Connect with us

Ekonomi dan Bisnis

Indonesia akan bangun transportasi tanpa sopir

Targetnya pada 2021 ujicoba sudah berjalan.

Bagikan !

Published

on

Ilustrasi mobil tanpa sopir. (Foto: gsa.europe.eu)

ZONAUTARA.com – Indonesia akan membangun sistem transportasi tanpa sopir atau autonomous vehicle, dan transportasi tenaga listrik (electrical vehicle). Targetnya pada akhir 2021 sistem transportasi itu sudah berjalan diujicoba.

Hal itu ditegaskan oleh Menteri Budi Karya Sumadi menanggapi keinginan Presiden Joko Widodo. Kepala Negara sebelumnya menyatakan ingin sistem transportasi massal dan pribadi di ibu kota negara baru yang berlokasi di Kalimantan Timur hanya menggunakan electrical vehicle dan autonomous vehicle. Tujuannya, agar sistem transportasi Indonesia lebih modern, lebih murah, cepat, dan bebas macet.

“Kami ingin menjadi contoh dan magnet baru bagi kota di Indonesia, maka perlu transportasi yang ideal dan akan kami lakukan secara bertahap berupa electrical dan autonomous. Mungkin akan dimulai di akhir 2021,” ujar Budi Karya di Kompleks Istana Kepresidenan, Kamis (16/1).

Budi Karya menjelaskan proses pembangunan proyek uji coba akan dimulai melalui kajian penerapan sistem transportasi di berbagai negara. Pasalnya, Indonesia terbilang baru pada sistem ini.

Saat ini, Indonesia memang sudah berorientasi pada mobil listrik, namun juga masih pada tahap uji coba. Sementara di transportasi massal, pemerintah sebenarnya sudah menjajal sistem serupa di Moda Raya Terpadu (Mass Rapid Transit/MRT) dengan rute Lebak Bulus-Bundaran HI dan kereta bandara, namun dasar hukum dan penerapannya masih menggunakan supir.

Bila kajian sudah cukup matang, sambung Budi Karya, pemerintah akan mencari rekan kerja sama melalui proses penawaran proyek alias tender. Utamanya, pemerintah akan menawari penggarapan proyek sistem transportasi ini kepada pihak-pihak yang sudah berpengalaman menggarapnya.

“Kami akan melelang bagi pihak yang bisa menjadi partner, mereka yang mempunyai teknologi. Karena setelah kami melelang, dia akan merekomendasikan kepada kami teknologi, sarana, prasarana itu diberikan oleh konsultan, dan kami harus hati-hati melakukan itu,” tuturnya.

Setelah itu baru proses pembangunan proyek uji coba dilakukan. Rencananya, kata Budi Karya, pemerintah ingin memulai uji coba pada sistem transportasi bus listrik.

“Kami coba pertama kali adalah angkutan listrik atau trem di beberapa kota dengan listrik di atasnya, (namanya) troly bus di Eropa. Kami lihat apa kelebihan dan kekurangannya, tapi sementara pakai pengemudi, kalau sudah merasa baik, kami tingkatkan ke autonomous,” jelasnya.

Uji coba akan dilangsungkan di Puncak, Bogor, Jawa Barat atau Kuta, Bali dengan ketentuan masa tunggu setiap 10 menit dan berhenti setiap 5 kilometer (km). Budi mengatakan dua lokasi itu jadi pertimbangan karena cukup padat, apalagi ketika masa libur tiba.

“Setelah itu (di Kuta), kami beranjak dengan rute Kuta-Buleleng, bikin 80 km. Kami bikin jalur khusus dan kami mau bikin dari troly bus jadi (bus) gandeng dua sampai tiga, sehingga dedicated,” terangnya.

Dari sisi pengerjaan, Budi Karya estimasi proyek uji coba akan rampung dalam waktu dua tahun, sehingga bila dimulai pada akhir 2021, maka selesai pada 2023. Setelah itu, pada 2024, bisa digunakan secara komersil.

Sementara dari sisi kebutuhan dana, mantan direktur utama PT Angkasa Pura II (Persero) itu memperkirakan setidaknya butuh Rp5 triliun untuk membangun proyek uji coba. Kendati begitu, ia mengaku belum mengantongi calon sumber pendanaan proyek, meski sempat beredar kabar bahwa Softbank, perusahaan telekomunikasi dan media asal Jepang tertarik menggarap proyek tersebut.

