/

Mari kenali empat satwa kunci Sulawesi Utara (Bagian 1)

6 mins read
1
zonasulut.com
Yaki (Macaca nigra) difoto saat sedang beraktifitas di kawasan Taman Wisata Alam Batu Putih yang merupakan bagian dari kawasan konservasi Tangkoko, Bitung, Sulawesi Utara (Foto: zonasulut.com/Ronny Adolof Buol)

MANADO, ZONAUTARA.com – Semenanjung Sulawesi Utara dikarunia bentang alam yang kaya dengan keanekaragaman hayati yang tinggi. Beberapa flora dan fauna di wilayah ini tidak dapat dijumpai di daerah lain, bahkan di belahan dunia lainnya.

Tak ayal, Sulawesi Utara kerap didatangi banyak pihak terutama peneliti hanya untuk mempelajari berbagai kekayaan biodiversity yang dimilikinya.

Sejarah geologi yang menyusun bentangan alam di jazirah ini memperkaya pasokan keanekaan jenis, baik pengaruh bioregion Oriental maupun bioregion Australasia.

Alfred Russel Wallace (1860) telah membuat garis yang memisahkan kedua bioregion itu di Selat Makkasar yang membuat Sulawesi dipandang sebagai bagian dari bioregion Australasia.

Namun R. Lydekker (1896) memasukkan seluruh Kepulauan Maluku sampai ke Pulau Timor ke dalam bioregion Oriental. Kawasan yang berada di antara Garis Wallace dan Garis Lydekker ini kemudian dikenal sebagai Kawasan Wallacea, yang didalamnya termasuk semenanjung Sulawesi Utara.

Berada di dalam Kawasan Wallacea, Sulawesi Utara dianugerahi jenis satwa yang unik, termasuk yang berciri bioregion Australasia maupun berciri orientalis yang endemik.

Pulau Sulawesi sendiri merupakan wilayah dengan tingkat endemisitas tertinggi di dunia. Satwa endemik yang bisa ditemui di wilayah ini mulai dari burung, mamalia, primata, serangga hingga ke hidupan akuistik. Dan 70% dari kekayaan alam unik itu ada di Sulawesi Utara.

Diantara koleksi satwa endemik itu, ada empat spesies satwa unik yang menjadi satwa kunci Sulawesi Utara, disamping edemisitasnya, juga dikarenakan tingkat keterancamannya yang sangat tinggi.

Keempat satwa kunci yang dilindungi berdasarkan Undang-undang RI Nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Data Alam Hayati dan Ekosistemnya itu adalah

Yaki

Monyet hitam sulawesi (Macaca nigra) atau dalam bahasa lokal yaki adalah satwa kunci Sulawesi Utara yang masuk dalam daftar merah IUCN dengan status Critically Endangered atau kritis.

Baca Pula:  Mengenal penyakit radang usus

Daftar CITES juga memasukan monyet pantat merah ini dalam Apendix II, yang berarti spesies ini walau tidak segera terancam punah tetapi jika perdagangannya terus berlanjut maka yaki akan sangat terancam.

zonasulut.com
Yaki (Macaca nigra) difoto saat sedang beraktifitas di kawasan Taman Wisata Alam Batu Putih yang merupakan bagian dari kawasan konservasi Tangkoko, Bitung, Sulawesi Utara (Foto: zonasulut.com/Ronny Adolof Buol)

Secara morfologi, tinggi monyet hitam sulawesi ini berkisar 44-60 cm dengan berat badan 7-15 kg. Tubuh dan wajah monyet ini berwarna hitam kecuali bokongnya yang berwarna merah muda. Bulu di punggungnya lebat dan mempunyai tekstur yang halus. Yaki memiliki jambul di depan kepalanya.

Yaki adalah primata yang hidup berpasangan dan berkelompok. Pengunjung di Taman Wisata Alam Batuputih, Tangkoko, dapat menyaksikan bagaimana Yaki berinteraksi sosial dengan kelompoknya.

Tingkah lakunya yang lucu, seperti saling mencari kutu, bermain bersama, meloncat di dahan-dahan pohon, mimik wajahnya yang lucu akan menjadi tontonan menarik.

Habitat yaki ada di hutan primer dan sekunder, dengan luas wilayah jelajah kelompoknya berkisar antara 114 hingga 320 hektare. Yaki memakan buah-buahan sebagai makanan utamanya yang didapat saat mereka menjelajahi hutan.

Kerusakan hutan, peralihan fungsi hutan serta perburuan menjadi ancaman bagi populasi yaki yang diperkirakan kurang dari 100.000 ekor saja (1998).

Selain bisa dijumpai di kawasan hutan Tangkoko, yaki bisa dijumpai di beberapa wilayah di Minahasa, Bolaang Mongondow dan pulau Manado Tua. Namun yaki juga banyak terdapat di pulau Bacan, Maluku Utara.

Anoa

Ini salah satu satwa liar endemik Sulawesi Utara yang unik. Sepintas anoa mirip dengan sapi atau kerbau namun berukuran kecil. Anoa yang awalnya dikira berkerabat dengan banteng itu, sudah dilindungi sejak zaman pemerintahan kolonial Belanda.

Baca Pula:  Anoa Ketiga Lahir, Beri Harapan Pelestarian Satwa Endemik Terancam Punah

Dierenbeschermings Ordonnantie 1931 Staatsblad 1931 Nummer 134 atau Ordonansi Perlindungan Binatang-binatang Liar sejak tahun 1931 telah menetapkan anoa sebagai satwa langkah dan wajib dilindungi yang sebarannya sangat terbatas.

Dalam IUCN Red List, anoa dikategorikan sebagai satwa langka yang dikhawatirkan akan punah. Data dari IUCN menyebutkan bahwa populasi anoa di Sulawesi pada tahun 2002 kurang dari 5.000 ekor sehingga termasuk dalam kategori “endangered” dan menurut CITES (2008) anoa masuk dalam Appendix I yang berarti satwa tersebut dilindungi dan tidak bisa diperjualbelikan.

zonautara.com
Indukan Anoa melahirkan di Anoa Breeding Centre BP2LHK Manado. (Foto: zonautara.com/Ronny Adolof Buol)

Anoa dapat dijumpai di habitat hutan primer, mulai dari hutan pantai, hutan rawa, hutan dataran rendah, hutan perbukitan, hutan pegunungan, sumber air panas yang mengandung mineral dan di sepanjang pantai.

Anoa senang tinggal dalam hutan yang jarang dijamah oleh manusia, karena itu anoa sangat liar dan susah ditemui di habitat aslinya. Tingginya pembukaan lahan secara liar atau deforestasi dan perburuan menyebabkan penurunan populasi anoa di habitat aslinya.

Upaya konservasi anoa melalui ex situ telah dilakukan oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulut yang bekerjasama dengan Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BP2LHK) Manado. Di lokasi BP2LHK Manado ada beberapa ekor Anoa yang ditangkar di Anoa Breeding Centre dan telah berhasil melahirkan 3 ekor anakan.

Anoa digolongkan menjadi dua spesies yang berbeda, yaitu anoa dataran rendah (Bubalus depressicornis) dan anoa pegunungan (Bubalus quarlessi). Berat tubuh anoa dataran rendah dan pegunungan masing-masing, 300 Kg dan 150 Kg. Anoa dataran rendah memiliki tinggi pundak antara 80–100 cm, sedangkan anoa dataran tinggi antara 60-75 cm.

Bersambung

Editor: Ronny Adolof Buol

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com