ZONAUTARA.com – Pemerintah Filipina tengah menunggu tanggapan dari Amerika Serikat mengenai permintaan untuk meningkatkan impor minyak dari Rusia. Langkah ini merupakan bagian dari upaya Manila mengatasi krisis energi yang semakin mendesak. Menteri Energi Sharon Garin menjelaskan bahwa pemerintah telah berkomunikasi dengan otoritas di Washington guna memperoleh perpanjangan pengecualian embargo yang sebelumnya diberikan.
Pada Selasa (14/4), Garin mengatakan kepada wartawan di Manila, “Kami telah berkomunikasi dengan Departemen Luar Negeri (AS) untuk mendapatkan kesempatan lagi atau perpanjangan pencabutan embargo.” Ia menambahkan, pemerintah Filipina optimistis permintaan tersebut akan mendapat respons positif, mengingat kondisi darurat energi yang sedang dihadapi negara tersebut.
Washington sebelumnya memberikan pengecualian selama 30 hari bagi sejumlah negara untuk tetap melakukan pembelian minyak Rusia di tengah sanksi Barat terhadap Moskow akibat perang di Ukraina. Di tengah meningkatnya ketegangan global, termasuk konflik antara AS dan Iran, langkah ini memungkinkan negara-negara mengatasi gangguan pasokan energi.
Filipina adalah negara pertama yang menetapkan status darurat energi sebagai respons terhadap gangguan pasokan minyak global. Pada Maret lalu, Filipina tercatat membeli sekitar 2,48 juta barel minyak mentah dari Rusia. Ketergantungan negara ini terhadap impor energi juga tergolong tinggi, dengan sekitar 90 persen kebutuhan minyak dipasok dari kawasan Timur Tengah.
Untuk memenuhi kebutuhan energi, Filipina mengeluarkan hingga 16 miliar dolar AS sepanjang 2024 untuk impor minyak, setara sekitar Rp274 triliun. Angka ini mencerminkan tekanan besar yang dihadapi pemerintah dalam menjaga stabilitas energi sekaligus menekan dampak ekonomi dari lonjakan harga global.
Diolah dari laporan Media Indonesia.

