Bapanas dan Bulog pastikan beras SPHP stabilkan harga pasar, jamin ketersediaan hingga akhir 2025

Editor: Redaktur
Pekerja memanggul karung beras bantuan sambil melintas di jalur lava Gunung Api Karangetang di Desa Batubulan, Siau Barat Utara, Sitaro, Sulawesi Utara, Rabu (4/12/2024). Badan Pangan Nasional (Bapanas) bersinergi dengan Perum Bulog dan pemerintah daerah setempat menyalurkan bantuan 99,450 kilogram beras periode bulan Desember 2024 untuk 3.315 keluarga penerima manfaat (KPM) di Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro).

ZONAUTARA.com — Badan Pangan Nasional (Bapanas) dan Perum Bulog terus menggencarkan distribusi beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) ke seluruh penjuru Indonesia. Langkah ini ditegaskan sebagai penopang utama dalam menstabilkan harga beras di pasaran dan menjaga keterjangkauan bagi masyarakat, dengan target penyaluran 1,3 juta ton hingga Desember 2025.

Kepala Bapanas Arief Prasetyo Adi, saat meninjau gerai minimarket di Serang, Banten, pada Rabu (20/8/2025), menyatakan beras SPHP kini semakin mudah diakses di berbagai lini penyaluran.

Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani menambahkan, pengawasan distribusi diperketat melalui aplikasi Klik SPHP dan masyarakat dijamin tidak perlu khawatir terkait ketersediaan stok yang masih sangat banyak.

Arief Prasetyo Adi menegaskan, “Pemerintah terus memperkuat intervensi di sektor perberasan melalui program SPHP yang dilaksanakan oleh Perum Bulog atas penugasan Badan Pangan Nasional.” Ia menyampaikan bahwa distribusi beras SPHP akan semakin gencar dilakukan, memastikan ketersediaannya di berbagai titik penjualan.

“Hari ini kita mau sampaikan bahwa beras SPHP sudah ada di semua lokasi yang sesuai dengan juknis (petunjuk teknis). Pasar tradisional sudah dipenuhi duluan. Kemudian pasar modern juga dipenuhi, outlet-outlet BUMN juga sudah ada,” ujar Arief.




Per 20 Agustus 2025, realisasi penyaluran beras SPHP telah mencapai sekitar 45 ribu ton. Penyaluran ini telah dimulai sejak Juli 2025 sebagai upaya menjaga stabilitas harga beras di pasaran. Arief juga menekankan pentingnya kualitas beras yang dijual kepada masyarakat.

“Ini beras SPHP dijual maksimal Rp12.500 per kilonya (zona 1). Tadi di pasar ada yang Rp12.000 per kilo. Kalau kualitasnya ada yang kurang baik, teman-teman dari ritel modern minta tukar. Jangan jual barang yang jelek,” tegas Arief. Ia optimistis program ini akan efektif. “Kita optimistis ini bisa mengintervensi harga beras di pasaran,” ungkapnya.

Sementara itu, Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani memastikan pihaknya terus memperluas kanal distribusi beras SPHP. “Mudah-mudahan ini memberikan keyakinan kepada publik, kepada masyarakat bahwa beras SPHP betul-betul membantu masyarakat untuk menstabilkan harga,” ujarnya.

Dengan stok penugasan sebesar 1,3 juta ton hingga akhir 2025, Rizal meyakinkan masyarakat tidak perlu khawatir terhadap ketersediaan. “Ini masih sangat banyak dan masyarakat tidak perlu ragu dan bimbang. Kami akan salurkan semaksimal mungkin untuk kemaslahatan masyarakat,” katanya.

Rizal juga menjelaskan bahwa pengecer wajib mendaftar melalui aplikasi Klik SPHP yang disiapkan Bulog. Langkah ini bertujuan agar pengawasan distribusi dapat dilakukan lebih menyeluruh dan transparan.

Beras SPHP dijual sesuai dengan Harga Eceran Tertinggi (HET) yang telah ditetapkan: Rp12.500 per kilogram untuk zona 1 (Jawa, Lampung, Sumatra Selatan, Bali, NTB, Sulawesi), Rp13.100 per kilogram untuk zona 2 (Sumatra selain Lampung dan Sumsel, NTT, Kalimantan), dan Rp13.500 per kilogram untuk zona 3 (Maluku, Papua). Setiap pembelian dibatasi maksimal dua kemasan (10 kg) dan tidak diperkenankan untuk diperjualbelikan kembali.

TAGGED:
Leave a Comment

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com