ZONAUTARA.com – Sejarawan dan anggota Komisi X DPR, Bonnie Triyana, mengemukakan bahwa kolonialisme telah meninggalkan mental feodalisme yang digunakan sebagai alat kontrol oleh penguasa terhadap rakyat yang masih berlangsung hingga saat ini. Pernyataan ini disampaikannya dalam diskusi memperingati akhir Perang Dunia II di Amsterdam, Belanda, pada Senin (4/5). Diskusi tersebut diadakan oleh Omroep ZWART dan OBA Next Lab, yang merupakan lembaga di bawah perpustakaan umum di Amsterdam.
“Kolonialisme Belanda merawat feodalisme sebagai cara mengontrol rakyat dan sumber kekayaan alam,” ujar Bonnie dalam keterangannya pada Selasa (5/5). Ia menambahkan, kongsi dagang VOC pada masa itu menciptakan hubungan patron klien antara rakyat dan elit.
Bonnie memberikan contoh kasus Soewardi Suryaningrat, yang dikenal sebagai Ki Hadjar Dewantara, yang diasingkan ke Belanda akibat kritiknya terhadap pemerintah kolonial. “Kebebasan bicara pada era kolonial adalah kemewahan yang tak mungkin diperoleh oleh rakyat. Kritik pada era kolonial menjadi tindakan kepahlawanan,” tuturnya.
Bonnie juga menyoroti perspektif Belanda yang menganggap era VOC sebagai masa kejayaan, padahal menurutnya, tindakan VOC di Indonesia sarat dengan kekerasan dan eksploitasi. Meski kolonialisme berakhir, ia menilai mentalitas diskriminatif dan eksploitatif tetap ada hingga kini.
“Kolonialisme memang sudah berakhir usai Perang Dunia Kedua, namun kolonialitas sebagai mentalitas yang tetap melanggengkan hubungan masyarakat yang diskriminatif, eksploitatif, dan rasialistis masih tetap berlangsung sampai hari ini,” ujar Bonnie. Ia menyerukan agar Belanda sepakat untuk meluruskan sejarah, terutama pada periode 1945-1949, agar pembelajaran sejarah terlepas dari belenggu masa lalu.
Diolah dari laporan CNN Indonesia.

