ZONAUTARA.com – Dunia saat ini menghadapi krisis energi paling serius dalam sejarah akibat konflik di Timur Tengah, demikian diungkapkan oleh pejabat Komisi Eropa pada Selasa, 5 Mei 2025. “Dunia menghadapi apa yang bisa disebut sebagai krisis energi terparah yang pernah ada — salah satu yang menguji ketahanan ekonomi, masyarakat, dan kemitraan kita,” ujar Dan Jorgensen, Komisaris Eropa untuk Energi dan Perumahan, dalam konferensi pers di Brussels, Belgia.
Mantan menteri pertanian Denmark itu melaporkan bahwa negara-negara Uni Eropa telah mengeluarkan dana sebesar 30 miliar euro, atau sekitar Rp611 triliun, untuk impor bahan bakar minyak sejak awal konflik di Timur Tengah. Namun, dana tersebut belum memperbaiki situasi pasokan energi.
Sejak 13 April, Angkatan Laut Amerika Serikat telah memblokade lalu lintas maritim yang berkaitan dengan pelabuhan Iran di Selat Hormuz. Selat ini memainkan peran penting dalam perdagangan energi global karena menyumbang sekitar 20 persen pasokan minyak, produk minyak, dan gas alam cair (LNG) dunia.
Pemerintah Amerika Serikat mengumumkan bahwa kapal non-Iran bisa tetap melintas di Selat Hormuz asalkan tidak membayar pungutan kepada Teheran. Langkah ini diambil sebagai upaya mengurangi pengaruh Iran terhadap rute perdagangan energi vital tersebut.
Diolah dari laporan Antara.

