ZONAUTARA.com – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah telah meningkatkan ancaman krisis energi, termasuk di Indonesia. Situasi antara Iran dan Amerika Serikat mempengaruhi Selat Hormuz, jalur vital pasokan energi global. Bagi Indonesia, ini menjadi peringatan keras mengingat ketergantungan impor bahan bakar minyak (BBM) dan LPG yang tinggi. Data dari Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Ditjen Migas) menunjukkan bahwa 83,97% kebutuhan LPG nasional hingga Februari 2026 masih diimpor. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengakui bahwa ketegangan di Timur Tengah sempat membuat persediaan LPG nasional menurun di bawah batas ideal pada awal April.
Berkat negosiasi pemerintah dengan negara eksportir LPG non-Timur Tengah seperti Jepang, Australia, dan Brunei, krisis ini dapat dilewati. Namun, ancaman krisis energi masih membayangi, sehingga efisiensi energi menjadi kebutuhan yang mendesak. Pemerintah mempunyai instrumen seperti subsidi dan diversifikasi impor, tetapi efisiensi energi, terutama di dapur, juga penting sebagai fondasi ketahanan energi nasional.
Pada awal 2026, konsumsi LPG nasional mencapai 26.000 metrik ton per hari, meningkat dari 25.000 metrik ton per hari pada tahun 2025. Dengan efisiensi energi secara masal, kebutuhan impor elpiji bisa berkurang, meningkatkan ketahanan ekonomi keluarga dan nasional. Menggunakan LPG secara bijak berarti ikut beradaptasi menghadapi krisis energi global.
Effisiensi pembakaran LPG dapat ditingkatkan dengan cara-cara praktis seperti menjaga kebersihan kompor, menggunakan regulator standar SNI, mengatur ukuran api dengan tepat, menutup panci saat memasak, dan memilih alat masak yang efektif. Kebiasaan sehari-hari seperti ini bisa membuat perbedaan signifikan dalam konsumsi gas LPG di rumah.
Di antara upaya efisiensi tersebut, membersihkan kerak di kompor secara rutin sangat penting. Api biru menandakan pembakaran sempurna, sementara api yang berwarna kuning atau oranye menunjukkan pemborosan energi akibat kerak di tungku. Juga, menggunakan regulator SNI dapat menghindari kebocoran gas yang tidak disadari, yang dapat berbahaya.
Diolah dari laporan Tirto.id.

