ZONAUTARA.com – Sebanyak 132 orang tewas dalam operasi razia narkoba terbesar dan paling brutal sepanjang sejarah Brasil yang digelar polisi negara bagian Rio de Janeiro terhadap jaringan geng Comando Vermelho pada Selasa (28/10/2025) dini hari di dua kawasan kumuh Complexo da Penha dan Complexo do Alemão.
Operasi yang melibatkan 2.500 personel polisi bersenjata lengkap, termasuk helikopter, kendaraan lapis baja, dan drone itu bertujuan memerangi perdagangan narkoba, senjata ilegal, serta pemerasan yang dilakukan geng tersebut, dengan hasil penyitaan 118 senjata api dan satu ton narkoba serta penangkapan 113 tersangka. Korban tewas terdiri dari 128 anggota geng dan empat polisi yang gugur akibat baku tembak sengit di area hutan sekitar favela.
Operasi yang direncanakan selama dua bulan tersebut dimulai dengan pengintaian di hutan, di mana polisi sengaja menggiring para tersangka ke lokasi penyergapan untuk melindungi warga sipil, menurut Sekretaris Polisi Militer Marcelo de Menezes. Namun, geng Comando Vermelho, organisasi kriminal tertua di Rio yang didirikan pada 1970-an di penjara, membalas dengan membakar bus untuk memblokir jalan dan meluncurkan drone berisi bahan peledak ke arah polisi.
Sekretaris Keamanan Negara Bagian Victor Santos menyatakan, “Tingkat kematian yang tinggi ini memang diantisipasi tapi tidak diinginkan,” sambil menjanjikan penyelidikan atas dugaan pelanggaran.
Gubernur Rio de Janeiro Claudio Castro memuji operasi itu sebagai keberhasilan besar melawan “narcoterrorism” dan menegaskan semua korban adalah penjahat bersenjata yang berada di hutan saat konflik. Namun, Presiden Luiz Inacio Lula da Silva menyatakan keterkejutannya karena operasi berlangsung tanpa koordinasi dengan pemerintah federal, seperti diungkap Menteri Kehakiman Ricardo Lewandowski. Lula menyerukan penegakan hukum yang terarah tanpa mengorbankan nyawa polisi atau warga tak bersalah.
Kontroversi merebak ketika warga favela menjejer puluhan jenazah di jalan utama Penha pada Rabu (29/10), menuduh polisi melakukan eksekusi sumir. Keluarga korban melaporkan mayat ditemukan tanpa kepala, terikat, ditembak di kepala belakang, atau mengalami luka bakar, seperti disampaikan pengacara hak asasi Guilherme Pimentel dan ibu korban Taua Brito yang menangis, “Saya hanya ingin mengubur anak saya.”
Kantor HAM PBB menyatakan prihatin dan mendesak investigasi cepat, sementara demonstrasi pecah di depan istana gubernur dengan karavan motor.
Hakim Agung Alexandre de Moraes telah memanggil Castro dan pimpinan polisi untuk sidang pada Senin (3/11) guna mengklarifikasi operasi tersebut. Insiden ini melampaui rekor sebelumnya seperti razia Jacarezinho 2021 yang menewaskan 28 orang, menambah sorotan pada kekerasan polisi di Brasil yang mencapai 700 kematian di Rio sepanjang 2024.


