ZONAUTARA.com – Indonesia meraih posisi kedua dalam hal ketahanan energi di skala global, menurut laporan JP Morgan yang memetakan 52 negara konsumen energi terbesar dunia. Laporan bertajuk “Pandora’s Bog: the global energy shock of 2026” ini mengungkapkan bahwa Indonesia menjadi yang terbaik kedua setelah Afrika Selatan di tengah situasi geopolitik yang tidak menentu.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, menilai pencapaian ini sebagai hasil dari diversifikasi sumber energi dalam negeri. Menurutnya, optimalisasi kekayaan alam lokal seperti batu bara dan minyak sawit telah memperkuat fondasi energi Indonesia.
“Sekalipun dalam kondisi ekonomi, dalam kondisi geopolitik yang seperti sekarang, JP Morgan mengeluarkan data dia yang dikutip oleh beberapa media, bahwa dari 52 negara yang disurvei, Indonesia menempatkan urutan kedua setelah Afrika Selatan sebagai negara ketahanan energi terbaik,” ujarnya dalam acara Sinergi Alumni IPB Untuk Bangsa, dikutip Senin (4/5/2026).
Pemerintah memutuskan untuk mempertahankan penggunaan batu bara karena ketersediaannya yang melimpah, yang menjaga harga listrik tetap stabil. Menteri Bahlil menambahkan bahwa cadangan batu bara menjadi tameng penting agar masyarakat tidak terbebani harga listrik yang tinggi.
“Kita itu punya cadangan batu bara yang luar biasa lho. Saya putuskan saya bilang batu bara jalan aja dulu. Ini bicara tentang survival mode. Kita bicara tentang efisiensi. Jangan kita korbankan rakyat kita dengan harga listrik yang besar,” jelasnya.
Indonesia juga mencatatkan kemajuan dalam sektor Bahan Bakar Minyak (BBM) dengan menghentikan impor Solar pada tahun 2026, berkat implementasi biodiesel B50 serta proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan. Program bahan bakar nabati E20 juga sedang dipersiapkan untuk mengurangi impor bensin nasional.
“Untuk Solar, dalam sejarah bangsa kita di 2026 alhamdulillah tidak kita lakukan lagi impor Solar karena semua sudah dalam negeri. Biodiesel dari roadmap B10 sampai dengan sekarang B40 dan di bulan Juli besok menjadi B50 itu adalah cara untuk mengkonversi substitusi impor kita,” imbuhnya.
Menteri Bahlil Lahadalia menyatakan bahwa langkah-langkah ini memungkinkan Indonesia untuk mengurangi ketergantungan impor energi, bahkan dari negara-negara di Timur Tengah.
Diolah dari laporan CNBC Indonesia.

