Connect with us

OPINI

Catatan akhir tahun: Harapan 2020 jadi lebih baik

Di tahun 2019 Provinsi Sulut mencatat pertumbuhan ekonomi yang tidak terbilang bagus.

Bagikan !

Published

on

zonautara.com

ZONAUTARA.com – Mengurus Sulawesi Utara (Sulut) ternyata tak segampang janji kampanye kandidat saat pesta demokrasi Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada). Sejumlah hal yang menjadi sorotan di antaranya data Badan Pusat Statistik (BPS) Sulut mengenai Indeks Demokrasi Indonesia Provinsi Sulut yang terus menurun sejak 2014.

zonautara.com
Infografik: flourish.studio/Rahadih Gedoan

Pitres Sombowadile, seorang pemerhati sosial politik Sulut, menyoroti persoalan ini. Menurutnya, meski tahun 2018 agak membaik dari tahun-tahun sebelumnya, tapi penurunan ini adalah rekor buruk yang mesti diurus.

Tiga Aspek ukuran penentu indeks pada tahun 2015 menukik, kata Pitres, yaitu aspek Kebebasan Sipil, Aspek Hak-Hak Politik dan Aspek Lembaga Demokrasi. Meski demikian variabel Kebebasan Berkumpul dan Berserikat nyata membaik dibanding tahun 2014, kecuali pada tahun 2017.

zonautara.com
Perkembangan Beberapa Variabel di Sulawesi Utara, 2014-2018.(Infografik: flourish.studio/Rahadih Gedoan)

“Untuk Variable kebebasan Berpendapat anjlok sejak tahun 2015 meski kemudian agak membaik di tahun 2016-2018. Variabel Kebebasan Berkeyakinan juga turun meski pada tahun 2016-2017 justru lebih baik dibanding kondisi tahun 2014,” jelasnya.

Kenangan 2019 yang akan berakhir dan harapan 2020 jadi lebih baik

Di tahun 2019 Provinsi Sulut mencatat pertumbuhan ekonomi yang tidak terbilang bagus. Malah selang dua tahun terakhir Sulut punya catatan yang menyedihkan, yang perlu diseriusi semua kalangan.

Baca: Pertumbuhan Ekonomi Daerah merosot, Pemprov Sulut berkacalah!

Banyak hal yang perlu dibenahi Pemerintah Provinsi Sulut beserta semua stakeholder pembangunan daerah. Lepas dari wanprestasi yang digapai, tahun 2019 akan berakhir.

Tahun 2020 bagi daerah Sulut meruapakan tahun politik. Momentum tersebut akan berimbas pada banyak sektor pembangunan. Jauhkanlah ego-ego sektoral, lalu berharap tahun 2020 akan jadi lebih baik.

Bagikan !
Beri Donasi
Advertisement
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

OPINI

Covid-19, ancaman kepunahan ras manusia yang nyata

Penyebaran Corona di Indonesia diatasi dengan sistem medis yang jauh dari profesional.

Bagikan !

Published

on

zonautara.com
Kehancuran ras manusia.(Image: pexels.com/Nur Andi Ravsanjani Gusma)

ZONAUTARA.com – Corona disease 2019 (Covid-19) yang disebabkan SARS-CoV-2, kian menjadi ancaman serius bagi populasi umat manusia yang ada di muka bumi. Banyak negara yang tidak siap menghadapi kemungkinan serangan wabah yang kini dianggap sebagai pandemi ini.

F. William Engdahl dalam tulisannya yang berjudul Coronavirus, Vaccines and the Gates Foundation  menuding adanya sebuah rekayasa yang sudah lama direncanakan dari Bill Gates dan yayasannya.

“Sebenarnya pandemi global seperti flu adalah sesuatu yang telah disiapkan Gates dan yayasannya selama bertahun-tahun,” tulis William.

