Connect with us

EDITOR'S PICK

AJI serukan penghentian teror dan kriminalisasi jurnalis

Dalam sepekan ada 14 jurnalis jadi korban kekerasan aparat dan kelompok massa.

Bagikan !

Published

on

Jakarta, ZONAUTARA.com – Polda Jaya Metro Jaya menangkap Dandhy Dwi Laksono, sutradara film dokumenter sekaligus pengurus nasional Aliansi Jurnalis Independen (AJI). Dandhy ditangkap di rumahnya di Pondokgede, Bekasi pada Kamis, 26 September 2019.

Berdasarkan kronologis YLBHI, Dandhy pada mulanya tiba di rumah sekitar pukul 22.30 WIB. Selang 15 menit kemudian datang polisi menggedor-gedor rumah Dandy membawa surat penangkapan.

Dandhy ditangkap karena cuitannya soal Papua yang diduga telah menimbulkan rasa kebencian, permusuhan individu dan atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan suku, agama, ras dan antargolongan (SARA).

Dandhy kemudian dibawa tim yang terdiri empat orang ke kantor Polda Metro Jaya dengan kendaraan D 216 CC mobil Fortuner sekitar pukul 23.05. Penangkapan tersebut disaksikan oleh dua satpam RT setempat. Dandhy kemudian dibebaskan sekitar jam 3.45 WIB setelah menjalani pemeriksaan selama lima jam.

Kendati demikian, Dandhy ditetapkan sebagai tersangka pasal ujaran kebencian terhadap individu atau suatu kelompok sebagaimana pasal 28 ayat 2 juncto pasal 45 A ayat 2 UU ITE.

Berselang sekitar satu jam, Polda Metro Jaya juga menangkap Ananda Badudu, anggota AJI Jakarta, pada pukul 04.25 WIB. Ananda diduga ditangkap atas keterlibatannya menggalang dana ke mahasiswa yang berdemonstrasi di depan Gedung DPR pada 23-24 September 2019.

Ia kemudian dibawa ke kantor Resmob Polda Metro Jaya pada pukul 04.55 WIB. Ananda akhirnya dibebaskan pada Jumat 27 September 2019 sekitar pukul 10.00 WIB setelah 5 jam menjalani pemeriksaan.

AJI menilai penangkapan dan penetapan tersangka ujaran kebencian terhadap Dandhy adalah bentuk ancaman serius terhadap hak kebebasan berpendapat dan berekspresi di Indonesia yang telah dijamin oleh konstitusi.

Pasal ujaran kebencian yang disangkakan terhadap Dandhy adalah salah satu pasal karet yang bermasalah dalam UU ITE. Pasal karet UU ITE sering dipakai untuk membungkam aktivis, jurnalis, dan warganet yang mengekspresikan pendapatnya melalui media sosial. Termasuk juga dengan yang dialami oleh Ananda Badudu.

Meski berstatus saksi, tapi penangkapan terhadap Ananda adalah tindakan sewenang-wenang dan menjadi teror bagi demokrasi. AJI menilai apa yang dilakukan oleh Ananda Badudu adalah tindakan solidaritas dan dukungan terhadap aksi mahasiswa yang sedang menyatakan pendapat di muka umum.

Oleh karena itu, AJI Indonesia mendesak, pertama Polda Metro Jaya mencabut status tersangka terhadap Dandhy Dwi Laksono dan membebaskannya dari segala tuntutan hukum.

Desakan kedua, Polda Metro Jaya untuk menghentikan penangkapan sewenang-wenang seperti yang dilakukan terhadap Dandhy Dwi Laksono dan Ananda Badudu.

Ketiga, Polda Metro Jaya meminta maaf dan merehabilitasi nama baik atas tuduhan yang disangkakan kepada Dandhy Laksono dan Ananda Badudu.

Keempat, mendesak Presiden RI Joko Widodo untuk mereformasi Polri atas serangkaian kasus kekerasan terhadap jurnalis di Papua dan pada aksi unjuk rasa di berbagai kota pada 23-24 September 2019.

Hasil rekapitulasi AJI Indonesia dalam sepekan ini, tercatat 14 jurnalis menjadi korban kekerasan aparat dan kelompok massa, serta korban penangkapan dan kriminalisasi.

Selain Dandhy dan Ananda yang menjadi korban penangkapan dan kriminalisasi, jurnalis korban kekerasan aparat antara lain tersebar di Jakarta, Makassar, Palu dan Jayapura.

Editor: Ronny Adolof Buol

Bagikan !

HEADLINE

Jateng diklaim bebas corona, pasien yang meninggal karena infeksi paru-paru

Sebelumnya pasien yang meninggal itu bepergian ke Spanyol dan Dubai.

Bagikan !

Published

on

Sebagai ilustrasi: Para pekerja medis dengan mengenakan pakaian pelindung memeriksa seorang pasien di dalam bangsal terisolasi Rumah Sakit Palang Merah Wuhan di Wuhan, pusat penyebaran wabah virus corona baru, di Provinsi Hubei, China, 16/2/2020. (ANTARA/China Daily/ via REUTERS/tm)

ZONAUTARA.COM – Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah Yulianto Prabowo memastikan wilayah Jawa Tengah bebas dari virus corona, setelah salah satu pasien suspect corona meninggal di Semarang pada Minggu (23/2/2020) lalu.

Penyebab kematian pasien suspect corona itu sempat ditutupi. Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy bahkan sebelumnya, menyebut penyebab kematian tersebut bersifat rahasia.

Namun Yulianto, dikutip dari CNN Indonesia mengatakan pasien yang meninggal itu karena menderita penyakit infeksi paru-paru akut.

Yulianto pun menjelaskan pihaknya sempat melakukan observasi terhadap 16 orang yang mengalami gejala mirip corona, yakni demam tinggi, batuk dan sesak nafas.

Berdasarkan hasil pemeriksaan, 15 orang telah dinyatakan negatif corona. Sementara seorang meninggal dunia setelah dirawat selama empat hari di RSUP Kariadi Semarang.

“Kita sempat observasi 16 orang, dan hasilnya 15 dinyatakan bebas corona, namun yang seorang di Rumah Sakit Kariadi meninggal tapi karena infeksi paru-paru akut,” kata Yulianto di Kantor Gubernur Jawa Tengah, Rabu (26/2).

“Memang awalnya sempat kita nyatakan suspect karena yang bersangkutan dari bepergian ke Spanyol dan Dubai,” tambahnya.

“Jawa Tengah sampai saat ini terbebas dari corona. Laporan secara menyeluruh, sejumlah pasien yang diobservasi di beberapa rumah sakit telah dipastikan tidak terjangkit Covid-19“, kata Yulianto.

Pemprov Jawa Tengah mengantisipasi penyebaran virus corona di setiap pintu masuk kedatangan dari luar negeri, seperti jalur pelabuhan dan bandara. Di titik itu, pemerintah menempatkan petugas dan membangun posko untuk mendeteksi setiap penumpang yang datang.

Masyarakat Jawa Tengah, khususnya Kota Semarang, sempat dibuat panik dan khawatir menyusul informasi pasien suspect corona meninggal di RSUP Kariadi. Pasien itu dirawat beberapa hari di ruang steril dan terisolasi khusus karena gejala yang dialami mirip virus corona.

Pasien tersebut dirawat di RSUP Kariadi sejak 19 Februari lalu. Dia menderita demam tinggi, batuk dan sesak napas setelah bepergian dari Spanyol dan Dubai.

“Tindakannya seperti kita menangani pasien-pasien sebelumnya atau flu burung pasien dengan apa yang dengan penularannya tinggi kita lakukan perlakuan khusus. Pasien itu dibersihkan di ICU kemudian dilapisi tiga lapisan plastik, pasien tidak boleh dimandikan di rumah jadi dimandikannya di ICU bungkus 3 lapis plastik kemudian kita masukkan di peti dan kita berpesan kepada keluarga bahwa peti tidak boleh dibuka,” ujar Kepala Bidang Pelayanan Medis RSUP dr Kariadi, Nurdopo Baskoro.

Editor: Rahadih Gedoan

Bagikan !
Continue Reading

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com