Connect with us

FOKUS ISU

Bahaya Racun Boraks Mengintai Masyarakat Sulut

Published

on

zonautara.com
Pedagang mie basah di Pasar Bersehati, Manado.(Foto: zonautara.com/Lukman Polimengo)

MANADO, ZONAUTARA.com – Bahaya racun Boraks kini mengintai masyarakat di Sulawesi Utara (Sulut). Pasalnya, pangan olahan, yang dijual untuk masyarakat umum, terutama mie, terbongkar mengandung zat kimia tersebut. Sekalipun zat yang dikenal pula dengan nama sodium borate, sodium tetraborate atau disodium tetraborate ini banyak dipakai sebagai bahan pengawet, namun oleh oknum-oknum tertentu digunakan untuk olahan mie.

Berdasarkan hasil pengujian Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM) Manado pada Januari 2018 melalui mobil keliling, dari 20 sampel pedagang yang menjual Mie Basah, Mie Telur, dan Bakso Sapi di Pasar Bersehati dan Pasar Pinasungkulan Karombasan, semuanya dinyatakan positif mengandung Boraks.

Mirisnya lagi, pangan yang dijual pedagang di Pasar Bersehati dan Pasar Pinasungkulan Karombasan tersebut banyak dibeli masyarakat untuk dikonsumsi di rumah, dikonsumsi saat ada hajatan atau acara tertentu, dan digunakan sebagai bahan untuk makanan Midal. Oleh karena hal tersebut, diperkirakan ratusan orang yang teracuni Boraks setiap harinya.

Fakta yang turut ditemukan sesuai penelusuran tim redaksi Zona Utara, ada pedagang yang mengetahui jualannya mengandung Boraks, namun tak surut menjualnya ke masyarakat umum.

zonautara.com

Biasanya pangan yang mengandung Boraks memiliki tekstur yang lebih kenyal dan lebih keras serta dapat bertahan sampai lima hari. Dampak setelah mengonsumsi makanan yang mengandung Boraks tersebut adalah mengalami demam, mual, muntah, sakit perut, diare, sakit kepala, mata merah, merusak kesuburan, merusak janin, kulit memerah, tidak sadarkan diri, kesulitan bernapas, gagal ginjal akut, hingga kematian.

Mengantisipasi dampak yang lebih luas, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Daerah (Disperindagda) Provinsi Sulut pada 6 Februari 2018 mengeluarkan warning kepada masyarakat agar untuk sementara tidak membeli bahkan menjual pangan yang menggunakan boraks. Peringatan Disperindagda Provinsi Sulut tersebut sebagai respons terhadap surat Kepala BBPOM Manado yang dikeluarkan tanggal 31 Januari 2018 terkait Temuan Pangan Mengandung Bahan Bahaya Di Kota Manado.

 

Editor: Rahadih Gedoan

Comments

comments

Click to comment

Komentar

FOKUS ISU

Awas! Nomor Telepon Seluler Anda Bisa Terblokir

Pemerintah tidak lagi memperpanjang masa registrasi setelah 28 Februari.

Published

on

zonautara.com
Konter Penjualan Kartu SIM Telekomunikasi.(Foto: zonautara.com/Tonny Rarung)

MANADO, ZONAUTARA.com – Pemerintah serius menegakkan aturan registrasi nomor telepon prabayar sebelum 28 Februari 2018. Jika tidak melakukan registrasi melewati kesepakatan pemerintah dengan operator seluler itu, maka siap-siap sanksi pemblokiran diterapkan terhadap nomor telepon anda.

Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara menegaskan tidak akan memperpanjang lagi masa registrasi dengan menggunakan nomor Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan Kartu Keluarga (KK) tersebut.

“Tidak, ini tidak akan diperpanjang. Kenapa diperpanjang kan sudah lama? Kita mesti fokus pada kualitas pelanggan, bukan jumlah pelanggan, tapi pelanggan tidur (non aktif). Sebenarnya rugi semua di industri,” ujar Rudiantara saat bincang dengan Kompas.com di kantornya, Kamis (15/2/2018) pekan lalu.

Sebagaimana yang telah diumumkan oleh Direktorat Jenderal Penyelenggara Pos dan Informatika masa registrasi ulang telah dibuka sejak 31 Oktober 2017 dan akan berakhir Rabu  pekan depan atau 28 Februari 2018.

