Connect with us

KOLOM

Prakiraan Hujan di Sulawesi Utara pada Oktober 2019

Hujan mulai turun di Sulut walau belum dalam kriteria tinggi.

Bagikan !

Published

on

Foto: Pixabay

Oleh: Sofian Widiyanto

Berdasarkan perkembangan dinamika atmosfer dan lautan global serta prediksi dari beberapa institusi baik itu dari dalam dan luar negeri, wilayah Nino3.4 berada dalam kondisi Netral.

Monsun Asia berada di sekitar klimatologisnya dari awal September lalu dan diprediksi aktif pada Oktober 2019. Dengan kondisi anomali suhu muka laut di sekitar Sulawesi Utara yang dingin, mengakibatkan peluang pembentukan awan hujan masih kurang, namun akan meningkat seiring waktu menuju November hingga Desember.

Potensi hujan pada bulan Oktober secara umum akan dipengaruhi oleh Dinamika Atmosfer Global dan Regional tersebut diatas. Walaupun demikian, faktor lainnya seperti adanya pola-pola siklonik serta faktor konveksi lokal juga akan berperan dalam pola hujan di Sulawesi Utara.

Mempertimbangkan kondisi dinamika atmosfer dan lautan tersebut di atas serta keluaran dari perhitungan statistik matematika dan software HyBMG ver. 2.0, maka prakiraan hujan bulan Oktober 2019 di Provinsi Sulawesi Utara adalah sebagaimana dijabarkan di bawah ini.

1. KRITERIA RENDAH (0 – 100 mm)

Bitung (SM),  BKPI Aertembaga,  UPTD Matuari,  Likupang Barat (KD),  UPTD Kema I,  KC Ratatotok, BPP Belang, BPP Pusomaen, BPP Kotamobagu Barat, BPP Kotamobagu Timur, BPP Kotamobagu Selatan, BPP Dumoga Timur, BPP Dumoga Barat, BPP Passi Barat, BPP Dumoga Utara, UPP Kotabunan, KD Molobog dan BPP Tutuyan.  

2. KRITERIA MENENGAH (101 – 300 mm)

Paniki Atas (SK), Winangun (SG), Sam Ratulangi (SM), KC Tuminting, P. Bunaken, BP4K Manado, KP. Pandu, UPTD Danowudu, BPP Tomohon Utara, BPP Tomohon Tengah, BPP Tomohon Barat, BPP Tomohon Selatan, Tondano (SG), BPP Langowan Utara, UPTD Kawangkoan, Tanawangko (KD), UPTD Kombi, BPP Pineleng,  SPPN Kalasey, KC Sonder, BPP Remboken, , BPP Tombulu,  BPP Tondano Selatan, BPP Tompaso, DISTAN Airmadidi, UPTD Wori, UPTD Tatelu,  BPP Likupang Timur, BPP Likupang Selatan, UPP Tenga, UPTD Modoinding, DISBUN Tumpaan, KD Tareran, UPTD Tompasobaru, BPP Motoling, BBTPH Tumpaan, BPP Sinonsayang, BPP Amurang Barat, UPTD Ratahan, TCSDP Tombatu, BPP Touluaan, KC Poigar, KD Motabang–Lolak, BPP Lolayan, KD Pangian Barat, BPP Lolak, BPP Sangtombolang, BPP Bolaang Timur, UPK Pinolosian, KC Bolaang Uki, BPP Pinolosian Timur, BPP Pinolosian Tengah, BPP Posigadan, BPP Modayag, BPP Sangkub, BPP Bintauna, BPP Bolangitang Timur, BPP Bolangitang Barat, BPP Kaidipang, BPP Pinogaluman, Naha (SM), KD Mala-Tahuna, Bandara Melonguane, BPP Beo, BPP Lirung, BPP Melonguane, PGR. Tagulandang dan BPP Siau Tengah.

3. KRITERIA TINGGI (301 – 500 mm)

– Tidak terjadi

4. KRITERIA SANGAT TINGGI (> 500 mm)

– Tidak terjadi

Dengan demikian prakiraan hujan bulan Oktober 2019, dapat disimpulkan bahwa kondisi di wilayah Sulawesi Utara belum akan terjadi hujan dengan kriteria tinggi hingga sangat tinggi.

Awal musim hujan tahun ini diprediksi akan jatuh pada Oktober dasarian II (tanggal 11-20) dan puncak musim hujan diprediksi akan terjadi pada bulan Januari mendatang.

Untuk itu BMKG menghimbau kepada masyarakat agar mempersiapkan diri menghadapi musim hujan yang sebentar lagi akan segera tiba.

Peta Prakiraan Curah Hujan Bulan Oktober 2019

Sofian Widiyanto adalah Prakirawan BMKG Stasiun Klimatologi Minahasa Utara

Bagikan !
Advertisement
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

KOLOM

Saatnya kita bertindak menghadapi perubahan iklim

Proyeksi iklim tak dapat memperkirakan masa depan secara pasti, karena sebagian itu tergantung dengan cara bagaimana kita hidup dan memperlakukan alam.

Bagikan !

Published

on

Perubahan iklim
Ilustrasi perubahhan iklim / Pixabay.com

Oleh: Sofian Widiyanto
Prakirawan Stasiun Klimatologi Minahasa Utara (BMKG)

Perubahan iklim tengah menjadi pembahasan dunia dan sekarang saatnya bertindak!. Menghadapi perubahan iklim apa maksudnya?. Dari dulu iklim selalu menentukan cara hidup kita, saat iklim berubah kita juga beradaptasi.

Jadi apa bedanya adaptasi dengan perubahan iklim yang terjadi sekarang dengan yang dulu?. Ya tentu saja iklim selalu  berubah. Namun kini perubahan yang disebabkan gas-gas rumah kaca seperi karbondioksida (CO2) dan  metana (CH4) yg berasal dari aktivitas manusia, contoh industri, pengunaan kendaraan bermotor, kebakaran hutan dan lain sebagainya, mengakibatkan peningkatkan efek rumah kaca di atmosfer dan terjadi dalam waktu yang sangat singkat. Dan sebagai akibatnya, bumi semakin panas.

Dampak perubahan iklim

Akibat bumi semakin panas, perubahan iklim mulai berdampak pada mencairnya lapisan es di wilayah kutub. Hal ini akan mengakibatkan pertambahan massa air di lautan termasuk wilayah Indonesia sehingga tinggi muka air laut akan meningkat.

Dampak dari peristiwa ini adalah banyak wilayah pantai yang mengalami kebanjiran, erosi dan hilangnya daratan di pulau – pulau kecil serta masuknya air laut ke wilayah air tawar.

Beberapa wilayah di Indonesia sudah mengalami dampak dari hilangnya pulau – pulau kecil akibat naiknya tinggi muka laut. Berbagai studi yang telah dihimpun oleh IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change) menunjukan bahwa selama ini telah terjadi peningkatan tinggi muka air laut sebesar 1 – 2 meter dalam kurun waktu  sekitar 100 tahun terakhir.

Jika  kondisi ini terus berlanjut maka negara kita yang memiliki sekitar 13.600 pulau akan mengalami dampak yang cukup serius. Masyarakat dan nelayan yang berdomisili disekitar garis pantai akan semakin terdesak bahkan kemungkinan kehilangan tempat tinggal serta bangunan infrstruktur yang telah dibangun.

Sedangkan diprediksi cuaca ekstrim dan pergeseran musim akan semakin terjadi contohnya kekeringan, puting beliung, hujan es, meningkatnya curah hujan yang menyebabkan banjir dan longsor.

Peristiwa semacam ini dapat menghancurkan rumah dan kehidupan manusia termasuk merusak infrastruktur, jalur komukasi serta  perdagangan dan lebih parahnya dapat menghambat Pembangunan Nasional.

Kemudian beberapa spesies yang tidak bisa menyesuaikan dengan kondisi sekarang akan sulit untuk bertahan di habitatnya. Oleh karena itu tidak jarang banyak binatang dan tanaman yang mati karena tidak bisa beradaptasi dengan habitatnya saat ini.

Dua hal yang harus dilakukan

Perubahan iklim saat ini memang nyata, namun apakah perubahan ini akan semakin cepat?.  Jawabannya tergantung pada gaya hidup dan kegiatan ekonomi kita.  

Jadi apakah kita cukup mengurangi emisi gas-gas rumah kaca seperti karbondioksiada (CO2) dan metana (CH4) saja? Jawabannya adalah tidak. 

Andai kita dapat mengurangi emisi gas-gas rumah kaca sekarang juga, bumi tidak akan berhenti memanas dengan segera karena banyak gas yang telah teremisi dari dulu. Itu sebabnya kita harus melakukan 2 (dua) hal yaitu mengurangi penggunaan alat-alat yang menghasilkan gas-gas rumah kaca dan adaptasi dalam perubahan iklim.

Mengurangi gas-gas rumah kaca

Mengurangi emisi gas-gas rumah kaca, dimulai dari diri kita sendiri dengan cara mengurangi penggunaan kendaraan bermotor, jangan membakar hutan, kurangi penggunaan AC saat tidak diperlukan, dan pegang prinsip dasar 3R (Reuse, Reduce dan Recycle).

Reuse berarti menggunakan benda yang bisa digunakan lagi, bukan seperti plastik/styrofoam yang sekali pakai langsung buang. Reduce berarti berhemat dan wajar dalam memakai produk yang merusak lingkungan, dan Recycle berarti mendaur ulang sampah yang masih bisa kita manfaatkan.

Pemerintah juga telah mengambil beberapa kebijakan seperti penggunaan energi alternatif dalam kehidupan sehari-hari. Energi alternatif ini dinilai aman terhadap atmosfer dan tidak menimbulkan polusi yang berlebihan.

Contohnya saja adalah penggunaan bahan bakar gas pada kendaraan bermotor. Saat ini sudah banyak kendaraan transportasi umum yang menggunakan bahan bakar gas saat beroperasi.

Selain itu, upaya lainnya adalah reboisasi hutan, penanaman kembali hutan di Indonesia berguna untuk menyerap emisi gas rumah kaca yang semakin meningkat.

Adaptasi dalam perubahan iklim

Proyeksi iklim tak dapat memperkirakan masa depan secara pasti, karena sebagian itu tergantung dengan cara bagaimana kita hidup dan memperlakukan alam.  

Namun dari semua itu, apakah kita hanya bergantung pada kepastian untuk bertindak?, tidak. Kita sering mengambil tindakan berdasarkan pengalaman dan fakta. Tanpa mengetahui kepastian yang akan terjadi dimasa depan, dan meski kita tidak tahu, semua yang akan terjadi pada iklim, kita cukup tahu bagaimana kita akan bertindak.

Tapi bagaimana kita membuat perbedaan?, kita harus mampu memperhatikan dampak perubahan iklim sekarang dan masa depan. Proyeksi iklim tidak serta merta diterjemahkan dalam strategi yang nyata, namun dapat menjadi acuan dalam perencanaan.

Kita harus mempertimbangkan dampak perubahan iklim terhadap rencana pembangunan serta mempertimbangkan, apakah hal ini malah akan memperburuk. Salah satu kosekuensi yang akan terjadi adalah perubahan curah hujan, banjir dan kekeringan yang dapat terjadi pada satu tempat yang sama.

Apakah rancangan tata kota harus diperbaiki atau diubah agar dapat fleksibel dalam menghadapi tantangan masa depan, bagaimana cara rencana adaptasi yang dapat meminimalkan efek terhadap ekonomi lokal dan kehidupan manusia.

Kota pantai di seluruh dunia terancam dampak dari perubahan iklim dari kenaikan air laut dan cuaca ekstrim. Apakah yang perlu dipertimbangkan perencana tata kota untuk menjadikan kota-kota ini menjadi kota yang lebih tanguh. Apa pilihan yang adaptasi yang paling tepat?  Yang jelas, jawabannya adalah soal biaya, potensi dan dukungan social politik dari pembuat kebijakan sehingga dapat membantu menyusun prioritas metode adaptasi.

Contohnya persiapan mengatasi banjir, restorasi lahan basah, perbaikan sistem drainase, dan pengelolaan pantai. Sedangkan contoh dalam bidang lain para petani bersama pemerintah menganti padi biasa dengan padi bibit unggul, nelayan membuat jaring apung dan selalu memantau informasi cuaca yang diberikan instansi terkait.

Adaptasi adalah proses belajar, kita semua perlu memperbaiki strategi adaptasi, kita harus mengurangi gas-gas rumah kaca, dan beradaptasi tehadap perubahan iklim.

Libatkan masyarakat dan pembuat kebijakan

Kita harus mulai dari sekarang bersama-sama, libatkan pembuat kebijakan, tingkatkan pemahaman tentang perubahan iklim, ciptakan kesadaran dalam masarakat untuk adapatasi sehingga dalam menghadapi kondisi yang akan datang, kita lebih siap atau dengan kata lain lebih baik bersiap untuk segala kemungkinan dari pada menanggung dampak perubahan iklim tanpa perlindungan apapun (sedia payung sebelum hujan).

Ingat kita tidak mewarisi bumi ini dari nenek moyang kita, kita meminjamnya untuk anak cucu kita. Ayo bertindak!, kalau tidak sekarang kapan lagi?.

Bagikan !
Continue Reading
Klik untuk melihat visualisasinya

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com