ZONAUTARA.com – Anggota Komisi XI DPR RI Marwan Cik Asan mengimbau pemerintah dan Bank Indonesia (BI) untuk menjaga kepercayaan pasar di tengah tekanan terhadap nilai tukar rupiah yang melemah hingga mencapai Rp17.500 per dolar AS. Menurutnya, situasi ini mengindikasikan adanya tekanan eksternal dan domestik yang terjadi bersamaan.
Meski demikian, Marwan menegaskan bahwa kondisi ekonomi Indonesia saat ini tidak bisa disamakan dengan krisis 1998. “Cadangan devisa Indonesia masih berada pada level aman, rasio utang pemerintah terhadap PDB masih terkendali, sistem perbankan relatif sehat, dan rezim nilai tukar mengambang memberikan ruang penyesuaian alami terhadap guncangan global,” ungkapnya dalam keterangan tertulis, Kamis (14/5).
Namun, Marwan mengingatkan agar pelemahan rupiah tidak dianggap sepele. Volatilitas nilai tukar yang terlalu tinggi dapat memicu inflasi impor, meningkatkan biaya utang luar negeri, dan menekan daya beli masyarakat serta iklim investasi. Ia meminta pemerintah dan BI segera merespons dengan kebijakan terukur, terkoordinasi, dan berfokus pada jangka panjang.
Ia juga mengapresiasi pembatasan pembelian dolar AS tanpa underlying transaction, tetapi meminta hal tersebut dilakukan secara hati-hati agar tidak menimbulkan kepanikan baru. Selain itu, percepatan penggunaan skema Local Currency Settlement (LCS) dengan negara mitra dagang seperti China, Jepang, dan India dinilainya penting untuk mengurangi ketergantungan pada dolar AS.
Marwan menambahkan bahwa stabilisasi rupiah tidak sepenuhnya bisa dibebankan kepada BI. Kementerian Keuangan juga berperan penting dalam menjaga stabilitas pasar surat utang negara dan memastikan kebijakan fiskal berjalan dengan disiplin. “Pendekatan gradual dan berbasis data menjadi pilihan terbaik untuk meredam spekulasi dan membangun kepercayaan pasar,” tutupnya.
Diolah dari laporan CNN Indonesia.