“Belum, saya tidak tahu, tapi yang mau itu banyak, dari dalam negeri dan luar negeri,” imbuhnya.

Selanjutnya, bila proyek uji coba selesai, maka pemerintah akan menerapkan uji coba tahap dua di kawasan ibu kota negara baru. Rencananya, uji coba sistem transportasi listrik dan tanpa supir akan dilakukan di jalan tol yang menghubungkan Kota Balikpapan dengan kawasan ibu kota baru yang terletak di Kecamatan Samboja, Kabupaten Penajam Paser Utara dan Kecamatan Sepaku Semoi, Kabupaten Kutai Kertanegara di Kalimantan Timur.

“Tahap awal menggunakan jalan tol atau jalan bypass yang dibangun dari Balikpapan ke ibu kota baru, sehingga tidak mahal. Yang pertama kali bus, tapi nanti lanjut ke train (kereta), jadi kami tingkatkan,” pungkasnya.

| CNN Indonesia

Bagikan !
Advertisement
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Ekonomi dan Bisnis

Menimbang terbaik antara rokok tembakau atau rokok elektrik

Rokok elektronik 95 persen lebih tidak berbahaya bagi kesehatan.

Bagikan !

Published

on

zonautara.com

ZONAUTARA.com – Persoalan kebiasaan merokok bagi seseorang memang tak mudah diatasi. Apalagi kebiasaan di Indonesia. Wajar saja jika di Indonesia produksi per tahun dari sekitar 400 perusahaan rokok tembakau mencapai 252 miliar batang.

Di antara kecemasan penurunan produksi sekitar 20 persen akibat ancaman rencana pemberlakuan kenaikan tarif cukai rokok oleh pemerintah yang rata-rata sebesar 21,56 persen dan juga kenaikan harga jual eceran mencapai 23 persen, rokok tembakau kini punya penantang baru, yaitu rokok elektrik.

Sementara bila ditimbang mana yang terbaik, rokok elektrik dinilai lebih unggul. Ranti Fayokun, peneliti National Capacity-Tobacco Control Prevention of Noncommunicable Diseases dan juga perwakilan WHO, menyatakan bahwa produk rokok konvensional atau rokok tembakau lebih berbahaya dibandingkan dengan rokok elektrik.

zonautara.com
Ilustrasi (Pixabay.com)

Pernyataan Fayokun tersebut disampaikan dalam sesi dengar pendapat yang diadakan oleh House of Representatives Philipina, Desember 2019, seperti yang dirilis Suara.com. Fayokun mengatakan, pernyataannya tersebut didukung berdasarkan hasil penelitian Public Health England, yang merupakan bagian dari Department of Health and Social Care United Kingdom.

Duncan Selbie selaku Chief Executive Public Health England menyatakan bila rokok elektronik 95 persen lebih tidak berbahaya bagi kesehatan dibandingkan rokok biasa, serta berpotensi membantu perokok untuk berhenti.

Memang vape tidak 100 persen aman, namun kebanyakan zat yang menyebabkan penyakit karena merokok tidak ditemukan pada vape, serta bahan kimia yang ada menimbulkan bahaya yang terbatas.

Pernyataan dari Fayokun diperkirakan akan berpengaruh bagi pengguna vape dan rokok elektrik di Indonesia. Di Indonesia sendiri, hingga Desember 2019 pengguna vape di Indonesia sudah mencapai satu juta orang. Data tersebut diperoleh dari Asosiasi Personal Vaporizer Indonesia.

Berdasarkan berbagai penelitian, produk alternatif ini memiliki profil risiko lebih rendah dibandingkan rokok konvensional yang dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan, seperti kanker, serangan jantung, diabetes dan lainnya. Di sisi lain, pengguna vape di Indonesia berasal dari berbagai kalangan profesi.

Sementara Ketua Umum Aliansi Pengusaha Penghantar Nikotin Elektronik Indonesia (APPNINDO) Syaiful Hayat mengatakan bahwa APPNINDO menyambut baik hasil penelitian mengenai rokok elektrik. Pada kenyataannya, rokok elektrik lebih aman dari rokok konvensional karena risiko terhadap kesehatan yang ditimbulkan jauh lebih rendah.

“Hal tersebut menjadikan rokok elektrik sebagai alternatif bagi rokok konvensional. Kami terbuka untuk diskusi agar peraturan terkait rokok elektrik di Indonesia dapat menunjukkan dampak positif untuk produktivitas dan kesehatan masyarakat,” lanjutnya.

Bagikan !
Continue Reading

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com