ZONAUTARA.com – Perang yang tengah berlangsung antara Amerika Serikat dan Iran, kini memasuki bulan ketiga, dipandang oleh China sebagai “laboratorium” militer penting. Beijing mengamati bagaimana serangan drone murah Iran dan senjata presisi canggih AS bekerja dalam kondisi perang modern.
Para analis dari China, Taiwan, dan negara lainnya berpendapat bahwa konflik di sekitar Teluk Persia ini dapat memberikan wawasan signifikan terkait potensi konflik di masa depan antara AS dan China, terutama terkait Taiwan. Meskipun demikian, mereka juga mengingatkan risiko China jika terlalu fokus pada keberhasilan teknologi saja, tanpa memahami dinamika perang secara keseluruhan.
Mengutip analisis CNN Indonesia, konflik ini mengungkapkan bahwa dalam peperangan modern, kemampuan beradaptasi dan ketahanan sama pentingnya dengan kecanggihan senjata. Mantan kolonel Angkatan Udara China, Fu Qianshao, menyoroti pentingnya memperkuat pertahanan dalam negeri, menyusul keberhasilan Iran dalam menemukan celah terhadap sistem pertahanan udara AS.
“Kita perlu mencurahkan upaya signifikan untuk mengidentifikasi kelemahan di sisi pertahanan kita guna memastikan kita tetap tak terkalahkan dalam perang di masa depan,” kata Fu.
China telah mengembangkan kemampuan ofensifnya secara pesat dalam beberapa tahun terakhir, menambah rudal hipersonik dan mempercepat produksi jet tempur siluman generasi kelima J-20. Namun, kemampuan pertahanan China masih menjadi pertanyaan, terutama setelah Iran menunjukkan efikasi teknologi sederhana seperti drone murah dalam menembus sistem pertahanan udara AS.
Isu Taiwan tetap menjadi fokus besar bagi China dalam pelajaran dari perang ini. China melihat titik konflik potensial ini dengan Amerika Serikat dan berupaya mengintegrasikan kemampuan perang presisi berteknologi tinggi seperti yang dimiliki Amerika Serikat.
Diolah dari laporan CNBC Indonesia.

