Connect with us

Lingkungan dan Konservasi

Waspadai kebakaran hutan, monitor peta ini

Seiring dengan datangnya musim kemarau.

Bagikan !

Published

on

Relawan asing membantu memadamkan api sewaktu kebakaran lahan di pulau Bangka pada 2015 lalu. (Foto: Zonautara.com/Ronny A. Buol)

ZONAUTARA.com – Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo, mengingatkan warga yang tinggal di wilayah rawan untuk mewaspadai kebakaran hutan.

Menurut perkiraan kebakaran hutan dan lahan akan meningkat pada Juli 2019 nanti.

Selama 2018, setidaknya ada 500 ribu hektar luas kebakaran hutan dan lahan. Angka itu naik dua kali lipat jika dibandingkan 165 hektar yang terbakar pada tahun 2017.

Meski ada penurunan secara signifikan jika dibandingkan kebakaran hutan dan lahan pada 2015 yang mencapai 2,61 juta hektar, namun Doni berharap sinergitas semua pihak terjalin.

Perkiraan Badan Meteorologi, Klimatilogi, dan Geofisiki (BMKG) curah hujan rendah akan terjadi di sejulah daerah selama Juli hingga Oktober 2019.

Adapun daerah yang akan mengalami kekeringan meteorologi meliputi Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara; sementara daerah seperti Riau, Palembang, Jambi, serta sebagian besar Kalimantan berpotensi mengalami kebakaran hutan dan lahan.

Menurut catatan BMKG Minahasa Utara, wilayah di Sulawesi Utara yang musim kemaraunya lebih awal meliputi daerah Bolang Mongondouw Utara, Bolang Mongondouw dan Kotamobagu, Minahasa selatan, sebagian Minahasa dan sebagian Tomohon, daerah Likupang dan Wori.

Baca juga: Ini perkiraan musim kemarau di Sulut

Sementara puncak musim kemarau 2019 di Sulawesi Utara diprediksi akan terjadi pada bulan Agustus–September 2019. Khusus daerah Bolang Mongondouw Selatan puncak musim kemarau di prediksi akan terjadi pada bulan Februari 2020.

Untuk membantu memonitor titik api risiko kebakaran hutan dan lahan, dapat memantau lewat peta yang dibuat oleh Globalforestwatch.org dibawah ini:

Titik kebakaran hutan dan lahan di Sulawesi Utara pada tahun 2015 dan 2016 ( http://appgis.dephut.go.id)

Bagikan !
Hosting Unlimited Indonesia

Lingkungan dan Konservasi

Mencari resolusi Gunung Tumpa, beri pendapat anda

Gunung Tumpa merupakan kawasan dalam Taman Hutan Raya H.V. Worang.

Bagikan !

Published

on

ZONAUTARA.com – BIOCOP Universitas Sam Ratulangi Manado dan Perkumpulan Warna Sulut, akan mengadakan Semiloka semi-virtual di kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) H.V. Worang atau yang lebih dikenal dengan nama Gunung Tumpa.

Semiloka dengan tagline “Masih bisakah hutan kita diselamatkan” itu akan digelar pada Selasa (17/9/2019) pukul 15.00 – 19.00 WITA. Tujuannya adalah mencari resolusi penanganan kawasan hutan Gunung Tumpa.

Gunung Tumpa berada di perbukitan Tongkaina memiliki luas sekitar 215 hektar dengan ketinggian 700 meter diatas permukaan laut.

Kawasan hutan ini terdiri dari hutan lindung dengan wilayah yang berbukit dan wilayah yang datar serta landai. Didalamnya banyak tumbuh hamparan semak, pohon perdu, pohon kelapa, dan sebagainya.

Berbagai satwa juga dilaporkan masih banyak terdapat di wilayah yang mudah dijangkau dari pusat Kota Manado ini, antara lain ular, biawak, monyet, tarsius, dan berbagai jenis burung.

Tahura ini punya pemandangan hutan lindung yang masih alami. Dari Tumpa bisa menikmati matahari terbit, bulan purnama, matahari tenggelam, melihat dan mengamati flora dan fauna, hiking dan tracking, serta paragliding.

Jika anda punya pendapat dan saran tentang resolusi atau permasalahan lingkungan untuk bahan semiloka ini, bisa menginputnya lewat link ini. Dan jika ingin hadir bisa mendaftar pada link ini.

Editor: Ronny Adolof Buol

Bagikan !
Hosting Unlimited Indonesia
Continue Reading

LAPORAN KHUSUS

Advertisement
Advertisement

Trending

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com