Connect with us

ZONAPEDIA

Festival Budaya Lembah Baliem bersolek gagah

Published

on

zonautara.com

JAYAWIJAYA, ZONAUTARA.com – Didatangi wisatawan domestik dan mancanegara, Festival Budaya Lembah Baliem (FBLB) 2019 bersolek dengan gagah. Pada pembukaan FBLB yang dipusatkan di lapangan terbuka di Distrik Welesi, Rabu (07/08/2019), terlihat spektakuler dengan berbagai atraksi budaya serta produk-produk budaya dan kerajinan tangan yang dipamerkan warga lokal.

Acara pembukaan kegiatan yang mengangkat tema Warisan Budaya sebagai Jejak Peradaban dan subtema Peradaban Seni dan Budaya Suku Hula sebagai Aset dan Warisan Nusantara ini diwarnai dengan tarian kolosal pelajar tingkat SMA yang mengekspresikan tradisi dan budaya suku Ubula yang mendiami Lembah Baliem.

Pemecahan rekor Museum Rekor Indonesia noken terpanjang yakni sepanjang 30 meter turut memberi kesan yang hampir tidak bisa dibahasakan dengan kata-kata. Noken merupakan tas tradisional khas orang Papua yang terbuat dari anyaman jerami yang rumit dan bernilai seni tinggi.

Baca: Festival tertua, jejak perang suku di tanah Papua

Peserta yang meramaikan kegiatan FBLB ini tercatat berasal dari 40 distrik yang ada di Kabupaten Jayawijaya. Mereka semua mengisi berbagai kegiatan, termasuk jenis-jenis lomba yang di antaranya Lomba Perang-perangan, Lomba Tarian, Lomba Tiup Musik Tradisional, Karapan Babi, Anyaman Noken, Membuat Baju Noken, serta Lomba Lempar Sege dan Panahan.

Ada 23 peserta yang terlibat dalam Lomba Perang-perangan, 17 peserta yang mengikuti Lomba Tarian, dan 26 peserta yang memeriahkan Lomba Tiup Musik Tradisional. Pada Karapan Babi diikuti sebanyak 20 peserta, Anyaman Noken diikuti 20 peserta, dan Membuat Baju Noken dimeriahkan 7 peserta.

Sementara pada Lomba Lempar Sege dan Panahan yang dihebohkan para peserta yang berasal dari perwakilan berbagai Organisasi Perangkat Daerah di Kabupaten Jayawijaya.

zonautara.com
Perempuan-perempuan Papua dengan baju dan tas noken pada momentum pembukaan, Rabu (07/08/2019).(Foto: zonautara.com/Ronny Buol)

Bupati Jayawijaya John Richard Banua mengatakan, konsep FBLB di tahun 2019 ini sedikit berbeda dengan tahun sebelumnya karena adanya penambahan tiga arena, kampung festival, kampus festival, dan pasar festival. Tujuannya agar pengunjung dapat melihat dan mempelajari miniatur jejak peradaban suku Hula.

“FBLB telah memberi dampak positif dan membentuk pola pikir masyarakat lokal di Jayawijaya. Masyarakat kota Wamena dan sekitarnya semakin mengerti bahwa perang suku sangat merugikan kehidupan sosial masyarakat lokal,” kata Bupati John.

Menurutnya, menjadi sarana melindungi nilai-nilai seni dan budaya masyakat Baliem yang merupakan bagian yang tak terpisahkan dari warisan budaya nusantara.

“Pemerintah Kabupaten Jayawijaya akan terus memberikan perhatian yang serius terhadap kemajuan wisata dan perlindungan terhadap kebudayaan lokal karena secara langsung akan meningkatkan pendapatan masyarakat,” ujar Bupati John.

Baca juga: Yohana jadi menteri pertama hadiri Festival Budaya Lembah Baliem

Laporan: Ronny Buol

Editor: Rahadih Gedoan

ZONAPEDIA

Menelisik kepercayaan Mana Di Nusa Utara

Published

on

zonautara.com

MANADO, ZONAUTARA.com – Bila melihat di masa pertengahan abad ke-16, masyarakat yang tinggal di wilayah Nusa Utara telah mengenal kepercayaan. Menurut D. Brilman dalam tulisannya berjudul Onze zendingsvelden, De zending op de Sangi – en Talaud – eilanden door, meski telah mengenal Kristen dan Islam namun pandangan hidup masyarakat lebih bersifat animisme. Lebih tepat lagi bila dinyatakan sebagai suatu campuran yang khas antara kepercayaan ‘mana’, penyembahan orang mati dan kepercayaan pada roh-roh dan dewa-dewa.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata ‘mana’ memiliki pengertian tenaga hidup yang tidak berpribadi dan ada pada manusia, binatang, tumbuhan, dan segala macam benda, biasanya untuk jimat atau fetis, serta membawa keberuntungan bagi pemiliknya, tetapi akan menimbulkan kerugian bagi orang yang tidak menghiraukannya (menurut padangan orang Melanesia).

Istilah ‘mana’ pertama kali digunakan oleh zendeling Inggris Codrington untuk menyatakan suatu tenaga sakti penuh rahasia. Tenaga ini menurut pengertian suku primitif berada dalam seluruh alam, dalam manusia dan binatang, dalam pepohonan dan tumbuhan, dalam segala sesuatu dan bisa mengerjakan baik kebahgiaan maupun pemusnahan.

Menurut Brilman dalam karyanya yang diterbitkan oleh Pustaka Sinar Harapan (2000) dengan judul Kabar Baik di bibir Pasifik: zending di Kepulauan Sangihe dan Talaud, segala sesuatu dan istimewa yang luar biasa dan tak dapat diterangkan dianggap bersumber pada kuasa ini. Jika di dalam alam dan masyarakat tidak terjadi sesuatu yang kuar biasa, kuasa itu tetap ada tapi tak menampak.

Ia memberikan gambaran bahwa ‘mana’ bagaikan arus listrik pada suatu saat tidak mengalirkan arus listrik dan tidak berbahaya, tapi oleh suatu sebab kecil – umpanya ditekan suatu tombol – dapat mengakibatkan maut dan kemusnahan pada setiap orang yang terkena sentuhannya, demikian pula hanya menanti suatu hal kecil terjadi untuk menggerakkan kuasa terpendam ini, sehingga udara dan awan-awan pun mengalami pengaruhnya dengan akibat: kekeringan dan kerusakan tanaman, bahkan manusia pun dapat kehilangan nyawanya.

“Jadi adalah sangat penting diusahaka mencegah agar kuasa ini menimbulkan kesempatan untuk mereda dan menyebar melalui waktu penuh larangan-larangan (periode tabu), yang singkat atau berkepanjangan dalam waktu mana orang-orang harus tinggal secara tenang di rumah dan hanya melaksanakan pekerjaan yang penting-penting saja,” tulis Brilman.

Tapi, syukurlah, jelas Brilman, ada juga orang-orang, justru karena memiki fetis-fetis atau amulet-amulet (jimat-jimat) yang mempunyai kuasa sama yang begitu besar dalam diri mereka sehingga dapa menimbulkan suatu kuasa lawan. Dengan demikian dapat mengarahkan kuasa gelap itu, baik untuk kepentingan sesamanya (magi putih, dukun) maupun pribadinya, kerapkali dengan merugikan orang senasibnya (magi hitam, perempuan sihir/songko).

Editor: Rahadih Gedoan

Continue Reading

LAPORAN KHUSUS

Advertisement
Advertisement

Trending

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com