Cara penyebaran virus Corona yang sangat cepat dan mengakibatkan kematian, jelas turut mengancam keberlangsungan hidup ras manusia. Lepas dari persoalan konspirasi Gates, hingga kini Corona belum memiliki antivirusnya.

zonautara.com
Antisipasi Corona.(Image: pexels.com/Heorhii Heorhiichuk)

Vaksin yang dikembangkan di sejumlah perusahaan ternama masih dalam tahap uji coba sementara kematian setiap harinya makin memprohatinkan. China sebagai satu-satunya negara yang berhasil melawan wabah tersebut, lebih mengutamakan sistem imun dari setiap orang yang terpapar.

Penyebaran Corona di Indonesia diatasi dengan sistem medis yang jauh dari profesional. Padahal para tenaga medis yang bertugas di daerah tanggap darurat telah diberikan tambahan insentif oleh pemerintah.

Berdasarkan pengakuan seorang artis Indonesia, Melanie Subono, yang ingin memeriksakan diri karena dicurigai terpapar Corona, harus merogoh kocek sendiri membiayai serangkaian pemeriksaan, yang itupun bukan untuk mengetahui terpapar Corona atau tidak.

Sebuah tim yang dibentuk pemerintah dan diberi nama Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 pun terkesan tidak sigap bertindak. Pintu masuk bandara selalu saja dibiarkan tanpa adanya pemeriksaan ketat dari petugas medis.

Dengan kondisi yang makin hari makin bertambah korban yang terpapar Corona, masyarakat Indonesia terancam. Hampir semua daerah mengisolasikan orang-orang yang diberi status Orang Dalam Pemantauan sementara tidak ada pemeriksaan SWAB yang diharuskan oleh prosedur.

Sepertinya tidak ada jalan lain dalam mengatasi penyebaran Corona ini selain inisiatif untuk menggunakan hand sanitizer, masker, mengisolasi diri, dan membangun sistem imun tubuh. Soal masker, dalam situasi yang darurat ini sejumlah politisi memborong masker yang kemudian dibagikan untuk kepentingan pencitraan.

Alhasil, masker menjadi barang yang sangat langka di apotik ataupun supermarket. Seharusnya politisi berpikir dan mengambil langkah penting sebagai usaha penyelamatan ras manusia. Mengembalikan masker ke pasar dan membiarkan mekanisme pasar berlaku atas masker-masker itu sehingga masyarakat bisa membelinya.

Kemungkinan munculnya ras manusia baru

Situasi ini mengingatkan pada seorang profesor Fisika, yaitu Stephen Hawking. Ilmuwan ini pernah meramalkan adanya ras baru manusia super. Seperti yang dilansir The Times, ilmuwan paling terkenal di dunia abad ke-20 ini menunjukkan bahwa rekayasa genetika kemungkinan akan menciptakan spesies manusia super baru yang dapat menghancurkan umat manusia.

Ia menyarankan bahwa orang kaya akan segera dapat memilih untuk mengedit DNA mereka sendiri dan anak-anak mereka untuk menciptakan manusia super dengan daya ingat yang meningkat, ketahanan terhadap penyakit, kecerdasan dan umur panjang.

“Mungkin akan ada hukum yang dibuat melawan rekayasa genetika pada manusia. Namun beberapa orang tidak akan bisa melawan godaan untuk meningkatkan kemampuan manusia, seperti memori, ketahanan penyakit, dan juga usia hidup,” kata penulis buku Brief Answers To The Big Questions ini.

zonautara.com
Save our planet.(Image: pexels.com/Markus Spiske)

Terkait pandemi Corona, siapa yang bertahan dan tidak mati, selain yang berhasil membangun imun tubuh, besar kemungkinannya adalah orang yang telah berhasil melakukan rekayasa genetika melalui vaksin yang membuat tubuhnya tahan penyakit.

Para ilmuwan harus mengambil peranan terbesarnya dalam penemuan vaksin. Intinya adalah kelangsungan hidup ras manusia di planet ini harus diselamatkan. Biarlah kiamat sebagai akhir hidup manusia di bumi adalah urusan Tuhan, bukan urusan konspirasi depopulasi.

Bagikan !
Beri Donasi
Continue Reading

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com