Connect with us

HEADLINE

Selisih 11,8 persen, Jokowi-Amin diprediksi menang

Published

on

zonautara.com

ZONAUTARA.com – Lembaga Litbang Kompas baru saja merilis hasil survei elektabilitas pasangan calon presiden dan calon wakil presiden jelang pemungutan suara 17 April mendatang.

Hasil survei terbaru Kompas yang dilakukan pada akhir Februari hinggal awal Maret 2019 itu, menyebutkan elektabilitas Joko Widodo-Ma’ruf Amin unggul di kisaran 49,2 persen dari elektabilitas Prabowo Subianto-Sandiaga Uno yang berada di angka 37,4 persen.

Elektabilitas kedua pasangan ini berselisih 11,8 persen, dengan 13,4 persen responden yang disurvei menyatakan belum menentukan pilihan.

Survei dilakukan di 34 provinsi yang melibatkan 2.000 responden yang diambil secara acak dan terdistribusi ke 500 desa dan kelurahan. Litbang Kompas menggunakan teknik pencuplikan sistematis bertingkat dengan tingkat kepercayaan 95 persen, margin of error sebesar 2,2 persen.

Survei Litbang Kompas selalu mendekati hasil akhir dan dalam beberapa survei selisihnya hanya tipis sekali. Pada 21 Juni 2014 Kompas merilis survei elektabilitas pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa dan Joko Widodo-Jusuf Kalla.

Saat itu, hasil survei Kompas menyebut elektabilitas Prabowo-Hatta berada di kisaran 43 persen – 47 persen, dan pasangan Jokowi-Kalla pada angka 52 persen-56 persen.

Hasil resmi Pilpres 2014 sesuai keputusan KPU waktu itu Jokowi-Kalla menang dengan angka 53,15 persen dan Prabowo-Hatta kalah dengan 46,85 persen. Angka itu berada dalam kisaran survei Litbang Kompas.

Jokowi-Amin menurun

Elektabilitas Jokowi-Amin dari survei terbaru Litbang Kompas itu menurun jika dibandingkan hasil survei enam bulan yang lalu. Waktu itu Jokowi-Amin meraih elektabilitas 52,6 persen dan Prabowo-Sandi 32,7 persen.

Ada penurunan sebesar 3,4 persen pada pasangan Jokowi-Amin dan ada kenaikan 4,7 persen pada pasangan Prabowo-Sandi.

Selama enam bulan, angka elektabilitas hasil ekstrapolasi menunjukkan penurunan 4,9 persen untuk Jokowi-Amin dan kenaikan 4,9 persen untuk Prabowo-Sandi.

Dengan kata lain, elektabilitas Jokowi-Amin turun 0,82 persen tiap bulan. Kalau laju penurunan ini konstan, diprediksi potensi akhir perolehan Jokowi-Amin akan berkurang menjadi 56 persen saat pemungutan suara bulan depan.

Dengan margin of error 2,2 persen, perolehan suara Jokowi-Amin bisa berkisar 53,8-58,2 persen. Sebaliknya, perolehan Prabowo-Sandi menuju kisaran 41,8-46,2 persen.

Infografis: Litbang Kompas

Isu yang berpengaruh

Penurunan elektabilitas Jokowi-Amin bisa disebabkan beberapa hal, seperti perubahan pandangan atas kinerja pemerintahan, berubahnya arah dukungan kalangan menengah atas, membesarnya pemilih ragu pada kelompok bawah, dan persoalan militansi pendukung yang berpengaruh pada penguasaan wilayah.

Sebulan menjelang pemungutan suara muncul pandangan-pandangan yang makin kritis terhadap hasil kerja pemerintahan. Meski tingkat kepuasan masyarakat berada di angka cukup tinggi, yakni 58,8 persen menyatakan puas, turun signifikan dibanding tahun lalu yang mencapai 72,2 persen.

Penurunan kepuasan masyarakat terhadap kinerja bidang politik-keamanan, hukum, dan sosial mengindikasikan sulitnya pemerintah menahan serangan terhadap tiga sektor itu.

Di sektor ekonomi kepercayaan masyarakat stabil dan menunjukkan sejauh ini pemerintah masih bisa mengimbangi sorotan negatif di bidang ini.

Penurunan elektabilitas Jokowi-Amin juga terjadi karena perubahan dukungan di sejumlah aspek demografis enam bulan terakhir.

Dari segi usia, perpindahan pilihan terjadi pada generasi tua (53-71 tahun) dan generasi milenial matang (31-40 tahun). Generasi tua atau generasi baby boomers sebelumnya 58,1 persen mendukung Jokowi-Amin, tetapi kini turun menjadi 48,9 persen.

