ZONAUTARA.com – Nilai tukar rupiah berada pada posisi terendah sepanjang sejarah dengan menyentuh angka Rp17.500 per dolar Amerika Serikat pada perdagangan pagi, Selasa (12/5/2026), dan ditutup di angka Rp17.529 per dolar AS. Kondisi ini terjadi di tengah meningkatnya volatilitas pasar keuangan dunia yang dipicu ketidakpastian ekonomi internasional, serta gejolak harga energi dan komoditas.
Tekanan terhadap mata uang rupiah ini menimbulkan kekhawatiran domestik terkait potensi inflasi serta kenaikan biaya impor yang berimbas pada sektor usaha yang bergantung pada bahan baku dari luar negeri dan transaksi berbasis mata uang asing. Sejumlah analis pasar memprediksi tekanan terhadap rupiah masih akan terus berlanjut dalam jangka pendek selama ketidakpastian ekonomi global belum berkurang.
Tiffani Safinia, dari Research & Development Indonesia Commodity and Derivatives Exchange (ICDX), menjelaskan, “Penguatan dolar AS masih didorong oleh ekspektasi suku bunga tinggi The Fed yang bertahan lebih lama, meningkatnya permintaan aset safe haven di tengah ketegangan geopolitik Timur Tengah, serta kenaikan harga minyak dunia yang meningkatkan tekanan terhadap rupiah.”
Mata uang negara seperti India, Filipina, Korea Selatan, Thailand, dan Malaysia juga mengalami tekanan serupa. Mitul Kotecha dari Barclays mengungkapkan, “Bank sentral akan enggan menjual cadangan devisa mereka. Oleh karena itu, kita mungkin akan melihat langkah-langkah yang lebih kreatif untuk mendukung mata uang masing-masing.”
Situasi ini dipengaruhi ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang berdampak pada stabilitas pasar valuta asing global, termasuk Asia yang rentan terhadap gangguan pasokan energi. Diperkirakan 80 persen perdagangan minyak melalui Selat Hormuz mengarah ke Asia, menjadi perhatian bagi negara pengimpor energi seperti Indonesia. Dampak ini menambah tekanan pada sektor pangan dan energi global, memicu kenaikan inflasi di berbagai negara.
Diolah dari laporan Tirto.id.

