Connect with us

SEJARAH

Hantaman Tsunami Di Taghulandang dan Kisah Iman Zendeling Kelling

Orang-orang yang pada waktu itu membenci Kristen.

Published

on

zonautara.com
Zendeling F. Kelling (Foto: repro)

Oleh: Rendy Saselah

 

Sejarah kekristenan di kepulauan Sangihe dan Talaud tidak terlepas dari peran para Zending Tukang (Zendeling Werkman). Mereka bisa dikatakan manusia-manusia yang hidup dalam naungan tekad keikhlasan dalam melayani misi pelayanan gerejawi di kawasan Sangihe-Talaud.

Penyebaran agama Kristen tentu mengalami masa pasang dan surut. Dimulai dari kondisi sosial masyarakat dan krisis keuangan VOC (1799) yang berdampak pada tersendatnya misi pelayanan.

Berdirinya Nederlandch Zendeling Genootschap (NZG) atau Serikat Misionaris Belanda pada  19 Desember 1797, mencoba menemukan metode baru dengan mengutus Zending Tukang (Zendeling Werkman) guna menyelamatkan kehidupan rohani yang sudah tertanam di masa-masa sebelumnya.

Mereka yang diutus pertama kali adalah  F. Kelling, A. Grohe, C.W.L.M Schroder, dan E.T Steller yang ditahbiskan di Jerman 17 Desember 1854, untuk memulai misi perjalanan melalui Belanda, Batavia hingga menuju basis pelayanannya di bibir Pasifik.

Penyertaan Tuhan selalu nyata. Rancangannya menggenapi persoalan kehidupan yang tak kunjung dapat ditebak. Semenjak zaman para nabi, Kristus telah menyatakan kuasanya kepada umat yang percaya kepadaNya.

Hal nyata dialami oleh F. Kelling ketika memulai misi pelayanannya di Pulau Taghulandang 1858. Zendeling F. Kelling mengalami banyak goncangan cobaan kehidupan dalam menjalankan misi pelayanan.

Ia menemukan kondisi orang-orang Kristen yang buruk di pulau itu, namun dengan ketabahannya sambil selalu berdoa kepada Tuhan, pada tahun 1862 ia melihat sedikit perubahan dan dapat merayakan perjamuan kudus dengan dua puluh orang anggota jemaat.

Namun sesudah itu ada sebuah peristiwa alam sekaligus menandai kebesaran iman Zendeling Kelling. Tahun 1870 Pulau Taghulandang diterjang Tsunami akibat letusan Gunung Api Ruang.

Peristiwa itupun kemudian ditulis oleh putranya, P. Kelling. P. Kelling menjelaskan bahwa ada sebuah bunyi yang kedengaran aneh dan menarik perhatian ayahnya yang kebetulan berada di serambi depan rumah. Jarak antara bibir pantai dan serambi rumah tinggal mereka berkisar 40 meter dan hampir sama tinggi dengan pantai.

Kelling melayangkan matanya ke atas Gunung Ruang. Seketika itu ia melihat ombak pasang berbuih-buih, mendidih, seperti dinding putih menerjang datang dengan kekuatan yang sangat dahsyat.

Kepada penghuni rumah yang sudah berkumpul, Pendeta Kelling hanya berkata kepada mereka; “mari kita berdoa”. Semuapun bersama-sama berlutut. Tak selang berapa lama. Doa meminta pertolongan Tuhan belum selesai, dalam waktu yang singkat, ombak tersebut telah melewati rumah mereka dari sebelah-menyebelah.

Ombak pasang tersebut merusak seluruh perkampungan Taghulandang dan pantai-pantai lainnya. Kuasa Tuhan dinyatakan pada waktu itu. Seisi  rumah dari keluarga Pendeta Kelling tidak ada yang mengalami luka sedikitpun. Ombak seakan terbelah oleh kuasa Tuhan di depan rumah Zendeling.

Malapetaka itu terjadi di siang hari dan menelan 450 korban jiwa diratapi. Seluruh negeri itu penuh dengan orang-orang yang putus asa. Seketika rumah Zendeling berubah menjadi rumah sakit untuk orang-orang yang menderita luka berat.

Orang-orang yang pada waktu itu membenci Kristen, dan bahkan seorang raja yang ditulisnya baru kemarin sampai pagi itu menghujat-hujat Tuhan di depan gereja, di tempat itu juga remuk ditimpah dinding gereja yang runtuh.

Sesudah peristiwa tragis itu terjadi, misi pelayanannyapun berjalan dengan baik. Selain di Taghulandang, F. Kelling juga menjalankan pemeliharaan rohani di Pulau Siau selama 16 tahun.

Namun demikian cobaan kembali menimpanya setelah secara ajaib Tuhan menyelamatkan keluarganya dari bencana tersebut, setahun berikutnya pada tahun 1871 istrinya meninggal dalam perjalanan pulang ke Belanda.

Selanjutnya dalam perayaan ke 40 tahun jabatannya, Kelling mengalami pencobaan berat. Ia mengalami penyakit radang mata yang akhirnya membuat matanya buta total.

Dalam keadaan buta ia memberikan kesaksiannya dengan berkata, “saya sekarang pada usia hampir 69 tahun, berharap, Tuhan tidak membiarkan saya di sini hidup lama dalam kegelapan badani ini, sebab suara panggilanNya akan segera datang kepadaku. Dengan segenap hati saya berharap, bahwa saya sampai pada waktu itu dapat tinggal bersama-sama dengan jemaatku, yang apalagi tidak mau memberi saya berangkat dari tempat ini”.

Dan pada akhirnya 13 Agustus 1990 di usia 71 tahun, Zendeling F. Kelling menghadap Sang Khalik. Nisannya tertulis, “Di sini datanglah seorang berdosa, yang hanya mengharapkan keselamatan karena anugerah”. Di susul dengan Roma 6: 23.

***

 

Dirangkai dari buku catatan perjalanan D. Brilman, Kabar Baik di Bibir Pasifik: Zending di Kepulauan Sangihe dan Talaud/D Brilman.—Jakarta: Pustaka Sinar Harapan,2000.

 

Editor: Ronny A. Buol

 

Comments

comments

Click to comment

Komentar

SEJARAH

Maliku, Kampung Yang Disayangi

Published

on

zonautara.com
Jalan masuk Desa Maliku, Kecamatan Amurang Timur, Kabupaten Minsel. (Foto: zonautara.com/Lukman Polimengo)

MINSEL, ZONAUTARA.com Desa Maliku, merupakan salah satu desa yang ada di Kecamatan Amurang Timur, Kabupaten Minahasa Selatan (Minsel). Tim Zona Utara berkesempatan mengunjungi desa yang terletak sekitar 10 Kilometer (Km) dari pusat Kota Amurang ini.

Pemandangan asri nan sejuk bisa kita nikmati selama perjalanan ke desa yang telah dimekarkan menjadi dua desa sejak tahun 2012 tersebut. Hukum Tua Desa Maliku Ferry Pieter Pandey, sedikit mengurai sejarah terbentuknya desa yang dipimpinnya tersebut.

Di mana, sejarah desa yang diketahuinya saat ini hanya berdasarkan penuturan turun temurun dari para tetua kampung. Pasalnya, jejak sejarah asli di Desa Maliku ini hilang dan sampai saat ini belum ditemukan.

Awal mulanya, pada tahun 1600-an, kampung tersebut bernama Lalumpe yang diambil dari nama sebuah kayu. Di mana, kayu itu menjadi tempat berkumpulnya para pendatang yang mengunjungi kampung yang terletak di wilayah pegunungan tersebut.

“Seiring berjalannya waktu, semakin banyak orang yang datang ke sini. Sehingga, desa ini kemudian berganti nama menjadi Liliku yang artinya tempat kesayangan atau kampung yang disayangi. Dari nama Liliku tersebut kemudian menjadi Maliku, hingga saat ini,” ujar Pandey.

Sejak saat itu, masyarakat yang datang dan tinggal di desa yang berada di wilayah kaki Gunung Soputan ini pun semakin bertambah banyak. Kini tak terhitung lagi tonaas hingga kepala desa yang telah memimpin kampung tersebut.

Di sisi lain, kejadian menarik pun disebut pernah terjadi di desa ini. Kejadian tersebut pun disebut “padi bergoyang”, yang terjadi pada tahun 1952. Di mana, berdasarkan cerita turun temurun dari para tetua, saat itu, padi yang sudah disimpan di rumah petani bergerak seperti mata air, jadi lama-kelamaan menjadi banyak.

Bahkan, padi-padi itu yang kemudian dibawa ke daerah Bolaang Mongondow (Bolmong) yang sekarang sudah menjadi sentra beras. Tak hanya padi, hal serupa juga terjadi pada cabai yang baru saja dipanen oleh petani di desa tersebut.

Kini, Desa Maliku kian berkembang. Kondisi perekonomian masyarakat pun rata-rata berada pada level menengah,serta tidak terdapat masyarakat yang berada di level sangat miskin. Areal perkebunan kelapa dan juga sawah menjadi penyangga kehidupan masyarakat yang 95% berstatus petani.

 

Editor : Christo Senduk

Comments

comments

Continue Reading

SEJARAH

Ketika Jalan Pedang Permesta Berakhir Di Desa Malenos

Published

on

zonautara.com
Tugu peringatan perdamain Permesta dan Pemerintah Pusat RI di Desa Malenos. (Foto: zonautara.com/Tesa Filia Senduk)

MINSEL, ZONAUTARA.com Malenos Baru, adalah sebuah desa di Kecamatan Amurang Timur, Kabupaten Minahasa Selatan, Provinsi Sulawesi Utara (Sulut). Desa ini menyimpan sejarah penting napak tilas dari akhir Jalan Pedang yang ditempuh Permesta melawan Pemerintah Pusat Republik Indonesia (RI).

Di desa inilah, perdamaian antara Pemerintah Pusat RI dan Permesta mencapai kata sepakat. 4 April 1961, dicatat sejarah sebagai puncak perdamain tersebut. Momen itu, ditandai dengan didirikannya monumen perdamaian memperingati berakhirnya perang saudara antarkedua anak bangsa. Monumen peringatan ini dengan mudah bisa ditemukan, yakni di samping gedung Gereja Masehi Injil di Minahasa (GMIM) Eben Hezer, Desa Malenos.

Menurut Hukum Tua (Kumtua)/Kepala Desa Malenos Senny Tutu, kesepakatan damai antarkedua belah pihak bersamaan dengan peresmian kampung Malenos Baru.

“Kampung Malenos dulunya bukan di sini. Letaknya dulu jauh ke dalam, sekarang sudah jadi perkebunan warga. Perdamaian antara Pusat dan Permesta di lokasi ini bersamaan juga dibukanya perkampungan Malenos Baru,” tutur Senny saat berbincang dengan Tim Redaksi Zona Utara, Jumat (16/2/2018).

Berdasarkan dokumentasi yang dimiliki Desa Malenos, kesepakatan damai antara Pemerintah Pusat dan Permesta di Malenos berawal saat Wakil Gubernur (Wagub) Sulut dan Tenggara (Suluteng) B Tumbelaka, berkunjung ke Malenos pada awal tahun 1961, sebagai perpanjangan tangan dari Pemerintah Pusat untuk mengadakan kesepakatan damai dengan pihak Permesta.

Wagub menugaskan Kumtua Malenos saat itu Victor A Tutu, untuk menjadi penghubung antara Pemerintah Pusat dan Pasukan Permesta. Victor Tutu juga ditugaskan mencari tempat aman untuk perundingan kedua pihak. Menindaklanjuti penugasan ini, Victor pun menunjuk Dirk Tuuk sebagai Kepala Jaga Polisi di Malenos dan segera mencari tempat aman yang dimaksud Wagub Suluteng.

Perkebunan Ritey, dekat hulu sungai Malenos dijadikan lokasi pertama perundingan. Dalam perundingan itu, pihak pemerintah diwakili Wagub Suluteng, sementara pihak Permesta diwakili oleh Johan Tambayong. Dari perundingan ini disepakati, akan ada perundingan lanjutan yang akan memertemukan pimpinan Angkatan Perang Republik Indonesia (APRI) dan pimpinan Pasukan Permesta.

Gedung GMIM Malenos kemudian dijadikan tempat perundingan lanjutan. Di sini, perundingan selain dihadiri oleh Wagub Sulteng dari pihak Pemerintah Pusat, juga dihadiri oleh Kolonel Supangat selaku Perwira Staf Komando Daerah (Kodam) XIII/Merdeka APRI. Dari pihak Permesta, hadir Johan Tambayong dan Letnan Kolonel Wim Tenges selaku Komandan Brigade WK.III (Distrik III) Permesta.

Perundingan yang dijaga ketat oleh Batalyon A/Kompi Buaya Permesta pimpinan Kapten Anthon Tenges tersebut berjalan alot. Kedua pihak saling memahami dan bersepakat mengakhiri perang saudara. Tanggal 4 April 1961 dipilih sebagai hari upacara pembacaan Naskah Perdamaian. Lokasi yang ditentukan bertempat di Desa Malenos Baru.

