ZONAUTARA.com – Selama tujuh tahun, Juliasah Tatensili (32) mendedikasikan hidupnya sebagai fisioterapis untuk anak-anak difabel di Panti Asuhan Sayap Kasih, Tomohon. Baginya, pekerjaan ini lebih dari sekadar profesi. Ini adalah panggilan hati untuk merawat mereka yang membutuhkan kasih sayang dan perhatian khusus.
Panti Asuhan Sayap Kasih, yang berdiri sejak 2001 di bawah naungan Yayasan Yamaru Sayap Kasih, kini menampung 35 penghuni, terdiri dari 17 anak-anak dan sisanya dewasa.
Sebagian besar berasal dari berbagai daerah di Sulawesi Utara, bahkan hingga Kotamobagu. Beberapa anak hanya tinggal bersama nenek mereka, sementara orangtua kandung jarang atau bahkan tidak pernah datang menjenguk.
“Tantangan terberat adalah saat mereka sakit, apalagi kalau tidak tercover BPJS. Dulu ada BPJS gratis, tapi sekarang sudah berbayar,” kata Juliasah.
Kebutuhan panti ditopang oleh bantuan Dinas Sosial berupa sembako setiap tiga bulan, serta donasi dari para dermawan. Namun, bantuan tersebut tidak selalu stabil. Para pengasuh tetap mendapat gaji bulanan, meski di bawah UMP, sehingga panti sangat bergantung pada donatur dan dukungan pemerintah.
Rutinitas di panti dimulai sejak pukul 06.00, ketika anak-anak sudah bangun. Setelah sarapan pukul 07.00, para pengasuh memandikan mereka karena sebagian besar tidak mampu melakukannya sendiri. Juliasah memberikan terapi untuk mencegah kondisi mereka memburuk.
Juliasah mengaku awalnya tidak berniat bekerja di panti ini. “Saya belum dapat pekerjaan waktu itu. Senior di sini bilang, kalau bukan kita siapa lagi? Saya pikir, kalau anak-anak ini tidak ada yang mengurus, bagaimana nasib mereka?” ujarnya.
Meski sempat mendapat dorongan dari sebagian orangtua anak panti agar menjadi ASN, Juliasah memilih tetap mengabdi di Sayap Kasih.
“Kalau hanya mengandalkan gaji, saya sudah lama pergi. Tapi saya bertahan karena sayang sama anak-anak ini,” tegasnya.
Panti Asuhan Sayap Kasih sendiri merupakan lembaga Katolik, namun tetap menyediakan fasilitas ibadah bagi penghuni yang beragama lain.
“Seperti anak bernama Ruth, kami siapkan tempat sholat untuknya. Natal pun kami rayakan bersama, begitu juga liburan,” jelasnya.
Bagi Juliasah, setiap senyum dan kemajuan kecil anak-anak adalah kebahagiaan tersendiri.
“Meskipun ada teman kerja yang menjatuhkan, saya tetap memprioritaskan anak-anak. Selama saya bisa, saya akan tetap di sini,” tutupnya dengan mata berkaca-kaca.


