International Mask Festival 2025: Solo satukan dunia lewat seni topeng

Penulis: David Sumilat
Editor: Redaktur
Suasana area digelarnya IMF 2025 di Balai Kota Surakarta, Jawa Tengah. (Foto: Zonautara.com/David Sumilat)

ZONAUTARA.com – Kota Surakarta (Solo), Jawa Tengah, kembali menegaskan posisinya sebagai kota budaya dunia melalui gelaran International Mask Festival (IMF) 2025 yang berlangsung pada 14-15 November 2025 di Pendapa Gede Balai Kota Surakarta.

Selama dua hari, festival ini menghadirkan 21 delegasi dari berbagai negara, mulai dari Korea Selatan, Myanmar, Malaysia, Taiwan, Hongkong, hingga berbagai daerah di Indonesia, untuk merayakan seni topeng sebagai identitas budaya lintas bangsa.

Mengusung tema “Awesome Mask”, IMF 2025 menjadi ruang pertemuan antara tradisi yang sarat makna dengan ekspresi seni kontemporer.

Beragam pertunjukan tari topeng ditampilkan, masing-masing membawa filosofi, cerita rakyat, serta nilai sosial dari budaya asalnya. Topeng diposisikan bukan sekadar karya seni visual, melainkan medium narasi sunyi yang berbicara lewat gerak, gestur, dan keheningan.

Ketua Penyelenggara IMF 2025, Putri Pramesti Wigaringtyas, menekankan bahwa festival ini merupakan bentuk diplomasi budaya yang paling halus namun kuat.




Seni topeng, menurutnya, mampu meruntuhkan sekat bahasa dan negara, serta merajut persahabatan global melalui apresiasi yang sama terhadap warisan budaya.

“Topeng bukan hanya sebuah objek seni. Topeng adalah simbol yang mewakili kekayaan tradisi, cerita rakyat dan bahkan nilai-nilai sosial yang menjadi identitas suatu bangsa,” kata Ketua Penyelenggara IMF 2025, Putri Pramesti Wigaringtyas, dalam sambutannya membuka IMF 2025.

Senada dengan itu, Wali Kota Surakarta Respati Ardi menyampaikan bahwa IMF memberi dampak nyata bagi perekonomian kota, mulai dari sektor pariwisata, perhotelan, UMKM, hingga transportasi.

“Dampak yang dirasakan langsung masyarakat tentu pertumbuhan ekonomi di Surakarta,” jelasnya dalam konferensi pers bersama para pewarta peserta Workshop ABCID, pada Jumat (14/11/2025).

Sejarah IMF sendiri berakar dari kepedulian Solo terhadap pelestarian seni topeng sebagai warisan leluhur. Berawal dari inisiatif lokal, festival ini kini menjadi bagian dari International Mask Organization (IMO).

Pendiri IMF, Dr. Raden Ayu Irawati Kusumo Rastri, menjelaskan bahwa keterlibatan seniman internasional dan kolaborasi lintas genre sengaja dihadirkan untuk menarik minat generasi muda agar merasa memiliki dan meneruskan tradisi ini.

“Untuk penyelenggaraannya, kami menggunakan trik-trik yang menarik, misalnya kita datangkan seniman dari luar negeri,” kata Irawati.

IMF 2025 juga menampilkan kolaborasi unik, seperti pertemuan topeng Patih dengan tari Greget Pincuk dari Jawa Timur, topeng ritual Korea Selatan, hingga tarian sakral Bali.

Penampilan spesial Banda Neira turut memberi warna berbeda dengan menjembatani seni topeng dan musik kontemporer, sehingga menarik penonton lintas generasi.

Antusiasme publik terasa hingga luar kota. Sejumlah pengunjung rela datang dari daerah sekitar, tertarik oleh informasi di media sosial dan rasa penasaran terhadap seni topeng.

Di sisi lain, warga lokal seperti pedagang kecil juga merasakan manfaat ekonomi dari ramainya pengunjung selama festival berlangsung.

***

Follow:
Pewarta yang menggeluti jurnalisme data, lingkungan, dan lainnya, telah menjelajahi berbagai aspek jurnalistik selama lebih dari 10 tahun.
Leave a Comment

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com