Connect with us

Zona Sulut

Pemudik dari Pelabuhan Manado naik 12,9 persen

Tujuan pemudik ke Nusa Utara dan Maluku Utara.

Published

on

Pelabuhan Manado. (Foto: zonautara.com/Ronny Adolof Buol)

MANADO, ZONAUTARA.com – Jumlah penumpang yang tercatat meninggalkan Pelabuhan Manado hingga Minggu (2/6/2019) sebanyak 16.671 orang. Jumlah itu naik 12,9 persen jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu (H-15 hingga H-3 Lebaran).

Pada periode yang sama tahun lalu, penumpang yang diberangkatkan sebanyak 14.758 orang.

Ada sebanyak 67 kapal motor yang memberangkatkan penumpang arus mudik dari Pelabuhan Manado menuju ke berbagai tujuan di Nusa Utara dan Maluku Utara. Sebanyak tiga kapal dicadangkan.

“Jumlah penumpang setiap hari tidak selalu naik, cenderung fluktuatif dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Selain itu, Lebaran di Manado kan tidak dirayakan sebesar Natal dan Tahun Baru,” kata kepala seksi Status Hukum dan Sertifikasi Kapal Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Manado, Majumi Maumaja, Senin (3/6) dikutip dari Kompas.id.

Menurut Majumi, puncak arus mudik telah berlalu, pada Jumat (31/5) bertepatan dengan dimulainya libur panjang terutama bagi anak sekolah. Pada hari itu tercatat ada 2.151 penumpang kapal.

Majumi meyakinkan bahwa pihak KSOP Manado telah memastikan semua kapal yang diberangkatkan laik beroperasi.

Destinasi mudik yang paling banyak dituju masyarakat dari Manado, adalah Kabupaten Kepulauan Sangihe. Setiap hari, ada dua sampai tiga kapal yang berangkat menuju Tahuna di Kepulauan Sangihe seperti Kapal Motor (KM) Metro Teratai, KM Mercy Teratai, dan KM Barcelona 1.
Beberapa kapal seperti KM Saint Mary juga berhenti di Siau, Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro).

Kapal menuju Kabupaten Sitaro juga berlayar setiap hari. Tersedia tujuh kapal dari berbagai perusahaan pelayaran yang melayani jalur ini.
Adapun dua kapal melayani perjalanan menuju Kabupaten Kepulauan Talaud setiap hari Senin, Rabu, dan Jumat.

Sementara transportasi laut menuju Ternate, Maluku Utara, via Sanana dan Jailolo dilayani lima kapal yang berlayar setiap hari kecuali Rabu dan Minggu. KM Karya Indah, misalnya, hanya berlayar ke Ternate sekali dalam seminggu, yaitu pada hari Kamis.

Sementara itu, total 12.069 penumpang dari sejumlah kabupaten kepulauan di Sulut dan Maluku Utara telah tiba di Manado sejak H-15 hingga H-3 Lebaran. Jumlah ini meningkat dibandingkan periode sama tahun lalu sebanyak 11.596 penumpang.

Editor: Ronny Adolof Buol

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Zona Sulut

GMIM sepakat ambil bagian dalam upaya pelestarian satwa liar dilindungi

GMIM bisa berperan lewat seruan saat khotbah.

Published

on

Foto bersama usai penandatanganan MOU. (YSYSI)

TOMOHON, ZONAUTARA.com – Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM) menandatangani kesepakatan dengan Yayasan Selamatkan Yaki Indonesia (YSYI) tentang upaya pelestarian satwa liar dilindungi.

Penandatanganan dokumen kesepakatan itu dilakukan, Kamis 13 Juni 2019 di Kantor Sinode GMIM, Tomohon. Ikut hadir Ketua Sinode GMIM, Hein Arina yang didampangi Sekretaris Sinode GMIM Evert Andri Alfonsius Tangel, Ketua YSYI Yunita Siwi dan Duta Yaki Indonesia, Khouni Lomban Rawung.

YSYI memandang pentingnya peran gereja dalam upaya mengubah pola pikir masyarakat terkait dengan konsumsi dan perdagangan satwa liar yang ada di Sulawesi utara.

“Penurunan populasi satwa liar semakin hari semakin memprihatinkan. Tantangan konservasi di Sulut sangatlah beragam. Untuk itu perlu adanya kerjasama dari semua pihak untuk menyelamatkan keanekaragaman hayati dari ancaman kepunahan. GMIM adalah salah satu pemegang kunci keberhasilan konservasi di Sulut,” jelas Yunita.

Keterlibatan Gereja diharapkan akan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap satwa liar Sulawesi yang endemik, dilindungi dan hampir punah.

“Tujuan dari kerjasama ini adalah meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya melestarikan keanekaragaman hayati yang merupakan ciptaan Tuhan, lewat khotbah dan kegiatan konservasi. Gereja telah mendapatkan mandat untuk mengelola, mengusahakan dan memelihara bumi sejak Adam dan Hawa ditempatkan di Taman Eden,” tambah Yunita.

Khouni Lomban Rawung, sebagai Duta Yaki Indonesia, mendorong baik GMIM maupun YSYI bersama-sama tidak lelah dalam menjaga lingkungan, mulai dari penanganan sampah plastik hingga persoalan konsumsi satwa liar yang dilindungi.

Sementara itu, Hein Arina menyambut baik kerjasama ini dan berharap dapat mendukung program lingkungan lainnya seperti pengurangan sampah plastik.

“Kami akan mengeluarkan himbauan untuk tidak mengonsumsi satwa liar dilindungi dalam perayaan hari-hari besar gereja,” kata Arina.

Disaat yang sama diserahkan tumbler dari YSYI dan kantong belanja ramah lingkungan yang terbuat dari jaring asli buatan Kota Bitung dari Duta yaki Indonesia Khouni Lomban Rawung untuk Badan Pekerja Majelis Sinode GMIM, sebagai komitmen untuk mengurangi penggunaan plastik. (**)

Editor: Ronny Adolof Buol

Continue Reading

DATA KITA

Advertisement
Advertisement

Trending

WP2FB Auto Publish Powered By : XYZScripts.com