Jika hingga batas waktu yang telah ditentukan itu, konsumen belum juga melakukan registrasi ulang, maka nomor pelanggan akan dihapus dari sistem.

Hingga Sabtu (17/2) sudah ada 226 juta nomor pelanggan prabayar seluler yang telah melakukan registrasi. Angka itu merupakan jumlah pelanggan aktif yang telah tervalidasi melalui sistem database kependudukan Direktorat Jenderal Kependudukan dan Catatan Sipil (Ditjen Dukcapil).

Namun jumlah nomor yang teregistrasi itu diperkirakan baru setengah dari jumlah nomor telepon seluler prabayar yang beredar di pasaran.  Direktur Jenderal Penyelenggaraan Pos dan Informatika Kemenkominfo, Ahmad M. Ramli menegaskan registrasi ulang harus dilakukan dengan data pribadi sendiri bukan data orang lain.

Dalam tulisannya di Kompas.com, pengamat telekomunikasi Moch S. Hendrowijono mengungkapkan terbuka kemungkinan pelanggan melakukan registrasi bukan dengan data pribadi sendiri.

Menurutnya saat ini sangat mudah mendapat data kependudukan, tidak hanya nomor KTP tetapi juga KK, sebab data KK tersimpan di beberapa instansi seperti di imigrasi, notaris, perusahan leasing, termasuk di ketua RT dan kelurahan.

Siap-siap Diblokir

Bagi pengguna yang tidak melakukan registrasi ulang sesuai dengan aturan yang ditetapkan oleh pemerintah, maka resikonya adalah pemblokiran nomor yang digunakan.

Aturan sanksinya adalah sebagai berikut:

  • Apabila tidak juga registrasi ulang hingga 28 Februari 2018, diberikan tenggang waktu sampai 30 hari
  • Apabila dalam masa tenggang 30 hari itu tidak juga registrasi ulang, dilakukan pemblokiran telepon/SMS keluar pada hari ke-30
  • Apabila tidak juga registrasi ulang sampai 15 hari berikutnya, dilakukan pemblokiran telepon/SMS masuk
  • Dan apabila tidak juga registrasi ulang dalam 15 hari berikutnya, dilakukan pemblokiran layanan internet atau nomor diblokir total

Vice President Corporate Communications Telkomsel Adita Irawati mendorong pelanggan Telkomsel yang menggunakan kartu prabayar atau yang membeli perdana untuk segera mematuhi aturan registrasi ulang tersebut.

Menurutnya registrasi nomor prabayar sangat bermanfaat dalam memberikan kenyamanan dan kemudahan layanan bagi pelanggan.

“Kami mengimbau agar pelanggan tidak perlu menunggu hari terakhir untuk melakukan registrasi untuk menghindari trafik yang padat pada sistem registrasi,” kata Adita dalam keterangan persnya, Selasa (20/2/2018).

Rudiantara mengatakan penggunaan kartu prabayar yang hanya menggunakan nomor telepon tersebut dalam waktu singkat dan segera membuangnya, membebani operator. Situasi itu memang dipicu oleh perang harga antaroperator. Konsumen tertentu mudah berganti nomor mengikuti promo yang paling murah.

“Industri juga rugi. Jadi fokusnya ke kualitas pelanggan, supaya masyarakat tidak pakai lalu buang,” imbuh Rudiantara.

Jika program registrasi ulang nomor telepon ini berhasil, operator telekomunikasi bisa menghemat biaya produksi nomor telepon baru. Sehingga dana yang ada bisa dialihkan untuk pengembangan kualitas jaringan.

Disamping itu, aturan registrasi ulang dengan nomor KTP dan KK itu meminimalisir penyalahgunaan nomor seluler prabayar yang sering dilakukan untuk tujuan kejahatan.

zonautara.com

Warga membeli kartu perdana.(Foto: zonautara.com/Tonny Rarung )

 

Cek Nomor Anda

Agar terhindar dari pemblokiran, bersegeralah melakukan registrasi. Untuk mengecek apakah nomor anda sudah teregistrasi atau belum, siapkan KTP dan perhatikan nomornya, lalu sesuai dengan operator, masuklah ke situs mereka:

Jika belum teregistrasi, lakukan registrasi dengan cara berikut:

Registrasi via SMS (kirim ke 4444) bagi pengguna kartu SIM prabayar baru

– Bagi pengguna baru Tri, Smartfren, dan Indosat, pendaftaran bisa dilakukan dengan mengirim SMS dengan format: 16 digit NIK#16 digit nomor KK

– Pelanggan baru XL mesti mengirim SMS dengan format: DAFTAR#16 digit NIK#16 digit nomor KK

– Pelanggan baru Telkomsel mengirim SMS dengan format: REG<spasi>16 digit NIK#16 digit nomor KK#

Registrasi via SMS (kirim ke 4444) bagi pengguna kartu SIM aktif (pengguna lama)

– Pengguna Indosat, Smartfren, dan Tri dapat mengirimkan SMS dengan format: ULANG#16 digit NIK#16 digit nomor KK#

– Pengguna XL dapat mengirimkan SMS dengan format: ULANG#16 digit NIK#16 digit nomor KK

– Pengguna Telkomsel dapat mengirimkan SMS dengan format: ULANG<spasi>16 digit NIK#16 digit nomor KK#

 

Editor: Ronny A. Buol

Comments

comments

Continue Reading

FOKUS ISU

Momentum Ini Ternyata Lebih Berharga Ketimbang Hari Valentine

Published

on

zonautara.com
Buku Sulawesi Utara Bergolak, Peristiwa Patriotik Merah-Putih 14 Februari 1946 karya Ben Wowor.(Foto: zonautara.com/Rahadih Gedoan)

MANADO, ZONAUTARA.com – Masyarakat di Sulawesi Utara (Sulut) serta Indonesia pada umumnya, kini hampir melupakan peristiwa perjuangan penting yang terjadi pada 14 Februari 1946. Mengenangnya padahal merupakan hal yang wajib.

Mirisnya, masyarakat kini lebih memilih sibuk rayakan Hari Valentine yang tidak ada hubungan sejarah dan budaya dengan daerah kita ketimbang harus mengenang perisitwa patriotik yang terjadi pada 14 Februari 1946.

Menurut  buku Sulawesi Utara Bergolak, Peristiwa Patriotik Merah-Putih 14 Februari 1946 yang ditulis Ben Wowor, dulu, para pemuda yang tergabung dalam pasukan KNIL Kompi VII di bawah pimpinan Ch Taulu bersama dengan rakyat melakukan perebutan kekuasaan di Manado, Tomohon, dan Minahasa pada tanggal 14 Februari 1946.

Sekitar 600 orang pasukan dan pejabat Belanda berhasil ditawan. Pada tanggal 16 Februari 1946, dikeluarkan selebaran yang menyatakan bahwa kekuasaan di seluruh Manado telah berada di tangan bangsa Indonesia.

Untuk memperkuat kedudukan Republik Indonesia, para pemimpin dan pemuda menyusun pasukan keamanan dengan nama Pasukan Pemuda Indonesia yang dipimpin oleh Mayor Wuisan. Bendera Merah Putih dikibarkan di seluruh pelosok Sulut hampir selama satu bulan, yaitu sejak tanggal 14 Februari 1946.

Di pihak lain, Dr Sam Ratulangi diangkat sebagai Gubemur Sulawesi dan mempunyai tugas untuk memperjuangkan keamanan dan kedaulatan rakyat Sulawesi. Ia memerintahkan pembentukan Badan Perjuangan Pusat Keselamatan Rakyat. Dr Sam Ratulangi membuat petisi yang ditandatangani oleh 540 pemuka masyarakat Sulawesi.

Dalam petisi itu dinyatakan bahwa seluruh rakyat Sulawesi tidak dapat dipisahkan dari Republik Indonesia. Dengan adanya petisi tersebut, pada tahun 1946 Sam Ratulangi ditangkap dan dibuang ke Serui (Papua).

Peristiwa ini hingga saat ini dikenang dalam sejarah bangsa Indonesia sebagai Peristiwa Merah Putih di Manado.

Andai saja kita buta sejarah, kita akan kehilangan pijakan identitas diri. Merayakan 14 Februari sebagai momentum Peristiwa Merah Putih barangkali lebih tepat karena memiliki hubungan dengan latar belakang sejarah dan budaya bangsa ketimbang memperingati momentum dipancungnya pendeta dari Roma baik hati yang bernama Valentine, pada 14 Februari 278.

 

Editor: Rahadih Gedoan

Comments

comments

Continue Reading
%d bloggers like this: