ZONAUTARA.com – Indonesia dan Filipina menandatangani Nota Kesepahaman Strategic Nickel Industry Development Cooperation di sela KTT Ke-48 ASEAN, Kamis (7/5/2026). Kesepakatan ini dilakukan antara Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) dan Philippine Nickel Industry Association (PNIA) untuk mengintegrasikan pasokan bijih nikel Filipina ke dalam ekosistem hilirisasi Indonesia yang menguasai dua pertiga produksi nikel global.
Penandatanganan tersebut berlangsung di forum Indonesia-Philippines High Level Business Roundtable yang diadakan di Jpark Island Resort, Cebu, Filipina. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI Airlangga Hartarto dan Menteri Perdagangan dan Industri Filipina Maria Cristina A. Roque turut menyaksikan acara ini. Kegiatan ini juga bertepatan dengan kunjungan resmi Presiden Prabowo Subianto ke Filipina untuk menghadiri KTT ASEAN Ke-48.
“Kolaborasi ini bukan sekadar kerja sama biasa. Ini adalah fondasi bagi Indonesia-Philippines Nickel Corridor, sebuah platform terstruktur yang menghubungkan kekuatan hilirisasi dan smelter Indonesia dengan pasokan bijih nikel hulu dari Filipina. Ini akan menjadi poros cadangan dan produksi nikel yang tak terpisahkan bagi dunia,” ujar Airlangga dalam keterangan pers, Jumat (8/5/2026).
MoU ini mencakup tiga ruang lingkup kerja sama, yaitu pertukaran informasi untuk stabilisasi perdagangan nikel regional dan global, pengembangan teknologi hilirisasi nikel, serta pengembangan sumber daya manusia untuk mendukung ekosistem industri nikel berkelanjutan.
Berdasarkan data United States Geological Survey (USGS) 2026, Indonesia menyumbang 66,7 persen atau 2,6 juta ton produksi nikel global pada 2025, sementara Filipina menyumbang 6,9 persen atau 270.000 ton. Airlangga menambahkan bahwa smelter di Indonesia membutuhkan pasokan bijih nikel yang stabil, yang dapat dipenuhi melalui bijih nikel Filipina lewat proses blending.
Diolah dari laporan Tirto.id.

