Connect with us

WAH

Sindrom Langka, Michelle Jadi Anak Kecil Selamanya

Karena menderita sindrom tersebut, setiap malam harus dalam perawatan medis, bahkan Michelle memiliki perawat yang harus selalu mendampinginya dalam melakukan aktivitas.

Published

on

zonautara.com
Michelle Kush (20) menderita sindrom Hallermann-Streiff (Foto: barcroft media)

MANADO, ZONAUTARA.com – Michelle Kish adalah seorang wanita berusia 20 tahun yang terjebak dalam tubuh anak kecil.

Dilansir dari the sun, Sejak lahir Michelle sudah menderita kelainan bawaan yang sangat langka yaitu sindrom Hallermann- Streiff. Sindrom ini memiliki 28 gejala dan Michelle telah memiliki 26 gejala diantaranya. Dia memiliki kondisi wajah yang berbeda, mempengaruhi pertumbuhan gigi dan rambut, juga mengalami kelainan seperti dwarfisme, kardiomiopati (sejenis penyakit jantung), penyakit paru paru kronis,  badan pendek, tulang rapuh dan alopecia.

Mary, Ibu Michelle mengaku saat hamil dia tidak merasakan hal aneh sampai melahirkan semuanya tidak ada masalah, namun semuanya berubah saat Michelle lahir.

“Jantungku seperti merosot ketika dokter mendiagnosis sindrom hallermann-Streiff pada Michelle,” kata Maria.

zonautara.com

Michelle yang di diagnosis menderita sindrom langkah, sindrom Hallermann-Streiff (Foto: barcroft media)

Karena menderita sindrom tersebut, setiap malam harus dalam perawatan medis, bahkan Michelle memiliki perawat yang harus selalu mendampinginya dalam melakukan aktivitas.

“Saya harus sering ke rumah sakit, itu sudah seperti rumah kedua untuk saya,” kata Michelle.

Meskipun dengan berbagai kekurangan yang ada, dia selalu percaya diri dan hidup bahagia seperti orang biasanya.

“Hal favorit saya tentang Michelle adalah bahwa dia memiliki harga diri yang tinggi, dia mencintai dirinya sendiri dan dia benar-benar memiliki kepercayaan diri, dan dia bergerak setiap hari dengan senang hati sehingga membuat saya bahagia”, tambah Mary.

Michelle mengakui ada beberapa aspek kondisinya yang menahannya untuk melakukan apa yang diinginkannya.

“Hal yang paling menyebalkan saat kecil adalah ada banyak wahana taman hiburan yang ingin saya rasakan namun tidak bisa karena memiliki batasan ketinggian. Juga tabung trakeostomi saya berarti saya tidak bisa masuk ke bawah air,” Ungkap Michelle.

 

Editor: Ronny A. Buol

Comments

comments

Click to comment

Komentar

WAH

Rayakan Valentine, Perawat RSUP Kandou Bagi-bagi Bunga Untuk Pasien

Published

on

zonautara.com
Perawat di RSUP Kandou berbagi bunga.(Foto: zonautara.com/K-02)

MANADO, ZONAUTARA.com – Bagi-bagi bunga bagi para pasien dijadikan wujud kasih dari para perawat di Irina C-1 RSUP Prof RD Kandou pada perayaan Hari Kasih Sayang atau Valentine Day, Rabu (14/2/2018).

Dipimpin oleh Kepala Ruangan Herlina Mercy Tiwa, para perawat membagikan bunga kepada 34 pasien penyakit dalam yang sedang dirawat.

“Bunga melambangkan keindahan dan rasa cinta, karena itu kami memilih bunga untuk dibagikan kepada pasien-pasien sebagai wujud kasih merayakan Valentine Day,” ucap suster Herlina.

Ia pun berharap bunga-bunga yang diberikan menjadi lambang kasih dan doa bagi para pasien untuk sembuh.

“Di RSUP Kandou, bukan hanya pengobatan medis saja. Tapi juga memberikan rasa cinta dan kasih bagi pasien bisa membantu penyembuhan. Kiranya bunga-bunga yang dibagikan teriring dengan doa bagi para pasien,” tambah suster Herlina.

Ia menyampaikan permohonan maaf kepada para pasien jika dalam menjalan tugas ada kekurangan dari pihaknya.

“Tapi yang pasti kami akan terus memperbaiki pelayanan, karena tujuan kami adalah para pasien terlayani dengan baik,” ujar suster Herlina.

RSUP Kandou sendiri di bawah pimpinan dr Maxi Rondonuwu terus melakukan perbaikan pelayanan kesehatan dan fasilitas yang ada. Mulai dari ruang gawat darurat hingga ke ruangan-ruangan pasien.(K-02)

 

Editor: Rahadih Gedoan

Comments

comments

Continue Reading

WAH

Di Papua, Kepala Daerah Ke Luar Daerah Bertahun-tahun Tak Dilaporkan

Published

on

sri-wahyumi-manali-2p-1024x683
Sri Wahyumi Manalip.(Foto: zonautara.com/Ronny A Buol)

MANADO, ZONAUTARA.com – Ada hal yang menarik disampaikan Lenis Kagoya, Staf Khusus Presiden Kelompok Kerja Papua, saat menjawab beberapa pertanyaan yang dilontarkan Aiman Witjaksono, jurnalis dan pembawa berita dan dialog Kompas TV, yang tayang pada Kompas Petang, edisi Senin (15/1/2018).

Di saat mata publik tengah menyorot Menteri Dalam Negeri (Mendagri) yang menerbitkan Surat Keputusan (SK) Pemberhentian Sementara Bupati Kepulauan Talaud Sri Wahyumi Manalip (SWM) akibat ke luar negeri tanpa izin, Lenis mengatakan bahwa seharusnya hal yang sama juga berlaku bagi pejabat atau Kepala Daerah di Papua.

Menurut Ketua Lembaga Masyarakat Adat (LMA) Papua ini, mereka sering ke luar daerah, bahkan ada yang tidak tahu dengan kondisi dan jumlah masyarakatnya yang mati karena busung lapar.

“Saya punya data, siapa pejabat dan Kepala Daerah yang sering ke luar daerah, tidak melayani rakyatnya. Sudah lama. Sudah dilaporkan ke Presiden dan Kemendagri, tapi tidak ditindaklanjuti,” jelas Lenis dalam dialog tersebut.

Lanjut dia, Kemendagri seharusnya lebih tegas menyikapi ini. Bupati perempuan (SWM, red), dua kali ke luar negeri, langsung dinonaktifkan. Sementara di Provinsi Papua, Kepala Daerah dan pejabat yang sering ke luar daerah, sudah bertahun-tahun dilaporkan, tidak ditindaki.

“Jadi ada semacam ada pembiaran,” tuturnya.

 

Editor: Rahadih Gedoan

Comments

comments

Continue Reading
%d bloggers like this: