Connect with us

INSPIRASI

MAC Yang Dulu Sekedar Coba-coba Dan Yang Bergengsi Sekarang

Published

on

zonautara.com

MANADO, ZONAUTARA.com – Tahun ini merupakan tahun kedelapan Manado Town Square (Mantos) menggelar pameran modifikasi mobil dan motor terbesar di Indonesia Timur yang dinamakan Mantos Auto Contest (MAC) 2017. Yono Akbar selaku General Manager Mantos menceritakan awal mula MAC dilaksanakan.

Saat itu medio 2009, iven ini awalnya hanya sekedar untuk coba-coba. Pesertanyapun tak lebih dari delapan mobil yang tampil dengan modifikasi sederhana.

“Saat itu memang hanya delapan mobil yang ikut. Motor belum ada. Pamerannya di depan restoran yang berada di Mantos I,” kenang Yono kala ditemui di ruang kerjanya,

Melihat antusias pengunjung dan peserta, di tahun 2010, iven MAC ini digelar lagi. Walhasil, sebanyak 30 peserta kontes mobil dan sepeda motor ikut meramaikan ajang ini.

“Tahun 2010 itu memang semua kendaraan kita tempatkan di dalam mall. Luar biasa animo masyarakat untuk iven automotive ini. Tahun ketiga, tahun 2011, kelas sepeda motor kita tempatkan di area parkir. Alasan menempatkan sepeda motor di area parker karena panitia MAC melihat respons peserta dan pengunjung di kelas ini yang luar biasa banyak.

“Saat iven ini, angka kunjungan kita mencapai 60.000 pengunjung per hari. Kualitas peserta juga senantiasa meningkat,” jelasnya lagi.

Sejak penyelenggaraan MAC yang ketiga itu hingga sekarang, iven ini menjadi momentum yang ditunggu-tunggu masyarakat pecinta otomotif di Kota Manado dan sekitarnya. Jenis kompetisinya pun semakin variatif. Tidak hanya sekadar kontes untuk mobil dan sepeda motor saja, malah ada juga jenis lomba seperti girl automotive contest, photo contest, dan beberapa lainnya.

Seiring peningkatan dari gelaran ini, Yono mengatakan bahwa juri kompetisi yang digaet merupakan juri profesional di bidang otomotif berskala nasional.

“Kita di sini hanya menyelenggarakan saja. Selebihnya untuk teknis penjurian, kita serahkan kepada juri professional. Tahun ini saja kami sediakan lima panggung yang tersebar dari Mantos I sampai Mantos III. Dalam MAC 2017 ini ada juga  Kejurnas Free Style Competition membuat ajang ini semakin bergengsi. Semua kompetisi mobil dan sepeda motor ini memperebutkan Kapolda Cup, dengan total hadiah Rp 100 juta,” terangnya.

Nantinya, imbuh Yono, MAC akan dihelat sekali dalam dua tahun. Rencana ini dimaksudkan agar pelaksanaannya semakin berkualitas dan juga ada waktu yang lebih panjang untuk membangun konsep modifikasi kendaraan kontes. Setahun sekali itu jangka waktunya pendek, apalagi ada modifikator yang membangun konsep mobilnya yang memakan waktu berbulan-bulan.

“Kami, pihak manajemen Mantos juga memohon maaf kepada peserta yang belum sempat terakomodir di ajang ini karena alasan keterbatasan tempat. Para peserta MAC juga harus dites dan diseleksi mana saja yang terbaik. Langkah ini untuk menjadikan MAC semakin berkualitas,” pungkasnya.

 

Editor: Rahadih Gedoan

Comments

comments

Click to comment

Komentar

INSPIRASI

Berjibaku Dengan Arus Sungai Pentu Demi Bantu Ekonomi Keluarga

Published

on

zonautara.com
Michael Buyung saat menambang pasir di sungai Pentu. (Foto: zonautara.com/Gary Kaligis)

MINSEL, ZONAUTARA.com Demi membantu perekonomian keluarganya, terutama membantu biaya pendidikan adiknya, membuat Michael Buyung (29), warga Desa Pinaling, Jaga VIII, Kecamatan Amurang Timur, Kabupaten Minahasa Selatan, rela berjibaku dengan derasnya arus sungai Pentu, yang berada sekitar satu kilometer dari desanya.

Kinerjanya yang berhubungan dengan air sungai saban hari, ternyata untuk mengumpulkan pasir yang berada di dasar sungai tersebut.

“Saya setiap hari dari pagi hingga sore harus berendam badan di tengah sungai, untuk mengeruk serta mengangkat pasir dari sungai ini,” kata Buyung, saat diwawancarai Zona Utara, beberapa waktu lalu.

