Nobar film “Pesta Babi” di Kotamobagu bangun kesadaran kritis soal tanah dan adat

Penulis: David Sumilat
Editor: Redaktur
Suasana hening dan tegang penonton saat menyaksikan film Pesta Babi di gedung UDK Kota Kotamobagu pada Sabtu (25/4/2026). (Foto: Dok Istimewa)

ZONAUTARA.com – Media Zonautara.com berkolaborasi dengan Universitas Dumoga Kotamobagu (UDK), bersama Monibi Institute menggelar nonton bareng (nobar) dan diskusi film “Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita” pada Sabtu (25/4/2026).

Kegiatan yang didukung Moisipun, Ampowplur, BMR Forum Hijau, KMPA Maleo, Singgolong Eksplorer, TP, hingga Pantau ini, dimulai pukul 20.00 WITA, di gedung aula UDK, Kota Kotamobagu, Sulawesi Utara.

Acara tersebut tidak hanya menghadirkan pemutaran film sebagai medium narasi visual, tetapi juga menjadi ruang dialog terbuka yang menghadirkan pemantik diskusi yakni Pemimpin Redaksi Zonautara.com Ronny Buol, Wakil Rektor III UDK Henratno Pasambuna, dan Pemerhati Budaya dari Monibi Institute Uwin Mokodongan.

Sementara itu, film “Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita” mengangkat perjuangan masyarakat Papua Selatan dalam menghadapi Proyek Strategis Nasional (PSN) berupa pengembangan biodiesel sawit dan bioetanol tebu. Dokumenter ini memotret dampak eksploitasi hutan dan tanah sebagai ruang hidup masyarakat adat, khususnya suku Marind, Yei, Awyu, dan Muyu.

Nobar film "Pesta Babi" di Kotamobagu bangun kesadaran kritis soal tanah dan adat
Pemimpin Redaksi Zonautara.com. Ronny Buol (kiri) memberikan argumennya dalam dialog terbuka usai penayangan film dokumenter Pesta Babi. (Foto: Zonautara.com/David Sumilat)

Peserta yang Membludak




Penginisiatif dari Zonautara.com sekaligus panitia kegiatan, Tri Deyna Cahyani, mengaku kaget dengan jumlah kehadiran peserta yang di luar ekspektasi.

“Jumlah yang hadir saat kegiatan melebihi dari total partisipan yang mendaftar secara online. Ini sebuah pencapaian yang luar biasa,” aku Deyna.

Ia mengatakan, kegiatan ini diharapkan menjadi ruang reflektif bagi masyarakat untuk membaca ulang realitas sosial yang terjadi saat ini.

Menurutnya, isu yang diangkat dalam film memiliki relevansi kuat dengan berbagai persoalan sosial kontemporer, terutama konflik agraria dan keberadaan masyarakat adat.

“Kami ingin kegiatan ini menjadi ruang bersama untuk memahami bagaimana kolonialisme bertransformasi dalam kehidupan hari ini. Harapannya, muncul kesadaran kolektif yang lebih kritis serta keberpihakan terhadap masyarakat yang terdampak,” ujarnya.

Nobar film "Pesta Babi" di Kotamobagu bangun kesadaran kritis soal tanah dan adat
Membludaknya jumlah peserta nobar dan diskusi film dokumenter Pesta Babi di gedung UDK Kotamobagu, pada Sabtu (25/4/2026). (Foto: Zonautara.com/David Sumilat)

Dialog dan Respon Usai Menonton

Dalam sesi diskusi dan dialog terbuka usai pemutaran film, Wakil Rektor III UDK Henratno Pasambuna memberikan penilaian tentang sosial kemasyarakatan dan realita yang terjadi saat ini.

“Sampai hari ini, kehidupan bermasyarakat toh hanya berputar pada satu poros yang sama yang menurut saya bahkan tidak terjadi perubahan yang signifikan,” ucap Pasambuna.

Pemerhati Budaya dari Monibi Institute, Uwin Mokodongan berargumen bahwa ada kekhawatiran yang terjadi saat ini di Tanah Totabuan, bahwa adanya pengakuan tidak adanya masyarakat adat di Kotamobagu.

“Ironisnya, yang membuat berita acara bahwa tidak adanya masyarakat adat itu adalah tokoh adat itu sendiri,” bebernya.

Di sisi lain, Pemred Zonautara.com, Ronny Buol menyoroti salah satu adegan di akhir film tentang ritual yang dilakukan masyarakat adat merupakan suatu bentuk perlawanan.

Nobar film "Pesta Babi" di Kotamobagu bangun kesadaran kritis soal tanah dan adat
Suasana dialog terbuka usai nonton bareng film dokumenter Pesta Babi di gedung UDK Kotamobagu. (Foto: Zonautara/David Sumilat)

“Tetapi apa yang dilakukan oleh masyarakat dengan melakukan Pesta Babi, itu adalah pemaknaan bahwa mereka melawan. Cara melawannya adalah bukan turun ke jalan ambil batu lempar gedung DPR. Tetapi mempertahankan tadi, tradisi. Mempertahankan identitas mereka,” tegas Ronny.

Sementara itu, Deany Taufya Pontoh, Komunitas Literasi Moisipun, merespon film dokumenter karya Dhandy Laksoni itu, berpendapat bahwa sejak detik pertama film diputar, yang terlintas dibenaknya adalah film ini bukan sebuah karya yang ‘cantik’ untuk dinikmati, dan memang begitulah seharusnya kebenaran ditampilkan.

“Film ini hadir sebagai (sebuah) satir yang mengoyak kenyamanan kita, menunjukkan wajah pembangunan yang sering kali lebih menyerupai penggusuran paksa daripada kemajuan,” ungkapnya.

Menurutnya, yang disaksikan di Papua Selatan adalah contoh nyata di mana rakyat dijadikan objek, bukan subjek dalam ruang hidup mereka sendiri.

“Kegelisahan terbesar kami adalah bagaimana memastikan kritik melalui medium film ini benar-benar sampai ke meja pengambil kebijakan dan memicu perubahan. Kami tidak ingin karya ini hanya berakhir sebagai hiburan bagi mereka yang dikritik, atau sekadar menjadi bahan diskusi di ruang-ruang ber-AC tanpa dampak,” kata Deany.

Follow:
Pewarta yang menggeluti jurnalisme data, lingkungan, dan lainnya, telah menjelajahi berbagai aspek jurnalistik selama lebih dari 10 tahun.
Leave a Comment

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com