ZONAUTARA.com – Nilai Tukar Petani (NTP) dan Nilai Tukar Usaha Petani (NTUP) di Sulawesi Utara (Sulut) mengalami penurunan ringan pada Juni 2025.
Menurut data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulut, NTP turun 0,60% menjadi 130,35, sementara NTUP anjlok 0,78% ke 135,79.
Meski demikian, angka di atas 100 menandakan petani masih mengalami surplus, artinya pendapatan lebih tinggi dari pengeluaran.
NTP adalah rasio antara harga yang diterima petani atas hasil produksinya dengan harga yang dibayar untuk kebutuhan hidup dan produksi, sementara NTUP lebih fokus pada biaya produksi saja.
Keduanya berguna untuk mengukur kesejahteraan petani, seperti daya beli terhadap barang sehari-hari.
Penurunan ini disebabkan oleh fluktuasi harga di subsektor hortikultura (turun 5,33% NTP) dan peternakan (turun 1,51%), akibat penurunan harga tomat dan babi.
Sebaliknya, subsektor tanaman pangan naik 1,80%, didukung kenaikan harga cabai rawit.
Lihat tabel sederhana di bawah ini untuk tren subsektor (m-to-m):
| Subsektor | Perubahan NTP (%) | Perubahan NTUP (%) |
|---|---|---|
| Tanaman Pangan | 1,80 | 1,50 |
| Hortikultura | -5,33 | -5,69 |
| Tanaman Perkebunan Rakyat | 0,35 | 0,24 |
| Peternakan | -1,51 | -1,64 |
| Perikanan | -0,19 | -0,13 |
| Gabungan | -0,60 | -0,78 |
Bagi petani sulut, ini berarti perlu waspada terhadap penurunan daya beli, terutama di hortikultura.
BPS menyatakan, “Gorontalo menjadi satu-satunya provinsi di Sulawesi yang mengalami kenaikan NTP dan NTUP”.
Untuk memahami analisis data dan penjelasan tentang NTP dan NTUP ini, dapat membaca artikel kami di sini:



