Connect with us

Zona Sulut

Data Kesbangpol, Ratusan Ormas di Sulut ilegal

Published

on

zonautara.com

MANADO, ZONAUTARA.com – Kepala Kesbangpol Sulawesi Utara, Mecky Onibala menyampaikan data jumlah organisasi massa (Ormas) di Sulawesi Utara dalam rapat kerja bersama Komisi I bidang Pemerintahan dan Hukum, Selasa (29/1/2019).

Pada rapat yang dipimpin oleh Ketua Komisi I, Drs Ferdinand Mewengkang tersebut, Onibala mengatakan ada ratusan Ormas tanpa izin alias ilegal yang beroperasi di Sulut hingga tahun 2019.

“Masih terdapat ratusan Ormas ilegal di Sulut. Namun mereka aktif berkegiatan,” ungkap dia.

Menurutnya, meski demikian, Ormas-ormas tak resmi itu masih bisa diawasi dan dikendalikan oleh Pemerintah.

“Contohnya, saat hendak melakukan aksi demo dan dilarang, mereka patuh dan mengikuti himbauan pemerintah,” kata Onibala lagi.

Terkait penyampaian Kepala Kesbangpol tersebut, Ketua Komisi I DPRD Sulut Ferdinand Mewengkang berharap agar Ormas yang masuk daftar ilegal atau belum mempunyai izin agar segera bisa melengkapi persyaratan.

“DPR mendorong agar Ormas yang berstatus ilegal dapat mengurus persyaratan sesuai ketentuan,” kata Mewengkang.

Sebagaimana data yang ada di Badan Kesatuan Bangsa dan Politik tercatat ada 104 Ormas yang beroperasi tanpa izin alias Ilegal. (K-02)

Zona Sulut

GMIM sepakat ambil bagian dalam upaya pelestarian satwa liar dilindungi

GMIM bisa berperan lewat seruan saat khotbah.

Published

on

Foto bersama usai penandatanganan MOU. (YSYSI)

TOMOHON, ZONAUTARA.com – Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM) menandatangani kesepakatan dengan Yayasan Selamatkan Yaki Indonesia (YSYI) tentang upaya pelestarian satwa liar dilindungi.

Penandatanganan dokumen kesepakatan itu dilakukan, Kamis 13 Juni 2019 di Kantor Sinode GMIM, Tomohon. Ikut hadir Ketua Sinode GMIM, Hein Arina yang didampangi Sekretaris Sinode GMIM Evert Andri Alfonsius Tangel, Ketua YSYI Yunita Siwi dan Duta Yaki Indonesia, Khouni Lomban Rawung.

YSYI memandang pentingnya peran gereja dalam upaya mengubah pola pikir masyarakat terkait dengan konsumsi dan perdagangan satwa liar yang ada di Sulawesi utara.

“Penurunan populasi satwa liar semakin hari semakin memprihatinkan. Tantangan konservasi di Sulut sangatlah beragam. Untuk itu perlu adanya kerjasama dari semua pihak untuk menyelamatkan keanekaragaman hayati dari ancaman kepunahan. GMIM adalah salah satu pemegang kunci keberhasilan konservasi di Sulut,” jelas Yunita.

Keterlibatan Gereja diharapkan akan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap satwa liar Sulawesi yang endemik, dilindungi dan hampir punah.

“Tujuan dari kerjasama ini adalah meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya melestarikan keanekaragaman hayati yang merupakan ciptaan Tuhan, lewat khotbah dan kegiatan konservasi. Gereja telah mendapatkan mandat untuk mengelola, mengusahakan dan memelihara bumi sejak Adam dan Hawa ditempatkan di Taman Eden,” tambah Yunita.

Khouni Lomban Rawung, sebagai Duta Yaki Indonesia, mendorong baik GMIM maupun YSYI bersama-sama tidak lelah dalam menjaga lingkungan, mulai dari penanganan sampah plastik hingga persoalan konsumsi satwa liar yang dilindungi.

Sementara itu, Hein Arina menyambut baik kerjasama ini dan berharap dapat mendukung program lingkungan lainnya seperti pengurangan sampah plastik.

“Kami akan mengeluarkan himbauan untuk tidak mengonsumsi satwa liar dilindungi dalam perayaan hari-hari besar gereja,” kata Arina.

Disaat yang sama diserahkan tumbler dari YSYI dan kantong belanja ramah lingkungan yang terbuat dari jaring asli buatan Kota Bitung dari Duta yaki Indonesia Khouni Lomban Rawung untuk Badan Pekerja Majelis Sinode GMIM, sebagai komitmen untuk mengurangi penggunaan plastik. (**)

Editor: Ronny Adolof Buol

Continue Reading

DATA KITA

Advertisement
Advertisement

Trending

WP2FB Auto Publish Powered By : XYZScripts.com