Menurut Buyung, hasil pasir yang dikumpulnya setiap hari bisa mencapai empat hingga lima meter kubik. Untuk menjual hasil pasir yang dikumpulkannya, Buyung pun tidak menemui kesulitan, karena ada mobil yang setiap hari datang membeli pasir yang dia dan rekan-rekannya kumpulkan.

Pasir yang dikumpulkannya itu pun biasa dibeli oleh pelanggan dengan harga Rp300 ribu per mobil truk. Alasannya menggeluti profesi sebagai penambang pasir sungai ini pun semata-mata untuk menopang ekonomi keluarga, serta membantu biaya pendidikan adiknya.

“Saya bersaudara empat orang dan dua kakak saya sudah berkeluarga. Dan saya masih memiliki seorang adik yang masih duduk di bangku SMP,” ungkap Buyung yang mengaku sudah menggeluti profesi tersebut sekitar dua tahun.

Kebutuhan hidup dan biaya sekolah adiknya pun menjadi tanggung jawabnya.

“Saya belum mengalami kesulitan yang berarti dalam menjalankan profesi ini, meski harus menahan dingin,” jelas Buyung.

Kesulitan besar yang sering dihadapinya, kata Buyung, yakni berhubungan dengan cuaca, terutama jika musim hujan tiba, maka arus air sungai begitu deras, sehingga terpaksa harus menunggu aliran air sungai mereda.

Sungai yang menjadi lokasi penambangan pasir Buyung dan rekan-rekannya tersebut pun hanya mempunyai kedalaman sekitar setengah meter, dengan lebar sungai berkisaran sekitar 20 meter.

“Meski sungai ini terbilang dangkal, namun saat menambang pasir saya harus tetap waspada, terutama mengantisipasi aliran air sungai yang bisa berubah setiap saat, terutama untuk menjaga luapan air kiriman yang biasanya membawa batangan kayu yang berukuran besar,” pungkas Buyung.

 

Editor : Christo Senduk

Comments

comments

Continue Reading

INSPIRASI

Saat Pengamen Suami Istri Muslim Ini Menyanyikan Lagu Rohani Kristen

Dengan lagu-lagu rohani Kristen, Roma dan Claudia ingin terus menyerukan pesan kerukunan dan toleransi di Manado.

Published

on

zonautara.com
Reza Roma Prakarsa bersama istrinya Patrichia Prakarsa Kaunang.(Foto: Zonautara.com/Lukman Polimengo)

MANADO, ZONAUTARA.com – Wajah optimis dan ceriah terpancar dari wajah Reza Roma Prakarsa dan Patrichia Prakarsa Kaunang sore itu di akhir pekan pertama Februari 2018.

Mereka adalah pasangan suami istri muda. Roma mengenakan kaos hitam sementara istrinya Claudia berkemeja lengan panjang kotak-kotak. Claudia mengenakan jilbab sebagaimana keyakinan iman keduanya.

Video mereka berdua yang direkam oleh seorang pengemudi Go-jek viral beberapa waktu lalu. Dalam rekaman itu, pasangan suami istri yang sudah dikarunia seorang anak ini menyanyikan lagu rohani Kristen.

Saat itu keduanya sedang mengamen di sebuah rumah makan yang menyajikan menu khas Minahasa. Video yang diunggah di Facebook itu menuai beragam pujian, namun juga komentar negatif.

Baca pula: Kala Petikan Gitar Suami, Suara Merdu Sang Istri Lantunkan Toleransi Di Manado

Sore itu keduanya menyambangi kantor Zonautara.com untuk sebuah sesi wawancara. Cahaya hangat menjelang matahari terbenam membuat sesi wawancara yang dilakukan di taman Tugu Lilin mencipta keakraban.

Oh Tuhan pakailah hidupku, selagi aku masih kuat. Bila saatnya nanti Ku tak berdaya lagi,  hidup ini sudah jadi berkat.

Dengan petikan gitar kesayangannya, Roma dan Claudia melantunkan lagu berjudul Hidup Ini Adalah Kesempatan dengan fasih. Itu adalah lagu ciptaan Pdt Wilhelmus Latumahina. Sebuah lagu rohani pop Kristen yang sangat populer.

“Ada yang bilang ini sekedar pencitraan, ini cuma ingin jadi viral di media, ada yang mengolok-olok. Tapi kami anggap itu biasa, saya juga sempat menjelaskan di Facebook, bahwa sebelum video itu viral sebagai pengamen kami sudah selalu bawa lagu rohani. Selain itu karena kami rasa ini memang bermanfaat bukan hanya untuk umat Kristiani sendiri bahkan untuk kita semua. Karena itu kan kata-katanya punya unsur membangun spiritual,” ujar Roma.

Roma mengaku sedari kecil dirinya sudah akrab dan tahu banyak lagu-lagu rohani umat Kristiani. Hal itu karena kebetulan dia dan keluarganya tinggal di Kelurahan Kombos Timur Kecamatan Singkil, Kota Manado, yang mayoritas penduduknya beragama Kristen.

Ini juga yang membentuk Roma menjadi pribadi yang terbuka, dan tidak menganggap agama sebagai jurang pembatas antar sesama manusia.

“Secara pribadi saya merasa menyanyikan lagu Kristen tidak bertentangan dengan keyakinan atau iman saya. Kalau dilihat dari lirik-liriknya kan itu punya nilai-nilai universal. Untuk menghadapi kritik orang-orang yang menuding macam-macam, ya kami klarifikasi baik-baik,” jelas Roma.

Justru dengan membawakan lagu-lagu rohani, kata Roma, sebagai seorang Muslim dirinya turut menyampaikan pesan-pesan toleransi ke sesama umat beragama. Terlebih Kota Manado dikenal dengan masyarakatnya yang punya rasa toleransi tinggi.

Lagi pula, kata Roma, lagu rohani yang dibawakannya hingga jadi viral di Facebook itu mengandung nasehat-nasehat yang baik. Lagu yang mengajak sesama umat beragama untuk melayani Tuhan, berbuat baik tanpa pamrih.

Sering, kata Roma, saat membawakan lagu rohani Kristen, ia mendapati orang-orang tersentuh. Bahkan tak jarang, ada Pendeta yang memuji dan memberikan komentar positif. Mereka kagum, karena saat membawakan lagu rohani, dia dan istrinya memakai atribut muslim.

“Mereka heran kenapa kami pakai kopiah, pakai jilbab dan menyanyi lagu rohani. Mereka salut, mereka pikir bagus. Dan malah mereka menyuruh request lagu, waktu itu lagu natal, lagu Gloria oke, lagu Jauh di Dusun Yang Kecil oke,” tutur Roma ditimpali senyuman bersama Claudia.

Menurut Roma, toleransi di Sulawesi Utara sanmgat kuat. Buktinya saat perayaan Idul Fitri, orang-orang muslim yang beribadah mendapat penjagaan dari para waraney Minahasa. Begitu pula saat hari raya Natal, pemuda-pemuda muslim ikut menjaga gereja.

Dia yakin, kerukunan di Manado dan Sulawesi Utara akan terus langgeng, karena di Manado semua umat beragama saling menjaga.

“Yang ingin kami sampaikan ke warga Manado, jadikan diri ini bermanfaat bagi orang lain. Karena arti dari iman itu sendiri begitu, mampu memuliakan orang lain, tanpa memandang satu perbedaan.  Terus jangan jadikan perbedaan itu sebagai satu jurang pemisah, karena di sini Manado so baku ta ika, Ungke so kaweng deng Keke, Keke so kaweng deng Uti, jadi ya begitulah. Insya Allah kerukunan di Manado tidak akan pernah rusak,” imbuhnya.

Roma sendiri sudah lama memasuki blantika musik jalanan. Dari tahun 2003, hingga sekarang. Terhitung sudah 15 tahun, pria yang tercatat sebagai Mahasiswa aktif semester dua di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Manado ini mengitari setiap sudut tongkrongan di Kota Manado dengan gitarnya.

Menghibur orang-orang agar merasakan suka cita di tengah zaman yang terus berpacu maju menggilas siapa saja yang lemah jiwanya. Menyirami hati mereka dengan lagu-lagu dari berbagai genre, rock, pop, folk Song, religi, hingga lagu rohani Kristen.

Tujuan Roma jelas, selain mengais rejeki dan menyalurkan hobi, Roma juga ingin menyampaikan pesan-pesan positif lewat lagu-lagu yang dinyanyikannya.

“Kadang-kadang ada lagu-lagu ciptaan dari saya pribadi, yang menyinggung masalah-masalah sosial sekarang, selain dari lagu-lagu rohani,” ungkap Roma.

Roma mengaku jika Iwan Fals adalah musisi yang paling menginspirasinya. Kenapa Iwan Fals? Karena menurutnya, Iwan Fals adalah tokoh musisi yang menyuarakan tragedi hidup orang-orang pinggiran. Dan juga karena Iwan Fals adalah sosok musisi yang meniti karir dari jalanan.

Semua lagu Iwan Fals jelas disukai Roma, namun yang paling sering dia nyanyikan itu lagu yang berjudul Bongkar. Roma berharap, kelak dirinya bisa mengikuti jejak sang panutan, dan terus menyuarakan kegetiran kaum pinggiran serta semangat toleransi sesama anak bangsa Indonesia.

 

Editor: Ronny A. Buol

Comments

comments

Continue Reading
%d bloggers like this: