Connect with us

SENI

Meraih Mimpi Dari Gatra Kencana

Seperti juga teater, film adalah kolektive art. Film tak bisa diproduksi oleh satu orang saja, seperti pelukis menghasilkan sebuah lukisan, atau penyair menghasilkan sebuah puisi.

Published

on

Pada akhirnya “Semateir” adalah sebuah ikwal sekaligus tonggak sejarah film dari Sulawesi Utara. Film  cerita anak produksi TVRI Sulut yang berdurasi kurang lebih satu jam ini diganjar anugerah Piala Gatra Kencana utama sebagai film anak terbaik di ajang Festival Film Anak Nusantara 2017.

Bukan cuma itu,  film televisi karya murni putra-putri Sulawesi Utara ini  memborong sekaligus 5 penghargaan khusus yaitu: Sutradara Terbaik, Penulis Naskah (Scenario) Terbaik, Penyunting Gambar (Editor) Terbaik, Juru Kamera Terbaik, dan Aktor terbaik.

Kemenangan film Semateir di ajang festival film nasional ini tak pelak adalah kebanggaan – kalau bukan masyarakat pada umumnya,  setidaknya bagi insan film– Sulawesi Utara.

Sebagai pemenang di ajang festival film nasional, konon kabarnya, Semateir diproyeksikan untuk disertakan pada festival film televisi tingkat Asia. Apakah Semateir mampu menggugah hati para juri kelas internasional itu? Tentu hal tersebut bukan perkara mudah – meski kita selalu harus punya mimpi dan harapan–, karena Asia punya sejumlah negara raksasa perfileman dengan kultur industry pembuatan film kelas dunia, di antaranya:  Korea, Jepang, Hongkong, Cina, India, dan masih banyak lagi.

Dan liputan tematik Zona Utara kali ini memang tidak akan membahas perkara itu. Kami lebih tertarik menelisik ruang kecil, ruang kreativitas insan perfileman Sulut yang awalnya kusam dan suram, namun tiba-tiba dijalari pendaran sinar kehidupan pasca kemenangan Semateir di ajang festival film nasional.

Kendati, bila diandaikan cermin, Semateir sudah barang tentu bukanlah cermin yang terlampau besar untuk menampung hasrat berkaca peliknya persoalan dunia perfileman di daerah ini. Namun setidaknya, seperti melihat ruang besar dari sebuah lubang kunci yang kecil, maka intipan liputan tematik ini mencoba menampilkan sejumlah tulisan yang moga ikut menggedor semangat kebangkitan kreatifitas film di Sulawesi Utara.

Setidaknya, sepuluh tahun terakhir demam pembuatan film mulai melanda Sulawesi Utara. Selain stasiun televisi Negara seperti TVRI dan Stasiun televisi swasta yang cukup rajin membuat film untuk memenuhi kebutuhan siaran mereka, sejumlah Even Organiser (EO) mulai mensasar film sebagai area garapan, meski baru sebatas untuk film-film spesifik seperti film acara perkawinan, dan film dokumenter untuk berbagai kegiatan organisasi pemerintah, swasta, atau perorangan.

Bahkan kegandrungan membuat film ini mulai melanda kalangan muda Sulut, baik secara kelompok, juga perorangan. Sekolah-sekolah menengah atas di Manado telah menjadikan pembuatan film sebagai kegiatan ekstrakulikuler. Sanggar-sanggar seni dan fotografi mulai merambah film sebagai “mainan baru” yang menantang kreatifitas mereka.

Membuat film sontak jadi mode kawula muda kita. Dengan berbekal smartphone sekelompok remaja tiba-tiba menghasilkan film pendek meskipun itu sebatas untuk tayangan di youtube atau dinding facebook mereka.

Demam pembuatan film ini kian terpicu oleh keterlibatan sejumlah produser film nasional  yang mulai marak menjajal pembuatan film produksi mereka di daerah ini. Pesona alam yang indah, kehidupan masyarakat yang terbuka. Keunikan seni budaya, dan bahkan bahasa adalah magnitude yang memikat para pembuat film.

Sejumlah film layar lebar nasional yang belum lama menjadikan Sulut sebagai lokasi pembuatannya diantara: “Hujan Bulan Juni” yang diangkat dari novel Sapardi Joko Damono, “Senjakala di Manado”, dan film “Tom and Jerry”.

Perkembangan dan ketersediaan tekhnologi mempermudah produksi sebuah film. Dimasa kini, dengan bermodalkan sebuah smartphone, sebuah film sudah dapat diproduksi. Apalagi dengan topangan perkembangan teknologi kamera digital yang juga bisa dioperasikan hingga di dalam air, teknologi drone yang mempermudah pengambilan gambar landscape dari ketinggian.

Apa semudah inikah membuat film? Bernaldy Laoming, sutradara film Semateir punya falsafah: “Bila pelukis melukis dengan warna, maka film melukis dengan cahaya.”  Bila anda berkeinginan mencari penjelasan dan implemetasi dari falsafah itu, anda haruslah membaca sejumlah konten tulisan dalam liputan tematik ini.

Seperti juga teater, film adalah kolektive art. Film tak bisa diproduksi oleh satu orang saja, seperti pelukis menghasilkan sebuah lukisan, atau penyair menghasilkan sebuah puisi.

Film dihasilkan oleh sebuah kerja kelompok yang ahli pada bidang masing-masing, seperti diantaranya, pengarang menghasilkan scenario. Sutradara mewujudkan alur cerita dan gagasan artistik dari scenario lewat acting para actor dan aktris. Kameraman memindahkan ide-ide yang diinginkan sutradara lewat tangkapan gambar. Tata cahaya menegaskan hasil gambar dengan siraman cahaya yang dibutuhkan. Artistik menggarap ketersediaan lokasi pengambilan gambar dengan segala latar yang dibutuhkan termasuk property dan hand property untuk pemain. Tata rias menggarap make up karakter setiap tokoh yang dituntut lewat scenario. Penata music menggarap kebutuhan music dan ilustrasi untuk menghidupkan suasana dalam setiap scene. Dan masih banyak lagi unit produksi lainnya yang dibutuhkan untuk mewujudkan sebuah produksi pembuatan film.

Sampai disini, kita bisa melihat dimana film pada akhirnya adalah elemen-elemen film itu sendiri. Film adalah hasil kerja artistik dan estetik. Meminjam jargon dunia sastra dari Budi Darma, “film yang baik adalah film yang dihasilkan oleh orang-orang yang tahu apa itu film, mengerti jenis film yang akan dikerjakannya, dan tahu mengerjakannya”.

Dari kerja semacam itulah tentu Film Semateir dihasilkan. Ada sejumlah orang dan ahli di balik sukses besar yang dituai Semateir di ajang festival film nasional, moga juga di tingkat Asia.

Semateir adalah film cerita pertama murni asal Sulawesi Utara yang menuai penghargaan utama nasional. Pada tahun 2016 lalu, film “Tulisan Dari Pulisan” yang juga produksi TVRI Sulut berhasil menyabet piala Gatra Kecana meski baru pada posisi juara III. Namun tahun ini Sulut membuktikan bahwa film kita bisa juara I. Dan film ini sekaligus menegaskan bahwa Sulawesi Utara punya pekerja dan sumber daya film yang biasa diandalkan.

Pertanyaannya, sudahkah Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara melihat sektor perfileman ini sebagai peluang pengembangan industry kreatif kita? Entahlah!

Ikuti Liputan Khusus kami soal ini: SEMATEIR

 

 

(Iverdixon Tinungki)

Comments

comments

Click to comment

Komentar

SENI

Sangihe Dalam Seni Kriya Alffian Walukow

Published

on

zonautara.com
Pameran Kriya karya Alffian Walukow.(Foto: zonautara.com/Rendy Sasela)

SANGIHE, ZONAUTARA.com – Mewujudkan kecintaan terhadap daerah bisa saja diwujudkan melalui berbagai media apapun. Hal inilah yang dilakukan oleh Alffian Walukow, seorang budayawan sekaligus pemerhati budaya Sangihe.

Pada acara deklarasi Sanggar Seni Sariwang yang dilaksanakan di Balai Rumah Jabatan Bupati Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sabtu (17/2/2018), beragam kreativitas seni kriya karyanya turut mewarnai jalannya kegiatan tersebut.

Setiap tampilan karya seninya kental dengan nuansa dan pemaknaan tentang budaya Sangihe. Seperti halnya motif-motif Kofo dalam bingkai, duplikasi pedang Bara Sangihe, serta tampilan duplikasi puluhan jenis pedang khas orang Sangihe.

Uniknya, hampir semua karya seni kriya tersebut terbuat dari olahan sampah. Ia menyulapnya menjadi sebuah karya yang maha indah dan bermakna. Termasuk gambar Presiden pertama Republik Indonesia Soekarno tak luput dari olahan kreasinya.

Alffian Walukow, sang kreator, mengatakan bahwa apa yang dilakukannya sebagai perwujudan mengangkat dan memperkenalkan Sangihe lebih jauh.

“Sudah semenjak dahulu kira-kira tahun delapan ratusan para zending telah mengajarkan seni kreativitas kepada orang-orang Sangihe. Hadirnya karya-karya tersebut juga karena ditopang dengan kekayaan alam Sangihe yang sangat mendukung untuk keperluan karya seni,” kata Alffian.

 

Penulis: Rendy Sasela

Editor: Rahadih Gedoan

Comments

comments

Continue Reading

SENI

Malam Jahanam Di Puncak Deklarasi Sanggar Seni Sariwang

Published

on

zonautara.com
Lakon Malam Jahanam yang dipentaskan Sanggar Seni Sariwang.(Foto: zonautara.com/Rendy Sasela)

SANGIHE, ZONAUTARA.com – Lakon Malam Jahanam karya Motinggo Boesje menjadi pementasan di puncak acara deklarasi Sanggar Seni Sariwang yang dilaksanakan di Rumah Jabatan Bupati Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sabtu (17/2/2018).

Sang sutradara Fajar Gultom mengemasnya dengan menggunakan konteks Sangihe dengan harapan agar dapat dengan cepat dicerna oleh penonton. Cerita dalam lakon Malam Jahanam menurut Fajar, digiring ke konteks Sangihe karena pementasannya berada di Sangihe agar inti ceritanya dapat cepat diterima dan dimaknai sekalipun cerita yang ada di dalamnya bersifat universal.

“Cerita dalam lakon Malam Jahanam memuat beragam fenomena sosial yang menceritakan konflik sebuah keluarga, juga persahabatan. Persoalan tersebut merupakan hal umum dan di manapun bisa terjadi. Saya berharap pesan-pesan sosial di dalamnya dapat kita maknai bersama,” jelas Fajar.

Naskah yang berdurasi satu jam tersebut ditutup dengan tepuk tangan meriah dari ratusan undangan yang hadir. Pemeran-pemeran dalam lakon tersebut, yaitu adalah Gerald Kobis sebagai tokoh Soleman, Jonatan Hormati Sebagai Mat Kontan, Veronika Tumbage sebagai Paijah, Joel Bastian sebagai Utai dan Andre Magda berperan sebagai Tukang Pijat bermain dengan baik.

 

Penulis: Rendy Sasela

Editor: Rahadih Gedoan

Comments

comments

Continue Reading
%d bloggers like this: