Geischa Cicilia Mokoagow: Dari prestasi akademik hingga peran strategis sebagai agen perubahan

Editor: Redaktur
Geischa Cicilia Mokoagow. (Foto: Kolekksi Pribadi)

ZONAUTARA.com – Geischa Cicilia Mokoagow (23), perempuan asal Bungko, Kota Kotamobagu merupakan sosok pemuda yang konsisten menunjukkan prestasi, baik di bidang akademik maupun nonakademik. Ia yang sering disapa Cicit ini merupakan alumni PAI FITK IAIN Sultan Amai Gorontalo yang sekarang sedang menempuh pendidikan S2. Motivasi terbesarnya untuk terus berkembang berangkat dari kesadaran bahwa ia tidak akan selamanya berada bersama orang-orang di sekitarnya saat ini.

Keyakinan tersebut mendorong Geischa untuk mempersiapkan diri sebaik mungkin, membangun kapasitas, serta berani mengambil berbagai peluang pengembangan diri.

“Saya sadar bahwa suatu saat kita harus berdiri dengan kemampuan sendiri. Itu yang membuat saya terus berusaha dan tidak ingin berhenti belajar,” ujar Geischa Cicilia Mokoagow saat dihubungi Zonautara.com, Sabtu (7/2/2026).

Dari berbagai kegiatan dan ajang yang diikuti, pengalaman paling berkesan bagi Geischa adalah keikutsertaannya dalam program FPP. Selama 15 hari, ia terlibat langsung dalam berbagai aktivitas di lingkungan kementerian. Tidak hanya memperluas wawasan kebijakan, Geischa juga berbagi cerita, canda, serta pengetahuan bersama peserta lain, sekaligus mengeksplorasi budaya Jawa yang sebelumnya belum banyak ia kenal.

“Selama 15 hari itu kami belajar banyak hal, bukan hanya soal program, tetapi juga soal budaya dan kebersamaan. Pengalaman ini sangat berkesan karena saya tidak tahu apakah bisa terulang lagi,” tuturnya.




Menurutnya, pengalaman tersebut juga membentuk kemampuannya dalam menentukan skala prioritas, terutama dalam mengerjakan hal-hal yang paling mendesak dan berdampak. Prinsip tersebut kemudian ia terapkan dalam berbagai peran yang ia jalani, termasuk saat terlibat sebagai Duta Bahasa.

Bagi Cicit, menjadi seorang duta bukanlah sekadar menyandang gelar atau predikat pemenang. Lebih dari itu, menjadi duta adalah tentang bagaimana peran tersebut dapat dimanfaatkan untuk memberi dampak nyata bagi masyarakat.

“Menjadi duta itu bukan soal gelarnya, tetapi soal bagaimana kita bisa bermanfaat, bermakna, dan berguna untuk sesama,” ungkapnya.

Ia pun mengaku sangat bersyukur dapat bergabung sebagai Duta Bahasa. Melalui Duta Bahasa, khususnya di lingkungan Kantor Bahasa, Geischa difasilitasi untuk terlibat langsung dalam berbagai kegiatan literasi yang menyentuh masyarakat, terutama di Provinsi Gorontalo.

Namun, perjalanannya tidak selalu berjalan mulus. Saat mengikuti pemilihan Duta Kebahasaan, tantangan terberat yang ia hadapi adalah tes bahasa Inggris. Ia mengakui kemampuan bahasa Inggrisnya masih terbatas dan hingga kini masih terus berproses untuk memperbaikinya.

Tantangan tersebut semakin terasa ketika ia harus menghadapi penguji yang benar-benar menguji mental dengan penggunaan bahasa Inggris secara penuh.

“Bahasa Inggris masih menjadi kelemahan saya, dan itu saya akui. Tapi saya menjadikannya sebagai motivasi untuk terus belajar dan tidak menyerah,” katanya lagi.

Meski menghadapi keterbatasan tersebut, Geischa tetap mampu bertahan berkat capaian di aspek penilaian lainnya hingga berhasil lolos dan masuk dalam tiga besar.

Selain aktif di bidang kepemudaan, Cicit ini juga tercatat sebagai finalis salah satu ajang riset internasional. Dalam ajang tersebut tersebut, ia mengangkat topik “Pesantren dan Santri Gen Z Indonesia sebagai Aktor Baru Moderasi Beragama di Ruang Digital.” Topik ini dipilih karena ia melihat besarnya potensi santri Gen Z sebagai modal sosial yang kuat di Indonesia.

“Indonesia punya jutaan santri Gen Z. Dengan pemahaman keagamaan yang mereka miliki dan dukungan platform digital seperti YouTube, TikTok, dan Instagram, potensi ini sangat besar untuk menyebarkan konten moderasi beragama,” jelasnya.

Selain itu, ia juga menuturkan ruang digital saat ini dipenuhi oleh beragam informasi, termasuk konten hoaks. Oleh karena itu, santri Gen Z dinilai dapat menjadi aktor penting dalam menghadirkan narasi keagamaan yang sejuk, edukatif, dan bertanggung jawab.

“Daripada ruang digital dipenuhi konten yang tidak benar, mengapa tidak kita dorong santri yang sudah memiliki pemahaman untuk menjadi aktor penyebar pesan moderasi beragama,” tambahnya.

Pengalaman berharga lainnya ia peroleh di tingkat nasional, salah satunya melalui kesempatan mempresentasikan hasil riset secara langsung di hadapan dewan juri. Pengalaman tersebut menjadi momen penting dalam perjalanan akademiknya, sekaligus membuka jejaring dengan peserta dari berbagai daerah di Indonesia.

Adapun tujuan utama Cicit melakukan riset tersebut adalah mendorong masyarakat agar lebih kritis dalam mengonsumsi informasi, khususnya di ruang digital, sehingga tidak mudah terpengaruh oleh konten yang tidak benar atau hoaks.

Di luar aktivitas riset, ia juga aktif mengikuti Forum Pemuda Perubahan (FPP). Ia mengungkapkan bahwa dirinya sebenarnya telah lolos sejak tahun 2024, namun baru dapat mengikuti kegiatan tersebut pada tahun 2025 dengan konsep yang berbeda, yakni study visit ke berbagai lembaga.

Melalui Yayasan Formasita dalam program Ekspedisi Pulau Jawa, Geischa berkesempatan mempelajari budaya Pulau Jawa, mengunjungi lima kampus ternama di Indonesia, serta melakukan kunjungan ke sejumlah kementerian.

“Setelah kunjungan ke beberapa kementerian, saya jadi lebih paham terkait regulasi yang sebelumnya terasa masih mengambang bagi saya,” ujarnya.

Sebagai agen perubahan, Geischa juga mendapatkan pembelajaran berharga saat berkunjung ke Keraton Yogyakarta. Dari pengalaman tersebut, ia belajar tentang pentingnya menjaga adat istiadat dan nilai-nilai budaya di tengah gempuran era modern.

Penikmat kopi pinggiran, hobi membaca novel. Pecandu lagu-lagu Jason Ranti, pengikut setia Sapardi Djoko Damono, pecinta anime, terutama dari Gibli. Mampu menghabiskan 1000 lebih episode one piece dalam 8 bulan.
1 Comment

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com