ZONAUTARA.com – Banyak orang sakit di Indonesia yang dirawat di rumah sakit dengan penyakit tertentu, tapi justru menjadi pasien Covid-19. Kondisi banyak membuat pihak keluarga atau kerabat dan kenalan dari orang sakit yang kemudian berstatus positif Covid-19 mengeluh.

Di Sulawesi Utara (Sulut) misalnya, keluhan masyarakat awam yang serupa terbilang sangat banyak. Beberapa di antaranya menyampaikan keluhan dan keberatannya melalui media sosial yang pasti terakses banyak pengguna dunia maya.

Masyarakat awam ada yang menganggap bahwa dengan rekam medik yang telah diketahui sebelumnya, misalnya gagal ginjal, hanyalah hasil rekayasa medis saja bila akhirnya meninggal dalam status Pasien Dalam Pengawasan atau PDP.

Perlahan terbentuk opini publik yang menuding pihak rumah sakit sengaja meng-covid-kan orang sakit yang dirawat di fasilitas kesehatan dan memanfaatkannya untuk meraup keuntungan bila akhirnya meninggal sebagai pasien Covid-19. Padahal soal biaya yang ditanggung pemerintah tersebut telah diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan No. 275/ MK.02/2020 dan jumlahnya tergolong kecil untuk tudingan bisnis.

Di masa pandemi seperti sekarang ini masyarakat takut terpapar SARS CoV 2 dan kini ditambah lagi ketakutan masyarakat jangan sampai di-covid-kan. Opini seperti ini kian menjadi bola liar yang sulit dikendalikan. Keraguan terhadap validitas medis soal pasien Covid-19 juga sempat ditunjukkan secara implisit oleh Bupati Sitaro Evangelin Sasingen yang melarang warganya memposting orang sakit di media sosial.

Klarifikasi Satgas Percepatan Penanganan Covid-19 Sulut

Lalu bagaimana penjelasan medis? Juru bicara Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Penanganan Covid-19 Sulut Steaven Dandel menjelaskan soal ini dari sudut pandang data medis kepada wartawan Zona Utara, Minggu (25/10/2020).

zonautara.com

“Saya jelaskan menggunakan data dan hasil pemeriksaan yang dilihat oleh dokter yang ada di ruang IGD. Gambar di atas adalah foto dari pemuda umur 19 tahun yang datang ke salah satu IGD rumah sakit karena kecelakaan lalu lintas dengan cedera yang berat yang mengakibatkan beberapa tulang patah,” kata dokter Steaven, sapaan akrabnya, ketika memulai penjelasannya.

Sebelum dokter menanganinya, lanjut dokter Steaven, sesuai Standard Operational Procedure, semua pasien harus difoto bagian dadanya atau thorax. Kenapa demikian? Karena deteksi dengan foto thorax lebih cepat untuk melihat kondisi paru-paru bila terjadi pneumonia daripada harus menunggu hasil swab.

“Hasil di atas menunjukkan bahwa paru-paru yang bersangkutan terdapat pneumonia berat di kedua sisi paru. Pneumonia adalah gejala berat dari Covid,” ujarnya.

Dengan hasil tersebut, pasien kemudian dinaikkan status menjadi suspek Covid-19, walaupun datang dengan patah tulang akibat kecelakaan. Sebagai pasien berstatus suspek Covid-19, pelayanan medisnya harus dipisah dari pasien lainnya.

“Kalau akan dioperasi, dia harus dioperasi di ruang operasi khusus. Kalau menggunakan ruang operasi biasa maka bisa saja menularkan ke orang lain bila nanti hasil swabnya positif,” terang dokter Steaven.

zonautara.com

Sebagai perbandingan, imbuhnya, gambar di atas adalah foto thorax dokter Steaven yang diambil bulan September 2020. Hasil pemeriksaannya normal walaupun datang ke IGD dengan keluhan batuk-batuk.

“Saya ikhlas bila dinyatakan suspek Covid 19. Tapi ternyata hasil foto dan swab negatif,” akunya.

zonautara.com

Gambar terakhir ini foto thorax pasien yang meninggal akibat Covid-19. Gejala utamanya adalah gagal ginjal dan sudah dirawat 2 minggu di salah satu rumah sakit di satu kabupaten. Keluarga bersikeras bahwa yang bersangkutan tidak ada batuk dan sesak.

“Tapi hasil swabnya positif. Kalau dokter ikut desakan keluarga dan dirawat di ruang biasa, berarti semua pasien di ruangan yang dirawat dengan yang bersangkutan bisa tertular,” tegas dokter Steaven.

Bagikan !