ZONAUTARA.com – Photo Story kali ini menampilkan karya Karenina Maria, yang menjadi Juara 1 dalam ajang Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) jenjang SMA/SMK/Sederajat tingkat Provinsi Sulawesi Utara Tahun 2025, yang digelar pada Rabu (30/7/2025).
Karenina yang mewakili SMA 7 menyisihkan peserta dari daerah lainnya di Sulawesi Utara dalam tangkai Lomba Fotografi. Sebelumnya Karenina telah meraih Juara 1 di tingkat Kota Manado.
Foto cerita yang akan membawa Karenina berlomba di tingkat nasional ini, adalah cerita tentang Zhaka Taroreh, bocah berusia 14 tahun yang mewarisi tradisi orang Minahasa membuat baju Kawasaran.
Teks dan Foto: Karenina Maria

Zhaka Taroreh (14) duduk di samping ayahnya, Rinto Taroreh (43), dalam balutan kostum kawasaran buatan tangan mereka sendiri. Sejak usia 2 tahun, Zhaka telah menyaksikan ayahnya seorang penggiat seni dan pelaku budaya menari serta merancang kostum ini. Pada usia 4 tahun, Zhaka mulai mengenakan kostum dan menari Kawasaran, menandai awal kecintaannya terhadap warisan leluhur Minahasa.
Bagi keluarga Taroreh, kostum ini bukan sekadar pakaian adat, tetapi simbol dari kerja keras, nilai, dan komitmen menjaga tradisi serta alam. Ayah dan anak ini mencerminkan kesinambungan antar generasi antara tangan yang mengukir warisan dan jiwa yang mewarisinya.
Rinto Taroreh (43), bukan hanya seorang pengrajin, melainkan penjaga nilai budaya yang menolak melupakan pentingnya konservasi. Melalui karya mereka, kawasaran tak hanya tetap hidup, tapi dapat diekspresikan secara utuh hingga menginspirasi negeri ini lewat Kawasaran yang mencerminkan, semangat, dan cinta tanah Minahasa dan juga tetap menjaga kelestarian alam.

Saat Parade Adat di Kaaten, Tomohon, Zhaka tampil dengan penuh kebanggaan mengenakan kostum kawasaran. Kostum ini bukan sekadar pakaian adat, tetapi simbol nilai luhur Minahasa. Kawasaran berasal dari kata kawas yang berarti waspada, dan secara budaya dimaknai sebagai lambang keberanian, kehormatan, serta kesiapsiagaan seorang Waraney atau kesatria. Dengan warna merah menyala, bulu di kepala, dan ornamen simbolik lainnya, kostum ini mencerminkan semangat juang para leluhur Minahasa.
Zaka mewakili generasi muda yang tidak hanya mengenal warisan budaya, tapi juga merawat dan menghidupkannya kembali dengan cara ramah lingkungan. Ia menjadi inspirasi bagi anak-anak muda Indonesia untuk tetap bangga, berani, dan bertanggung jawab menjaga budaya serta alam negeri ini.

Satu set kostum kawasaran telah rampung dan siap dikirim kepada pemesan atau disewakan kepada sanggar seni. Zhaka, telah membawa karya keluarga mereka ke panggung yang lebih luas. Kostum buatan mereka kini digunakan dalam berbagai pertunjukan budaya, sanggar tari, hingga parade resmi. Salah satu momen paling membanggakan adalah saat kostum ini tampil dalam Upacara HUT RI ke‑78 di Istana Negara dan mendapat apresiasi sebagai salah satu kostum daerah terbaik yang dikenakan oleh pasangan publik figur
Bagi Zhaka dan ayahnya, setiap jahitan, ukiran, dan ornamen bukan sekadar hasil keterampilan tangan, tetapi juga wujud penghormatan terhadap leluhur dan nilai budaya Minahasa. Dengan menggunakan bahan ramah lingkungan sebagai pengganti unsur satwa liar, mereka membuktikan bahwa warisan budaya bisa terus hidup tanpa merusak alam, bahkan memberi inspirasi dari desa kecil hingga panggung kenegaraan.

Menggunakan mesin jahit, Zhaka berusaha menyambungkan kain serat kayu sebagai dasar baju kawasaran yang ditambahkan dengan kain merah dan batik motif patola. Di dinding rumahnya terpajang beberapa hasil karya baju kawasaran yang telah selesai dibuat.
Di ruangan sederhana rumah mereka di Desa Warembungan, Kecamatan Pineleng, Minahasa, terdapat beberapa kostum merah menyala, sebuah simbol keberanian dan kehidupan, lengkap dengan ornamen-ornamen hasil pahatan bahan sintetis berbentuk tengkorak dan tanduk babi rusa. Hal ini menggambarkan bagaimana tradisi bukan hanya cerita masa lalu, tapi hadir nyata di tangan anak muda yang tekun. Di balik tiap tusukan benang, ada pelajaran dari ayahnya tentang kesabaran, ketelitian, dan ketulusan.

Beberapa bagian dari kostum kawasaran dulunya dibuat dari bagian tubuh satwa liar seperti yaki (Macaca nigra), babi hutan (Sus celebensis), dan bulu rangkong sulawesi (Rhyticeros cassidix). Namun setelah keluarnya Undang-Undang No. 5 Tahun 1990 tentang perlindungan satwa liar, para pengrajin di Minahasa mulai beralih ke bahan sintetis dan kayu, termasuk Zhaka.
Ia terlihat serius memahat ornamen tengkorak dari bahan ramah lingkungan, sebagai bentuk penghormatan pada alam dan aturan konservasi. Zhaka menggunakan pahat untuk membentuk tengkorak yang menyerupai aslinya, tanpa menghilangkan nilai simbolik. Teknik ini ia pelajari dari ayahnya, seorang pelaku budaya dan pengrajin senior. Dengan tangan mudanya, Zhaka membuktikan bahwa kreativitas bisa menggantikan perburuan. Setiap pahatan bukan sekadar hasil karya, tetapi bentuk adaptasi budaya yang sejalan dengan pelestarian lingkungan dan penghormatan terhadap warisan leluhur.

Zhaka sedang memilih lembaran kain merah dan kain batik tenun bermotif patola yang akan digunakan sebagai bagian dari kostum kawasaran. Merah dipilih karena warna ini melambangkan keberanian, kehidupan dan semangat hidup para Waraney Minahasa. Dalam budaya leluhur Minahasa, merah juga menjadi warna yang menghidupkan tarian kawasaran sebagai simbol pertahanan dan kekuatan spiritual.
Di samping kain merah polos, Zhaka juga memilih kain batik bermotif patola sebagai aksen tambahan. Motif ini menambahkan sentuhan lokal yang kaya nilai simbolik dan estetika, menandakan bahwa kostum ini bukan sekadar pakaian, tapi pernyataan jati diri. Pemilihan kain memastikan setiap tetap sesuai tradisi namun juga menyesuaikan zaman.

Zhaka menjemur lembaran kulit kayu tapau di halaman rumah mereka di Desa Warembungan. Kulit kayu yang telah dipukul hingga menjadi serat harus dijemur hingga benar-benar kering dan menghasilkan kain serat kayu yang sempurna. Cuaca cerah dan hembusan angin akan mempercepat proses pengeringan. Jika kering maksimal, serat-serat halus akan terlihat jelas, dan kulit siap dijadikan bahan dasar kostum Kabasaran.
Teknik ini membutuhkan ketelatenan karena jika dijemur terlalu lama atau dalam posisi tidak tepat, kulit bisa retak atau menggulung. Zhaka mempelajari cara ini dari ayahnya, yang telah bertahun-tahun menjaga tradisi keluarga mereka. Penjemuran ini bukan sekadar mengeringkan bahan, tapi juga proses menyatukan kesabaran, cinta budaya, dan penghormatan terhadap alam.

Setelah kulit kayu tapau diambil, diperlukan proses agar kulit kayu menjadi lentur dan halus. Zhaka memukul kulit kayu di atas permukaan air menggunakan kayu bulat. Air berperan menjaga serat kayu agar tidak robek dan tetap menyatu dengan baik. Teknik ini diwariskan dari generasi ke generasi oleh keluarganya.
Proses ini memakan waktu berjam-jam, dan harus dilakukan dengan sabar agar teksturnya merata dan halus, karena inilah tahap yang paling penting. Bagi Zhaka, memukul serat kayu bukan sekadar kerja fisik, tapi cara ia terhubung dengan leluhurnya. Seni dan alam menyatu dalam kesederhanaan yang penuh makna.

Semua proses ini dimulai dari hutan Desa Warembungan. Kulit kayu dari pohon tapau (Pterocarpus indicus) diambil. Zhaka sangat hati-hati mengupas lapisan luar pohon untuk bahan baju tradisi orang Minahasa itu. Tradisi ini diajarkan ayahnya agar tetap lestari namun tidak merusak alam. Kulit kayu diiris tipis agar pohon bisa pulih kembali, karena kulit tapau dikenal memiliki kemampuan regenerasi. Ini menunjukkan bagaimana seni bisa berjalan seiring dengan prinsip konservasi.
Kulit tapau yang diambil nantinya akan diproses menjadi bahan dasar baju kawasaran. Aksi ini bukan sekadar rutinitas, tapi bagian dari warisan yang menghargai lingkungan. Dalam tradisi keluarga Taroreh, proses pengupasan merupakan awal dari proses panjang sebuah kostum yang sarat makna: keberanian.

