ZONAUTARA.com – Di sudut Kelurahan Mongondow, berdiri sebuah sekolah Madrasah Aliyah Negeri I Kotamobagu. Di dalamnya ada Asrama, yang telah lama menjadi rumah kedua bagi banyak anak gadis yang datang dengan mimpi dan pulang membawa kedewasaan.
Asrama itu tidak megah. Tidak memiliki pilar besar tetapi ia memiliki sesuatu yang jauh lebih berharga: kehangatan.
Bagi seorang santri yang menatap kembali ke masa itu, kehangatan itu punya nama. Ia bernama Umi, yang jalannya selalu pelan namun penuh perhatian. Dan Abi, ayah asrama yang suaranya mampu menenangkan bahkan di hari-hari paling sulit. (lahul fatehah)
Di dalam bangunan itu, di kamar 12, saya hidup bersama Lisa, Ma’ruf yang berasal dari Poigar Minahasa, Wanda Tumelap dari Nuangan Boltim, dan Tria Hajimala Bango Molunow. Gadis-gadis ini datang ke Bolaang Monfondow dan menjadi saudara dalam perjalanan hafalan.
Kamar itu tak begitu luas, tetapi selalu lengkap dengan tawa. Hafalan yang dikejar hingga malam, dan cerita-cerita kecil yang terus hidup dalam ingatan.
Asrama itu identik dengan hafalan. Subuh-subuh ketika udara masih menggigit kulit, suara ayat-ayat suci mulai terdengar dari sudut-sudut ruangan. Ada yang mengulang dengan suara lirih, ada yang berjuang menahan kantuk, ada pula yang tertawa ketika lidahnya terpeleset menyebut huruf. Namun satu hal selalu sama, semua saling menguatkan.
Di setiap langkah anak-anak, ada Umi yang memeriksa apakah semua anaknya makan dan tidur cukup. Ada Abi yang selalu siap menegur lembut atau sekadar bertanya bagaimana hafalan hari itu. Mereka bukan sekadar pembina asrama, mereka adalah ayah dan ibu yang diberikan Tuhan melalui cara yang berbeda.
Dari semua momen di asrama satu yang tak pernah hilang dan akan abadi dalam ingatan, adalah perayaan Desember yang punya cerita yang paling kuat menempel di hati.
Desember adalah bulan yang tidak sekadar datang sekali setahun. Ia datang kembali setiap kali kenangan itu dipanggil. Bulan itu dimulai dengan udara dingin dan langit yang sering muram, tetapi suasana di dalam asrama justru hangat, seolah paham bahwa akhir tahun adalah waktu untuk menjadi lebih lembut ketika libur panjang menyapa.

Desember adalah bulan ulang tahun Umi, dan secara tidak tertulis menjadi bulan perayaan untuk beberapa santri. Dulu, ada Kak Giska Gobel, kakak teladan yang sering menyelipkan nasihat tanpa pernah terdengar menggurui.
Ada pula Kak Dewi Rumambi, sosok kakak yang tegas tetapi hatinya lembut, selalu tahu kapan harus memarahi, kapan harus memeluk. Dan aku yang kala itu masih gadis belia, belum sepenuhnya mengerti bahwa momen-momen itu kelak akan menjadi harta paling berharga untuk disimpan.
Pada malam Desember yang selalu ada diingatan ketika melingkar di ruang tamu asrama. Lampunya kuning, suasananya akrab, dan aroma lauk pauk masih menggantung di udara, dengan suasana sinetron Cinta Suci kesukaan Wanda.
Di tengah lingkaran itu, ada sebuah kue sederhana tidak besar, tidak dihias rumit, tetapi indah karena maknanya.
Abi berdiri di depan kami senyumnya hangat seperti biasa. Umi berada di sampingnya, memegang piring-piring kecil. Seperti sebuah ritual yang diwariskan tahun demi tahun, lalu Kak Giska, Kak Dewi, juga aku dan Umi melingkar bersama. Dan di tengah lingkaran itu, slice pertama selalu diambil oleh Abi, bukan untuk dirinya sendiri, tapi untuk dibagikan.
Umi memotong kue itu perlahan, dengan teliti, seolah setiap irisan adalah doa tidak lupa diiringi bismillah. Tidak ada potongan besar atau kecil semua sama rata, karena bagi Abi dan Umi, semua anak asrama setara dalam kasih sayang.
Kue itu lalu dibagikan satu per satu. Mereka menerimanya dengan senyum, meski sering kali potongannya hanya seujung jari. Namun entah bagaimana, rasanya jauh lebih manis daripada kue apa pun yang pernah kami makan di luar asrama.
Di saat hal-hal manis itu, semua bertepuk tangan saling peluk sambil mengunyah kue itu pelan-pelan. Dan kami berempat saling memberi ucapan, rasanya manis sekali mengenang Desember kala itu: 2019.
Lahul fatihah untuk pembina Asrama Puteri 1 Man Kotamobagu, Umi Maryam Adam dan Abi Samsudin Samu, serta Selamat ulang tahun untuk Kak Giska Gobel, dan Kak Dewi Rumambi.


