Connect with us

FOKUS ISU

The New Symmetric Information Ala Jokowi

Saat ini ada sekitar 40.000 media online di Indonesia. Itu angka yang besar, tapi tak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan sebanyak 130 juta rakyat Indonesia yang terlibat di media sosial.

Published

on

zonautara.com
Panelists of the session: How community and mainstream media can work together? (Foto: 4M Asia Forum)

Ini mungkin bukan istilah yang lazim. Tapi itu disampaikan oleh Arfi Bambani, salah satu punggawa Selasar.com. Dia menyampaikan itu dalam sesi Debate: How community and mainstream media can work together? di 4M Asia Forum yang baru saja usai digelar di Jakarta.

Arfi menyoal hal ini kala membandingkan gaya Presiden Soeharto menyampaikan hal-hal kenegaraan terutama soal pembangunan nasional ke rakyatnya. Patronnya kaku. Usai rapat kabinet digelar, atau saat ada persoalan negara yang harus disampaikan, Soeharto akan menyelah siaran televisi (TVRI tentunya).

Sebuah podium disediakan di Istana Negara, lalu dengan kacamata, suara dan gayanya yang khas, Soeharto akan menyampaikan pidatonya. Rakyat menonton dengan seksama, aparatur negara menjadi wajib tak melewatkannya.

Arfi dalam presentasi singkat itu, menyajikan kolase foto yang kontras: Soeharto di podium dan seorang anak remaja bertelanjang dada, tidur selonjoran di tikar sambil menonton siaran televisi. Dia menamakan ini sebagai the old asymmetric information.

Jokowi menjadi presiden, dengan gaya yang kadang-kadang nyeleneh. Baru saja dia menghebohkan rakyatnya dengan menjadi seorang biker, lengkap dengan segala atributnya. Video tentang ini viral. Tak sekali itu saja, bahkan Jokowi tahu persis bagaimana mengelola hal-hal sepele seperti itu menjadi jawaban politiknya terhadap berbagai persoalan.

Arfi bilang, dia kenal beberapa orang dekat Jokowi yang mengaku soal gaya komunikasi seperti itu memang sengaja dirancang. Jokowi ingin dekat dengan rakyat, dan memilih mendengarkan langsung keluhan rakyat tanpa halangan. Sudah menjadi khas Jokowi kala bersua dengan rakyat, mengambil waktu untuk berbicara. Pasukan Pengamanan Presiden pun tak berdaya menghadapi kebiasaan diluar pakem protokeler negara itu.

“Apakah Jokowi masih memerlukan media untuk mengetahui kehendak rakyat?,” Arfi melempar pertanyaan tanpa berusaha mengharapkan jawaban. Dia malah melempar istilah lain lagi untuk ini, the new symmetric information.

Presiden secara langsung berhadapan dengan rakyat. Dia menyampaikan berbagai gagasan, bahkan menyelesaikan persoalan tanpa perlu diributkan dengan urusan protokoler. Nyaris dalam situasi itu, media kerap hanya melaporkan saja soal tingkah Presiden yang unik dan nyeleneh itu.

Sementara rakyat akan menyambut tindakan-tindakan itu dengan memposting lalu menyebarkannya lewat berbagai medium. Media sosial adalah pilihan terbaik dan segera menjadi viral.

Ihwal melibatkan warga dalam distribusi informasi adalah bahasan yang seru dalam forum yang dihadiri sekitar 100 jurnalis se Asia Tenggara itu. Saat ini ada sekitar 40.000 media online di Indonesia. Itu angka yang besar, tapi tak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan sebanyak 130 juta rakyat Indonesia yang terlibat di media sosial.

Ini adalah, persoalan sebagaimana yang dikemukan dalam Blur, buku yang ditulis oleh Bill Kovach dan Tom Rosentiel. Salah satu ide penting dalam buku itu adalah afirmasi model komunikasi dua arah yang melibatkan audience yang tak boleh lagi diabaikan oleh media. Dan itu dilakukan oleh Jokowi.

Persoalannya adalah, seperti yang dikhawatirkan Arfi, aktifitas warga di media sosial itu (ini soal konsep citizen journalism) tidak terikat dengan etika jurnalistik. Rakyat bisa memposting apa saja sesukanya. Pemimpin Redaksi independen.id Hesti Harimukti menyoal hal ini dengan kekhawatiran persekusi di media sosial yang terlihat semakin tak terkendali. Tak ada etika sama sekali, ujar Hesti di kediamannya di Tangerang Selatan.

Landscape jurnalisme memang sedang berubah drastis, seiring masifnya penetrasi teknologi informasi. Jika dahulu rakyat hanya mendapat informasi satu arah, kini mereka bisa terlibat dalam distribusi informasi secara real time dengan hadirnya internet hingga ke kampung-kampung.

Keterlibatan publik yang nyaris tanpa pagar itu bahkan harus diakui, mampu menyetir media mainstream. Maka tak heran jika kemudian, beberapa media jaringan nasional membangun berita hanya dari postingan seorang tokoh di timeline account media sosialnya. Bahkan tak jarang, media sering blunder karena ketergesa-gesaannya mempublish kabar yang belum terverifikasi kebenarannya.

Media menjadi khawatir digerus tawaran alternatif citizen journalism, lalu ikut-ikutan melanggar etika. Apalagi konsep itu tak membutuhkan modal besar. Cukup memiliki perangkat smartphone dan koneksi internet, seseorang sudah bisa melabeli diri sebagai pewarta warga. Sementara media harus berjibaku dengan membangun news room, sumber daya manusia serta aspek bisnisnya untuk hidup.

Jadi, apakah jurnalisme masih relevan? Ah, ini memang soal yang tak mudah dijawab. Saya harus membahasnya dalam artikel-artikel berikutnya. Dan untuk sementara ini, marilah kita tenggok gaya Jokowi yang saban saat terus saja memproduksi berita dari dapur new symmetric information-nya.

 

Comments

comments

Click to comment

Komentar

FOKUS ISU

Live Event: Paskah Pemuda GMIM

Published

on

By

zonautara.com
Foto: zonautara.com/Ronny A. Buol

MANADO, ZONAUTARA.com – Saban tahun Komisi Pelayanan Pemuda Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM) menggelar Ibadah Agung dan Selebrasi Paskah.

Untuk tahun ini, kegiatan yang biasanya diikuti puluhan ribu anggota pemuda gereja itu akan dihelat di Wilayah Mapanget II, Manado. Sebelumnya pada tahun 2017, kegiatan serupa digelar di wilayah Bitung.

Dalam Ibadah Agung nanti, juga akan dirangkaikan dengan pengutusan para Penatua Pemuda yang baru terpilih. Sejumlah acara dan lomba juga disiapkan oleh Panitia Pelaksana, termasuk Pawai Paskah yang akan menempuh rute sepanjang enam kilometer.

Untuk mempublikasikan kegiatan besar ini, Zonautara.com akan menurunkan Tim Peliput, yang akan menyampaikan laporan real time dari lokasi pelaksanaan mulai dari titik start hingga finish.

Laporan itu dikemas dalam Live Event berupa update jalannya kegiatan dari menit ke menit secara kronologis.

Pemimpin Redaksi Zonautara.com, Ronny A. Buol menjelaskan, mungkin Zonautara.com adalah satu-satunya media online di Sulawesi Utara yang menggunakan format Live Event saat ini.

“Ini untuk membantu pembaca yang tidak hadir di lokasi memantau dan mendapat suplai informasi secara terus menerus,” ujar Ronny, Senin (2/4/2018).

Menurutnya Live Event berbeda dengan siaran langsung berformat video. Dalam Live Event pembaca bisa melihat timeline peristiwa sebelumnya.

“Kalau dalam live video kan, tidak bisa diputar mundur, kecuali siaran langsungnya sudah selesai dan siarannya direkam,” jelas Ronny.

Dalam Live Event, Reporter di lokasi peristiwa melaporkan informasi secara terus menerus dalam bentuk teks, foto, dan video. Pembaca mendapat suplai informasi terkini sembari bisa mereview informasi sebelumnya.

“Visual laporannya juga dikemas menarik, disesuaikan dengan format mobile, sehingga cukup menscroll layar, informasi bisa ditelisik dari awal,” papar Ronny.

Menurutnya, sajian pemberitaan dalam format Live Event biasanya digunakan media-media internasional saat ada breaking news yang menarik perhatian luas pembaca.

“Kini kami di Zona Utara mencoba menerapkannya,” tutup Ronny.

 

Ikuti Live Event Pawai Paskah Pemuda GMIM

 

Editor: Eva Aruperes

Comments

comments

Continue Reading

FOKUS ISU

Mata Desa, Prototipe Yang Raih Special Mention Di Jakarta Editors Lab

Published

on

zonautara.com
Suasana hari pertama Jakarta Editors Lab 2018.(Foto: zonautara.com/Rahadih Gedoan)

TANGERANG, ZONAUTARA.com –  Kue pia mungil Ban Heang bercita rasa udang yang dihadiahkan Kuek Ser Kuang Keng dari DataN, Malaysia, terasa lezat. Tim Zona Utara menikmati kue asal Penang tersebut menjelang check out dari Lemo Hotel Serpong, lokasi akomodasi peserta Jakarta Editors Lab 2018 yang disediakan panitia penyelenggara.

Keng memberikan hadiah itu ketika tim Zona Utara mendapat special mention pertama pada malam penutupan Jakarta Editors Lab 2018, di Universitas Multimedia Nusantara (UMN), Minggu (11/3/2018).

Para Juri yang terdiri dari Irene Jay Liu dari Google News Lab, Kuek Ser Kuang Keng dari DataN, Yosep Adi Prasetyo dari Dewan Pers Indonesia, Titi Anggraini dari Perludem, dan Sarah Toporoff dari Global Editors Network mengganjar prototipe Mata Desa yang dipresentasikan Zona Utara sebagai satu konsep news room yang paling menarik, bersaing dengan Katadata yang juga mendapatkan special mention yang sama dan Tempo yang meraih The Best.

Secara lengkap, Zona Utara dalam Jakarta Editors Lab 2018 ini bersaing dengan media-media seperti CNN, The Jakarta Post, Tempo, IDNTimes, Beritagar, Katadata, Liputan6, Radar Bojonegoro, Kabar Makassar, suara.com, kompas.com dan UMN.

Pemimpin Redaksi Zona Utara Ronny Adolof Buol tak menyangka akan mendapat penghargaan itu. Ia menjelaskan bahwa pada saat hari kedua kompetisi international yang dilaksanakan 9-11 Februari 2018 tersebut, para adviser dan Juri memaksa untuk membongkar konsep yang awalnya sudah disediakan.

Tekanan luar biasa, kata Ronny, kala itu sangat terasa. Namun karena lingkup kerja yang telah dibangun selama ini di Ruang Redaksi Zona Utara yang sangat disiplin, berhasil mengubah tekanan itu menjadi motivasi.

“Hanya tidur tiga jam dalam sehari sudah merupakan rutinitas bagi kami. Tak bermimpi jadi yang terbaik, sebab bukan itu tujuan kami hadir di Jakarta Editors Lab ini. Mendapat pengetahuan, berbagi pengalaman, berjejaring, serta kesempatan belajar merumuskan konsep adalah hal yang utama,” ujar Ronny.

Dikatakannya lagi, dengan mengusung konsep Mata Desa sebagai prototipe news room, capaian ini bagi Zona Utara yang belum genap setahun dan yang datang sebagai tim underdog, merupakan suatu hal yang luar biasa.

“Dan kami benar-benar tak berharap lebih selain datang belajar dan menimba pengalaman dari media-media lainl Setelah melewati dua hari berjibaku dengan konsep, membangun prototipe, saya mewakili tim Zona Utara diberi kesempatan 4 menit memaparkan presentasi di hadapan para Juri,” katanya.

Pada saat sesi tanya jawab, lanjutnya, dia tak menyangka sama sekali pertanyaan dari Ketua Dewan Pers Yosep Adi Prasetyo soal sisi keamanan prototipe yang dipresentasikan. Namun gemblengan dalam Ruang Redaksi Zona Utara selama 10 bulan terakhir ini, membuat dirinya sigap menjawab pertanyaan rumit itu dalam durasi yang dibatasi hanya semenit.

Kini, imbuh Ronny, Mata Desa siap diimplementasikan Zona Utara di 167 Desa/Kelurahan di Kabupaten Minahasa Selatan serta daerah lainnya.

Dekan Fakultas Ilmu Komunikasi UMN Andre Handoko berharap, Jakarta Editors Labs sebagai iven prestisius yang dilaksanakan selama tiga hari itu dapat memberikan kenangan serta ilmu dari google dan AJI.

“Semoga membawa nuansa baru di tempat kerja masing-masing,” katanya dalam bahasa Inggris luwes saat menutup kegiatan.

 

Editor: Rahadih Gedoan

Comments

comments

Continue Reading
%d bloggers like this: