Connect with us

PROFIL

Awalnya Tak Tahu, Juan Akhirnya Sukses Perankan Semateir

Published

on

MANADO, ZONAUTARA.com — Pernah menjadi aktor terbaik dalam dalam lomba teater Remaja Sinode GMIM, membuat Juan Jeremi Efraim Taiwilang semakin percaya diri dalam berakting.

Pemeran Tilung pada film Semateir ini menceritakan pengalamannya saat syuting. “Secara umum tak ada yang susah saat pengambilan gambar. Karena sebelumnya kami sudah latihan selama dua minggu. Namun tantangannya adalah ketika kita harus berakting menangis,” ujar putra tercinta dari Arnold Taiwilang dan Delviana Dandel, Selasa (29/8/2017).

Peraih aktor terbaik pada Festival Natal Tingkat Umum Marina Christmas Festival ini menceritakan, selama latihan dia harus mengahafal naskah film Semateir.

Saat ditawari berperan sebagai Semateir, dia mengaku belum tahu apa itu Semateir. “Ternyata Semateir itu adalah penjaga sawah. Yang menjaga sawah agar tidak ada burung atau hewan lain yang menggangu pertumbuhan padi hingga bisa panen.” tambahnya.

Beberapa lokasi yang dipakai untuk mengambil gambar, kata dia, yaitu di Tondano, Sindulang dan Pasar Tuminting. namun yang paling berkesan di Pasar Tuminting karena banyak orang, rasa malu dan canggung harus bisa dihiulangkan,” kata siswa kelas IX SMP Kristen Nazareth Manado ini.

Bagi dia, bergabung selama satu tahun dalam Sanggar Kreatif Nazareth memberikan banyak pengalaman. Apalagi aktivitasnya didukung orang tua. “Di sanggar saya bisa menyalurkan hobi. Dan kalau ada tawaran untuk main film, pasti mau,” ujar Juan yang hobby Matematika ini.

 

 

Comments

comments

Click to comment

Komentar

PROFIL

Suka Duka Pengajar Tari Kabasaran

Published

on

zonautara.com

MANADO, ZONAUTARA.com – Karena kecintaannya terhadap nilai-nilai luhur budaya Minahasa, Berthy Semen Koraag (50) akhirnya menggeluti profesi sebagai pelatih tarian Kabasaran.

Warga Jaga VII, Desa Pineleng Satu, Kecamatan Pineleng, telah belasan tahun menggeluti profesi tersebut. Dari polsesan tangan pemilik Sanggar Waraney Toto Kaye ini, muncul beberapa kelompok tarian Kabasaran yang hingga kini cukup eksis keberadaannya.

“Saya pernah melatih kelompok Kabasaran Desa Tinoor. Mereka pernah menyabet juara satu pada Festival Kota Bunga tahun 2014,” ujar Semen, sapaan akrabnya.

Menurut dia, kelompok tari Kabasaran Desa Tinoor, adalah salah satu dari sekian kelompok tari yang pernah dilatihnya. Ada juga kelompok tari Kabasaran Desa Warebungan, Sea, Batu Kota dan Pineleng.

Bahkan ada juga beberapa kelompok kategorial, diantaranya Kaum Bapa Katolik (KBK) dan Pemuda Katolik Paroki Pineleng dan Hati Kudus Karombasan, Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI) Watutumou, Maumbi.

Menariknya, ada beberapa sekolah juga turut dilatihnya, seperti TK Esa Toroan dan SD GMIM Pineleng serta kelompok siswa SMK Negeri 1 Manado.

Dalam usahanya melatih tarian Kabasaran, dirinya tidak pernah mematok harga. Dalam proses latihanpun, dia harus banyak bersabar menghadapi karakter dari masing-masing orang.

Atas kecintaannya terhadap tarian Kabasaran ini, dia harus benar-benar memberi diri, tenaga dan bahkan waktu yang dimilikinya, demi lestarinya tarian Kabasaran.

Meski demikian, ayah dari empat orang anak ini ternyata mampu memberikan perhatian yang sama besarnya antara tugas dan keluarga.

“Puji Tuhan, anak tertua saya sudah menyelesaikan kuliah, sedangkan yang kedua dan ketiga sementara kuliah dan yang bungsu sementara duduk di bangku SMA,” ujarnya.

Kunci dari semua kegiatannya ini, kata Semen, yakni tetap berdoa dan mengucap syukur atas semua karunia Tuhan.

 

Editor: Eva Aruperes

Comments

comments

Continue Reading

PROFIL

Jalan Panjang Sang Pendidik

Published

on

zonautara.com

MANADO, ZONAUTARA.com – Bila disuruh bebas memilih, daripada lelah percuma mengajar di sebuah tempat tanpa gaji, bagi orang lain mungkin akan lebih memilih jadi penjual Nasi Jaha yang punya income. Tapi hal itu tak mungkin dilakukan seorang Dientje Kahumata.

Baginya, dunia pendidikan adalah sebuah ruang pengabdian yang tak terbatas. Sehingga kala mendapati kenyataan bahwa pengabdiannya tak akan menerima uang sepeser pun, langkah Dientje tidak surut. Begitulah awal kisah Dientje ketika tahun 1975 dipercayakan sebagai guru Sekolah Minggu di Gereja GMIM Yarden Dendengan Dalam, Manado. Di masa pengabdiannya itu, Dientje terlatih tidak menerima uang sepeser pun dalam kerja edukatif.

Kecintaannya pada bidang pendidikan, mengajari anak-anak menjadi tahu sesuatu, kian tumbuh subur sejak dari masa itu. Tahun 1978 Dientje mengabdi sebagai guru di SD GMIM XII Manado. Kemampuannya bertahan dalam kondisi sulit diuji. Selama dua tahun mengajar, ia tak menerima gaji sama sekali. Namun keinginan untuk mencerdaskan generasi bangsa tak lekang oleh keadaan.

Perempuan kelahiran tahun 1958 ini akhirnya diangkat jadi guru dengan status Pegawai Negeri Sipil pada tahun 1980. Sejak itu, Dientje baru bisa bernafas lega dan merasakan hasil jerih payahnya sebagai seorang guru. Dia kemudian terus larut dalam petualang profesi guru yang memang sangat dicintainya.

“Pengalaman sebagai guru merupakan hal yang luar biasa. Untuk menjadi guru yang sejati, suka-duka saya lalui dengan tabah dan tak pantang menyerah. Menjadi seorang guru adalah tugas yang paling mulia,” ungkap Dientje.

Tahun 1981, Dientje pun mengajar di SD GMIM XIX Manado dan tahun 198 pindah ke SDN 53 Ranomuut. Kemudian tahun 1988 Dientje ditugaskan di SDN 102 selama lima tahun hingga akhirnya ditugaskan kembali di SDN 53 Ranomuut sampai sekarang.

Diwawancarai wartawan Zona Utara di tempat kerjanya, Dientje bercerita susahnya keadaan saat masih mengenyam pendidikan di bangku Sekolah Pendidikan Guru (SPG) yang lokasinya kini ditempati Dinas Pendidikan Daerah Provinsi Sulawesi Utara. Setiap hari dia harus bangun subuh untuk membantu ibunya membuat kue Nasi Jaha dan dibawa ke pemesan sebelum sampai ke sekolah. Ada lima tempat yang harus disinggahinya.

“Ada yang masih beroperasi sampai sekarang. Rumah Kopi Tikala,” ingatnya.

Dari hasil jualan Nasi Jaha itulah Dientje mendapat biaya menyelesaikan pendidikan SPG, modal yang mengantarkannya mencintai dunia pendidikan hingga kini.

 

Editor : Christo Senduk/Rahadih Gedoan

Comments

comments

Continue Reading
%d bloggers like this: