ZONAUTARA.comFirdaus Syam, wartawan senior di Kota Manado, memiliki puluhan koleksi masker. Pekerjaannya sebagai wartawan yang beresiko penularan Covid-19, membuatnya memiliki banyak koleksi masker.

Sosok ini lebih dikenal orang-orang sebutan Opa Daus. Stringer media televisi yang satu ini tidak asing di kalangan jurnalis di Kota Manado, bahkan di Sulawesi Utara (Sulut).

Nyaris semua wartawan mengenal sosok pria berusia 58 tahun ini. Selain itu, pria berkumis ini juga tenar di kalangan anggota polisi, mulai dari yang berpangkat Brigadir Dua hingga Perwira Tinggi.

Meski sudah memasuki usia senja, anggota Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Sulut ini tetap terlihat enerjik. Bahkan ketika pandemi Covid-19 telah masuk di Bumi Nyiur Melambai ini, mantan wartawan SCTV ini tetap eksis meliput.

Walaupun pemerintah menerapkan syarat dan kebijakan bagi warga untuk bisa beraktivitas di luar rumah. Salah satu syarat tersebut adalah larangan bagi anak-anak dan orang tua berusia 45 tahun ke atas. Tapi, jiwa kewartawanannya tidak luntur.

“Intinya bagaimana kita menerapkan protokol kesehatan secara disiplin ketika beraktivitas di luar rumah. Seperti masker, itu wajib dipakai terus,” ujar Opa Daus.

Untuk menerapkan protokol kesehatan, puluhan masker dimilikinya dari masker medis biasa hingga KN95, serta masker scuba. Masker-masker itu digunakan secara bergantian.

Tidak heran jika melihat bagasi motornya akan telihat banyaknya masker. Begitu juga dengan hand sanitizer yang telah menjadi penghuni tetap di dalam tas yang dibawanya.

Karena mempunyai banyak masker, terkadang dibagikannya kepada rekan jurnalis atau kenalannya.

“Sebagian yang masih baru saya simpan di bagasi motor, siapa tahu ada teman yang lupa membawa masker, ya saya berikan,” tuturnya.

Untuk masker medis, ia mendapatkannya dengan memesan secara online. Sedangkan masker lainnya diperoleh dengan membeli dari penjual di pinggir jalan karena suka dengan logo atau tulisan di masker.

Tapi terkadang, ia membuat logo masker sendiri seperti logo Hunter News Crime (HNC), nama komunitas wartawan peliput di Polresta Manado.

“Jadi yang masuk dalam komunitas wartawan pos liputan Polresta Manado saya berikan,” ujarnya.

Ia tidak lagi pulang larut malam seperti lazimnya kebanyakan wartawan liputan hukum dan kriminal (hukrim). Jika wartawan pos hukrim selalu bangun kesiangan, Opa Daus tidak lagi seperti itu.

“Kami bahkan selalu ketinggalan liputan di waktu pagi hari darinya,” kata Marwan, kontributor TV One.

Tak jarang karena menjadi wartawan pos liputan hukrim ia harus turun lapangan dan berdesak-desakan dengan orang-orang, hanya karena ingin mendapatkan gambar atau video untuk dijadikan berita. Tapi ia kemudian membatasinya untuk tidak lagi berdesak-desakan.

“Terkadang kita lupa karena ingin dapat gambar yang bagus tapi lupa kalau sudah saling berdesakan, harusnya kita tetap menjaga jarak agar tetap aman dari corona,” ujar Opa Daus.

Pola hidup sehat juga dijalankannya selama pandemi Covid-19. Meski jarang berolahraga, tapi mengkonsumsi makanan sehat dan vitamin serta banyak minum air putih.

Peliput: Asrar Yusuf/beritakawanua.com




=======================
Visualisasi data dibawah ini merupakan sajian otomatis hasil kerjasama Zonautara.com dengan Katadata.co.id