ZONAUTARA.com – Balai Taman Nasional Bogani Nani Wartabone (TNBNW) bekerja sama dengan Wildlife Conservation Society (WCS) dan Gereja Masehi Injili di Bolaang Mongondow (GMIBM) menggelar Focus Group Discussion (FGD) Penyusunan Pedoman Khotbah Bertemakan Konservasi Satwa Liar di Hotel Sutan Raja, Kotamobagu, Jumat (28/11/2025).
Kegiatan ini menghadirkan sekitar 40 peserta, terdiri dari pendeta GMIBM, akademisi, dan pengelola kawasan konservasi, untuk membahas peran gereja dalam pendidikan ekologi sekaligus memperkuat pemahaman jemaat terkait pelestarian alam.
Sekretaris Komisi I Sinode GMIBM, Pdt Denni Lang, M.Teol, menegaskan bahwa pengajaran gereja harus menyentuh kesadaran ekologis jemaat.
Menurutnya, konservasi alam adalah hal yang sangat mendesak, terutama dengan masih ditemukannya praktik perburuan dan konsumsi satwa liar di wilayah yang berdekatan dengan kawasan Taman Nasional Bogani Nani Wartabone.
“Dalam pikiran kita warga GMIBM perlu banyak pengajaran, bimbingan, arahan termasuk pemahaman tentang konservasi alam di mana ancaman terhadap perusakan kemudian perburuan hewan-hewan liar di wilayah Taman Nasional Bogani Nani Wartabone ini dipandang sangat urgensi dan tidak bisa oleh warga GMIBM terlibat di dalamnya,” ujarnya kepada Zonautara.com.
Ia menjelaskan bahwa gereja kini sedang berupaya mengubah paradigma dan cara pandang jemaat agar lebih bertanggung jawab terhadap ekologi dan keberlanjutan alam.
“Mandat Tuhan bagi kami kan adalah usahakan menjaga dan memelihara karena itu menjadi perhatian warga GMIBM dengan terancam punah satwa-satwa, bahwa ini menjadi tanda awas bagi kita semua, jangan sampai ini akan memberi cerita yang sangat tidak baik bagi generasi muda, generasi kita selanjutnya,” tegasnya.

Pdt Denni juga menyoroti tantangan yang masih dihadapi gereja, seperti kebiasaan masyarakat mengonsumsi daging satwa liar, baik karena tradisi, ekonomi, maupun sekadar hobi.
“Memang tantangan yang kami dapatkan bahkan sudah disosialisasikan, sudah disampaikan, toh masih dijumpai juga yang mengkonsumsi daging satwa liar, tetapi juga menjadi kebiasaan sebagai sumber mata pencaharian, tapi ada juga yang hanya hobi, yang hobi ini yang sangat menantang,” ujarnya.
Menurutnya, gereja tetap akan bersuara dan mengimbau supaya warga jemaat mengubah pola konsumsi dan beralih pada hewan yang sudah didomestifikasi. Untuk itu, materi-materi khotbah bertema konservasi terus dipersiapkan dan disusun oleh Komisi I Sinode GMIBM.
“Salah satu yang dibuat adalah bentuk khotbah yang oleh Komisi I Sinode diberi nama Pelita Hidup. Itu dari tingkat jemaat ke kategorial bapak, remaja, bahkan anak sekolah minggu mendapat tema yang sama dan dieksplor oleh semua pelayan-pelayan Tuhan untuk lebih mendetilkan pemahaman tentang perlindungan dan konservasi satwa liar,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa setelah FGD ini, tema-tema tersebut akan diperdalam melalui kajian Alkitab dan dirumuskan menjadi bahan khotbah untuk awal tahun 2026.
Sementara itu, Ketua Sinode GMIBM, Pdt Fekky Kamasaan, menekankan bahwa relasi manusia dengan alam tidak hanya berada dalam ranah iman, tetapi terkait erat dengan tanggung jawab ekologis.
“Relasi antara manusia tidak direduksi imanologis tetapi dia ada tanggung jawab ekologis,” ungkapnya.

Ia menjelaskan bahwa GMIBM selama beberapa tahun terakhir memperkuat aspek ekoteologi dalam agenda gerejawi, termasuk membangun jejaring dengan TNBNW dan WCS. Salah satu langkah yang sudah dijalankan adalah pembiasaan untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dalam kegiatan gereja, serta mengadakan kunjungan ke kawasan taman nasional sebagai bagian dari edukasi lingkungan.
“Oleh karena itu kami GMIBM sudah dua tahun intens kerja sama dengan TNBNW. Bahkan saat HUT GMIBM kami berkunjung dan merasakan bagaimana udara segar dan suasana alam itu sendiri sebagai bentuk promosi, edukasi, networking, dan wadah bersama,” jelasnya.
Pdt Fekky juga menyinggung pentingnya edukasi yang terus-menerus untuk membentuk cara pandang baru dalam konsumsi pangan.
Ia memberi contoh bahwa pilihan pribadi terkait makanan sering kali terbentuk dari interaksi keluarga dan lingkungan sejak kecil.
“Orang Mongondow sangat selektif memilih makanan. Saya sendiri sampai sekarang enggan mengonsumsi ular, tidak memakan kodok, sebab sejak kecil sudah terbiasa dengan hal demikian,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu ia juga mengangkat konsep theologia ibu, yang memandang alam sebagai sosok pemberi kehidupan. Pemahaman ini, katanya, menuntun umat untuk memperlakukan alam sebagai ruang hidup bersama yang harus dihormati dan dilestarikan.
Melalui kegiatan FGD ini, GMIBM berharap pedoman khotbah konservasi yang sedang disusun dapat menjadi sarana edukasi ekologis yang menyentuh seluruh lapisan jemaat, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, baik dalam ibadah gereja maupun ibadah kolom di rumah. Dengan demikian, pesan pelestarian lingkungan dan perlindungan satwa liar dapat dipahami lebih luas dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari umat GMIBM.