Untuk memersiapkan upacara, pada tanggal 3 April 1961, Pasukan Zeni Kodam XIII/Merdeka membuat lapangan. Lokasi lapangan tersebut sekarang masuk di tiga pekarangan, yakni halaman Gereja GMIM Malenos, Rumah Keluarga G Kimbal dan Rumah Keluarga Victor A Tutu.

Tepat pada hari H, tanggal 4 April 1961, upacara pun dilaksanakan. Naskah perdamaian ditandatangani oleh kedua belah pihak. Dari pihak Pemerintah Pusat, naskah  ditandatangani oleh Kolonel Sunandar Prijosudarmo selaku Panglima Kodam (Pangdam) XIII/Merdeka. Dari pihak Permesta ditandatangani oleh Kolonel D.J Somba selaku pimpinan Komando Daerah Pertempuran (KDP) II, sekaligus selaku Panglima Komando Daerah Militer (KDM) Sulawesi Utara dan Tenggara (SUT) Permesta.

Dengan ditandatanganinya kesepakatan damai ini, maka otomatis Permesta secara resmi telah kembali ke pangkuan Negara Kesatuan RI, setelah tiga tahun lebih melakukan perlawanan, terhitung dari tahun 1958 hingga April 1961. Apalagi, D.J Somba adalah salah satu tokoh penting dalam pergolakan Permesta. Dia adalah tokoh yang membacakan pernyataan sikap Permesta putus hubungan dengan Pemerintah Pusat, pada tanggal 17 Februari 1958 di Lapangan Sario Manado.

Perdamaian Permesta melalui D.J Somba, juga membuat puluhan ribu pasukan Permesta yang dipimpinnya menghentikan perlawanan. Selain itu, di  bawah kepemimpinan D.J Somba juga ada salah satu dari dua Brigade terkuat yang dimiliki Permesta, yakni Brigade WK.III. Brigade yang dipimpin Kolonel Wim Tenges ini terkenal disiplin, loyal dan gigih di medan tempur, selain Brigade 999 pimpinan Jan Timbuleng yang sebelumnya telah diduga berkhianat oleh para pemimpin Permesta.

Kolonel Wim, secara militer adalah sosok yang cerdas dan ahli strategi. Kedisiplinan dan kerapihan pasukannya saat bergerak, serta moral prajuritnya menjadi pembeda utama dengan Brigade 999 pimpinan Jan Timbuleng. Meski dikenal ganas di medan tempur, Brigade 999 dinilai tidak menggambarkan satuan militer yang profesional sebagaimana Brigade WK.III.

Sekilas tentang Permesta

Permesta adalah singkatan dari Perjuangan Semesta atau Perjuangan Rakyat Semesta. Adalah sebuah gerakan militer yang ditempuh para tokoh militer di Sulawesi, terutama di Sulut, sebagai wujud protes terhadap arah politik Pemerintah Pusat RI.

Dalam buku berjudul “Permesta Dalam Romantika, Kemelut dan Misteri”, yang ditulis oleh Phill M Sulu disebutkan, bahwa permesta dideklarasikan oleh Letnan Kolonel Ventje Sumual selaku pemimpin sipil dan militer Indonesia bagian timur pada 2 Maret 1957 di Makassar.

Setahun kemudian, pada 1958, markas besar Permesta dipindahkan ke Manado. Pada tanggal 17 Februari 1958 diumumkan di Lapangan Sario Manado, bahwa Permesta menyatakan putus hubungan dengan pemerintah pusat.

Dalam artikel yang dipublis zonautara.com tanggal 17 Desember 2017 berjudul “Kisah RPKAD Memburu Permesta Di Kampung Langowan”, disebutkan sebulan setelah Permesta memindahkan markasnya ke Manado, pada bulan Maret 1958 Kepala Staf Angkatan Darat Mayor Jenderal Nasution, mengeluarkan perintah kepada Letnan Kolonel Bardosono untuk melaksanakan Operasi Militer IV, guna memadamkan pemberontakan Permesta.

Sejak itu, selama tiga tahun lebih Permesta berjuang melawan setiap serangan yang dilancarkan APRI. Hingga pada akhirnya, mereka berhenti menempuh jalan pedang. Puncaknya, melalui kesepakatan damai di Desa Malenos, tanggal 4 April 1961.

 

Editor : Christo Senduk

Comments

comments

Continue Reading
%d bloggers like this: