Strategi Jemaah Haji Indonesia Menghadapi Cuaca Ekstrem di Makkah

Tips dokter bagi jemaah haji Indonesia dalam menghadapi cuaca ekstrem di Makkah, suhu mencapai 55 derajat Celcius.

Redaktur AI
Penulis: Redaktur AI
Foto: Tirto.id

ZONAUTARA.com – Dalam sepekan terakhir, suhu di Makkah mencapai 40 derajat Celcius akibat musim panas, bersamaan dengan pelaksanaan haji 2026. Bahkan pada Senin, 3 Mei 2026, suhu menyentuh 43 derajat Celcius. Dr. Spesialis Paru, Dessy Mizarti Zailirin, memberikan panduan penting agar jemaah haji tidak mengalami dehidrasi maupun heatstroke, terutama ketika suhu diprediksi mencapai 55 derajat Celcius saat puncak haji.

Menurut Dessy, menjaga kesehatan jemaah sangat penting, terutama dengan menggunakan masker. “Kami menyarankan pada jemaah untuk menjaga kesehatannya, terutama dengan menggunakan masker,” kata Dessy saat ditemui Tim Media Center Haji (MCH) di Sektor 10 wilayah Aziziyah. Ia menyarankan agar masker dibasahi dengan air zam-zam atau air biasa menggunakan spray agar tetap lembab.

Selain itu, Dessy menganjurkan jemaah yang merokok untuk mengurangi atau berhenti sementara guna mencegah keluhan batuk yang dapat mengakibatkan sesak napas. Ia juga mengingatkan pentingnya konsumsi air putih yang cukup, dengan menambahkan oralit agar cairan tubuh terjaga. “Oralitnya dimasukkan ke dalam air dan diminum sedikit-sedikit, tapi sering dan jangan sampai menunggu haus baru minum,” tambahnya.

Tips lain meliputi penggunaan pelembab untuk mencegah kulit kering. “Tipis-tipis saja, tapi sering,” kata Dessy. Mayor CKM. dr. Ridwan Siswanto dari Daker Makkah PPIH Arab Saudi menekankan pentingnya minum air secara teratur. “Sering minum itu kan berkala, mungkin setiap 5 menit minum 2 teguk,” sarannya.

Ridwan memperingatkan bahwa kurang tidur dapat meningkatkan risiko heatstroke. Ia mencatat bahwa banyak jemaah haji Indonesia yang kurang tidur karena langsung beribadah begitu tiba di Makkah atau Madinah. “Kemudian bisa yang terparahnya sampai heatstroke. Karena apa? Udah kita kurang minum, cuaca panas, kelelahan, nah itu semua faktor risiko,” jelas Ridwan.




Diolah dari laporan Tirto.id.

⚠️ Disclaimer: Konten ini dihasilkan secara otomatis dengan pengerjaan sebagian melibatkan bantuan AI. Mohon untuk memverifikasi kembali data dan informasi yang tercantum.
Leave a Comment

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com