Pada generasi milenial matang, elektabilitas turun 9,1 persen. Proporsi kedua generasi itu 48 persen dari total pemilih Jokowi-Amin sehingga cukup memengaruhi elektabilitas.

Pasangan Jokowi-Amin juga menghadapi persoalan militansi pendukung yang sejauh ini lebih lemah dibandingkan pendukung Prabowo-Sandi.

Militansi yang cukup tinggi pada pendukung Prabowo-Sandi tampak berpengaruh secara geografis pada melebarnya dukungan bagi pasangan itu.

Di Jakarta, semula elektabilitas Prabowo-Sandi hanya unggul 4,2 persen dari Jokowi-Amin, tetapi kini selisih itu melebar menjadi 11,2 persen. Di Sumatera, selisih elektabilitas dua kandidat juga makin lebar, dari 2,4 persen untuk keunggulan Prabowo-Sandi kini menjadi 13,5 persen.

Sebaliknya, di wilayah yang semula didominasi Jokowi-Amin, kini selisih keunggulan kian sempit. Di Jateng dan DIY, selisih elektabilitas yang semula 62,8 persen untuk keungulan Jokowi-Amin kini menyempit menjadi 43,2 persen. Di Jatim, selisih keunggulan Jokowi-Amin juga turun dari 50,8 persen menjadi 29,3 persen.

Advertisement
1 Comment

1 Comment

  1. Pingback: Elektabilitas Jokowi-Amin turun, ini penyebabnya - Zona Utara

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

EDITOR'S PICK

Lagi, Kejari Tomohon tahan tersangka kasus PD Pasar

Published

on

Tersangka saat akan dibawa ke Rutan Manado. (Foto: Istimewa)

TOMOHON, ZONAUTARA.comSatu lagi tersangka kasus dugaan korupsi di Permukaan Daerah (PD) Pasar Kota Tomohon ditahan Kejaksaan Negeri (Kejari) Tomohon, Senin (15/7/2019).

Setelah dua lainnya, yakni HK alias Hof dan RN alias Rep yang keduanya merupakan mantan pejabat di PD Pasar, kini giliran mantan Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Utama (Dirut) PD Pasar, yakni TP yang ditahan korps Adhyaksa ini.

Tersangka TP yang saat ini menjabat sebagai Staf Ahli Wali Kota Tomohon ditahan karena diduga melakukan tindak pidana korupsi dana PD Pasar Tomohon.

Kepala Kejari (Kajari) Tomohon Edy Winarko melalui Kepala Seksi (Kasi) Intelijen Wilke H Rabeta mengatakan, pihaknya melakukan penahanan terhadap tersangka TP setelah pihaknya mendapatkan bukti permulaan yang cukup atas kasus tersebut.

“Seperti dua tersangka sebelumnya yang sudah kami tahan, tersangka TP juga dalam proses tahap II atau penyerahan tersangka dan barang bukti saat ini juga ditahan berdasarkan Surat Perintah Penahanan Nomor : PRINT-11/R.1.15/Ft.1/07/2019,” ujar Wilke didampingi Kasi Pidana Khusus (Pidsus) Arthur Piri.

Menurut dia, tersangka TP ditahan selama 20 hari ke depan di Rumah Tahanan Klas IIA (Rutan) Malendeng, Manado.

Dia menjelaskan, tersangka TP diduga telah melakukan peminjaman terhadap dana di kas Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) tersebut.

“Tersangka pada tahun anggaran 2016, diduga melakukan peminjaman terhadap dana di kas PD Pasar Tomohon sebesar Rp175 juta, yang digunakan untuk kepentingan pribadi yang kemudian menimbulkan kerugian negara,” jelasnya.

Tersangka pun dijerat dengan Pasal Primair Pasal 2 ayat (1) dan subsider Pasal 3 juncto Pasal 18 Undang-Undang (UU) RI Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dan ditambah dengan UU RI Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

“Pasal 2 ancaman hukumannya minimal empat tahun dan maksimal 20 tahun dan untuk Pasal 3 minimal 1 tahun dan maksimal 20 tahun,” ujarnya.

Dia menambahkan, dari ketiga tersangka yang terjerat kasus tersebut, hanya tersangka TP yang sudah mengembalikan kerugian negara.

“Tersangka TP sudah mengembalikan kerugian pada tahap penyidikan sebesar Rp175 juta. Namun, berdasarkan Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 Pasal 4 yang menyatakan, bahwa pengembalian kerugian negara tidak menghapuskan perbuatan tindak pidana,” pungkasnya.

Editor : Rahadih Gedoan

Continue Reading

DATA KITA

Advertisement
Advertisement

Trending

WP2FB Auto Publish Powered By : XYZScripts.com