca. Ia menilai pemerintah kota maupun daerah lainnya di Bolaang Mongondow Raya perlu menyediakan ruang publik, misalnya taman baca yang memang diperuntukkan bagi masyarakat.
Ia memberi ide agar berbagai taman yang ada diubah menjadi taman baca agar dapat menjadi ruang berekspresi sehingga stigma negatif terhadap taman perlahan-lahan berubah. Jika dialihfungsikan seperti taman baca Kotamobagu, setidaknya masyarakat dapat terpantik untuk datang, dan teman-teman komunitas pun merasa memiliki ruang untuk berkegiatan.
“Hal-hal seperti ini sudah banyak terjadi di Surabaya, Jakarta, dan daerah lain, yang sebenarnya bisa diikuti oleh Pemeritah di Bolmong atau Kotamobagu,” tutup Supri menitip harapannya.

