Siaga El Niño: Kemarau Panjang
Laporan mengenai dampak fenomena El Niño terhadap krisis kekeringan ekstrem, ancaman kebakaran hutan, serta situasi dan kondisi terkait.
Baca liputan khusus Zonautara.com yang tayang di platform kolaboratif Teras.id, dengan dukungan Tempo, Tempo Institute dan IFPIM
Platform laporan warga, kerugian ekonomi petani & nelayan, dan data ilmiah terbuka tentang dampak iklim di Sulut.
Akses ribuan data tentang Sulawesi Utara yang terstruktur dan interaktif melalui platform yang dikembangkan Zonautara.com berbasis peta.
Pelajari keamanan siber dari nol hingga mahir. Ratusan artikel, modul interaktif, dan direktori tools terlengkap.
Temukan jadwal dan rute kapal Pelni dalam peta interaktif sesuai pelabuhan tujuan semua pelabuhan di Indonesia. Diupdate setiap bulan.
Platform laporan warga, kerugian ekonomi petani & nelayan, dan data ilmiah terbuka tentang dampak iklim di Sulut.
Akses ribuan data tentang Sulawesi Utara yang terstruktur dan interaktif melalui platform yang dikembangkan Zonautara.com berbasis peta.
Pelajari keamanan siber dari nol hingga mahir. Ratusan artikel, modul interaktif, dan direktori tools terlengkap.
Temukan jadwal dan rute kapal Pelni dalam peta interaktif sesuai pelabuhan tujuan semua pelabuhan di Indonesia. Diupdate setiap bulan.
Sepuluh tulisan dalam serial liputan mendalam “Menakar Manfaat Proyek Strategis Nasional di Sulawesi Utara” telah terbit di Teras.id. Kini saatnya kami mengajak Anda melihat cerita di balik proses peliputannya.
Mengapa Zonautara.com kembali ke Bendungan Lolak?
Di lapangan, kami menemukan cerita yang tidak selalu sama. Ada petani yang sudah menikmati air irigasi, tetapi ada pula yang masih menunggu jaringan pengairan menjangkau sawahnya. Ada warga yang terus memperjuangkan ganti rugi lahan, sementara sejumlah fasilitas pendukung bendungan belum dimanfaatkan secara optimal.
Kami juga menelusuri dokumen pemerintah, mewawancarai berbagai pihak, hingga menggunakan citra satelit untuk membantu membaca kondisi persawahan selama kemarau 2026.
Bagaimana semua temuan itu dihimpun, diuji, dan diolah menjadi karya jurnalistik? Apa tantangan reporter di lapangan? Dan pertanyaan apa yang masih tersisa setelah sepuluh laporan diterbitkan?
OBROLAN REDAKSI: MENAKAR MANFAAT BENDUNGAN LOLAK
Bersama jurnalis Zonautara.com Marsal Datundugon ( @marshal_datundugon ) dan Neno Karlina ( @nenokarlina ) , serta dipandu Jufri Kasumbala ( @jufrikasumbala ).
📅 Senin, 2 November 2026
⏰ 19.00 WITA
📍 INSTAGRAM LIVE @zonautaradotcom
Kami mengundang Anda untuk bergabung, bertanya, dan berdiskusi. Sebab pembangunan tidak cukup hanya dinilai dari infrastruktur yang telah berdiri, tetapi juga dari manfaat yang benar-benar dirasakan masyarakat.
Serial liputan ini merupakan kolaborasi Zonautara.com bersama Tempo dan Teras.id.
Dukung keberlanjutan jurnalisme mendalam melalui langganan Teras Plus: s.id/dukungzu
Sampai bertemu di Obrolan Redaksi!
#ObrolanRedaksi
#BendunganLolak
#PSNSulut
#TerasID
Sepuluh tulisan dalam serial liputan mendalam “Menakar Manfaat Proyek Strategis Nasional di Sulawesi Utara” telah terbit di Teras.id. Kini saatnya kami mengajak Anda melihat cerita di balik proses peliputannya.
Mengapa Zonautara.com kembali ke Bendungan Lolak?
Di lapangan, kami menemukan cerita yang tidak selalu sama. Ada petani yang sudah menikmati air irigasi, tetapi ada pula yang masih menunggu jaringan pengairan menjangkau sawahnya. Ada warga yang terus memperjuangkan ganti rugi lahan, sementara sejumlah fasilitas pendukung bendungan belum dimanfaatkan secara optimal.
Kami juga menelusuri dokumen pemerintah, mewawancarai berbagai pihak, hingga menggunakan citra satelit untuk membantu membaca kondisi persawahan selama kemarau 2026.
Bagaimana semua temuan itu dihimpun, diuji, dan diolah menjadi karya jurnalistik? Apa tantangan reporter di lapangan? Dan pertanyaan apa yang masih tersisa setelah sepuluh laporan diterbitkan?
OBROLAN REDAKSI: MENAKAR MANFAAT BENDUNGAN LOLAK
Bersama jurnalis Zonautara.com Marsal Datundugon ( @marshal_datundugon ) dan Neno Karlina ( @nenokarlina ) , serta dipandu Jufri Kasumbala ( @jufrikasumbala ).
📅 Senin, 2 November 2026
⏰ 19.00 WITA
📍 INSTAGRAM LIVE @zonautaradotcom
Kami mengundang Anda untuk bergabung, bertanya, dan berdiskusi. Sebab pembangunan tidak cukup hanya dinilai dari infrastruktur yang telah berdiri, tetapi juga dari manfaat yang benar-benar dirasakan masyarakat.
Serial liputan ini merupakan kolaborasi Zonautara.com bersama Tempo dan Teras.id.
Dukung keberlanjutan jurnalisme mendalam melalui langganan Teras Plus: s.id/dukungzu
Sampai bertemu di Obrolan Redaksi!
#ObrolanRedaksi
#BendunganLolak
#PSNSulut
#TerasID
...
Zonautara.com menjadi juara dalam AMSI Award 2026 untuk kategori Inovasi Konten dan Karya Jurnalistik Terbaik Media Skala Kecil.
Zonautara.com menjadi juara dalam AMSI Award 2026 untuk kategori Inovasi Konten dan Karya Jurnalistik Terbaik Media Skala Kecil. ...
FASILITAS WISATA BENDUNGAN LOLAK SEPI, ADA GAZEBO ROBOH
Sebuah gazebo beratap menyerupai huruf A tergeletak di tanah. Rangka kayunya terlepas, sebagian berserakan. Di sekelilingnya, rumput mengering dan sejumlah fasilitas tampak tidak terurus.
Inilah kondisi kawasan wisata Bendungan Lolak di Desa Pindol, Kabupaten Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara, ketika dikunjungi tim Zonautara.com pada 13 Oktober 2026.
Beberapa gazebo lain masih berdiri. Patung pemimpin adat Bolaang Mongondow menghiasi bagian tengah taman. Jalur pejalan kaki dan fasilitas pendukung telah dibangun.
Namun, tidak terlihat petugas berjaga. Toilet untuk pengunjung juga tidak ditemukan. Sementara menara pandang bendungan dalam keadaan tertutup ketika tim tiba.
Padahal, kawasan wisata merupakan salah satu manfaat tambahan yang direncanakan dari pembangunan Bendungan Lolak, Proyek Strategis Nasional (PSN) senilai sekitar Rp2,02 triliun yang diresmikan pada Februari 2024.
Lantas, siapa yang bertanggung jawab mengelola dan memelihara fasilitas tersebut?
Petugas Unit Pengelola Bendungan Lolak menjelaskan bahwa pengelolaan wisata berkaitan dengan Pemerintah Kabupaten Bolaang Mongondow, tetapi belum berjalan sebagaimana direncanakan.
Ketika ditanya siapa yang bertanggung jawab atas fasilitas yang rusak, petugas menyebut Balai Wilayah Sungai (BWS) Sulawesi I masih menanganinya.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan tentang keberlanjutan pemeliharaan fasilitas publik yang telah dibangun.
Mengapa fasilitas wisata sudah rusak sebelum pemanfaatannya berjalan optimal? Kapan pengelolaan kawasan ini mendapat kepastian?
Baca laporan Zonautara.com di sini: https://s.id/bendunganlolak07
Laporan ini merupakan bagian dari serial Proyek Strategis Nasional di Sulawesi Utara.
Dukung jurnalisme independen Zonautara.com dengan berlangganan:
https://s.id/dukungzu
Sebab keberhasilan pembangunan tidak berhenti pada peresmian. Fasilitas yang dibangun juga harus dirawat agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat.
#TerasID
#BendunganLolak
#PSN
#BolaangMongondow
FASILITAS WISATA BENDUNGAN LOLAK SEPI, ADA GAZEBO ROBOH
Sebuah gazebo beratap menyerupai huruf A tergeletak di tanah. Rangka kayunya terlepas, sebagian berserakan. Di sekelilingnya, rumput mengering dan sejumlah fasilitas tampak tidak terurus.
Inilah kondisi kawasan wisata Bendungan Lolak di Desa Pindol, Kabupaten Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara, ketika dikunjungi tim Zonautara.com pada 13 Oktober 2026.
Beberapa gazebo lain masih berdiri. Patung pemimpin adat Bolaang Mongondow menghiasi bagian tengah taman. Jalur pejalan kaki dan fasilitas pendukung telah dibangun.
Namun, tidak terlihat petugas berjaga. Toilet untuk pengunjung juga tidak ditemukan. Sementara menara pandang bendungan dalam keadaan tertutup ketika tim tiba.
Padahal, kawasan wisata merupakan salah satu manfaat tambahan yang direncanakan dari pembangunan Bendungan Lolak, Proyek Strategis Nasional (PSN) senilai sekitar Rp2,02 triliun yang diresmikan pada Februari 2024.
Lantas, siapa yang bertanggung jawab mengelola dan memelihara fasilitas tersebut?
Petugas Unit Pengelola Bendungan Lolak menjelaskan bahwa pengelolaan wisata berkaitan dengan Pemerintah Kabupaten Bolaang Mongondow, tetapi belum berjalan sebagaimana direncanakan.
Ketika ditanya siapa yang bertanggung jawab atas fasilitas yang rusak, petugas menyebut Balai Wilayah Sungai (BWS) Sulawesi I masih menanganinya.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan tentang keberlanjutan pemeliharaan fasilitas publik yang telah dibangun.
Mengapa fasilitas wisata sudah rusak sebelum pemanfaatannya berjalan optimal? Kapan pengelolaan kawasan ini mendapat kepastian?
Baca laporan Zonautara.com di sini: https://s.id/bendunganlolak07
Laporan ini merupakan bagian dari serial Proyek Strategis Nasional di Sulawesi Utara.
Dukung jurnalisme independen Zonautara.com dengan berlangganan:
https://s.id/dukungzu
Sebab keberhasilan pembangunan tidak berhenti pada peresmian. Fasilitas yang dibangun juga harus dirawat agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat.
#TerasID
#BendunganLolak
#PSN
#BolaangMongondow
...
AKSI MEMANAS, GAS AIR MATA DITEMBAKKAN!
Situasi di Perempatan Deutsche Bank, Bundaran HI, kian mencekam! Gas air mata mulai ditembakkan. Massa aksi diminta tetap waspada, saling menjaga, dan tidak meninggalkan kawan dalam situasi genting!
Pkl 18.30.WIB, 28 Oktober 2926
#BundaranHI #IndonesiaSadar #AksiMahasiswa #StaySafe #SuaraRakyat
AKSI MEMANAS, GAS AIR MATA DITEMBAKKAN!
Situasi di Perempatan Deutsche Bank, Bundaran HI, kian mencekam! Gas air mata mulai ditembakkan. Massa aksi diminta tetap waspada, saling menjaga, dan tidak meninggalkan kawan dalam situasi genting!
Pkl 18.30.WIB, 28 Oktober 2926
#BundaranHI #IndonesiaSadar #AksiMahasiswa #StaySafe #SuaraRakyat
...
Situasi aksi demo di sekitar Bundaran HI, Jakarta menjelag malam pada 28 Oktober 2026.
#bundaranhi
#aksidemo
Situasi aksi demo di sekitar Bundaran HI, Jakarta menjelag malam pada 28 Oktober 2026.
#bundaranhi
#aksidemo
...
MENANAM ATAU MENUNGGU AIR: DILEMA PETANI DI TENGAH KEMARAU
Markus (54) memiliki sawah di Desa Lalow, Kecamatan Lolak, Bolaang Mongondow. Namun, sudah lama sawah itu tidak diolah.
"Tidak ada air, hanya mengharap hujan saja," katanya kepada Zonautara.com.
Di Mongkoinit Barat, Tohong mengalami kesulitan serupa. Pasokan air tak mencukupi, sementara bendung yang menjadi sumber pengairannya mengalami kerusakan.
Berbeda dengan keduanya, Ahmad (53) di Desa Lolak masih bisa menggarap sawah. Berkat jaringan irigasi yang berfungsi, ia mengaku dapat memanen padi hingga tiga kali setahun.
Tiga petani menghadapi kemarau yang sama, tetapi memiliki kesempatan menanam yang berbeda.
Bagi petani, menanam tanpa kepastian air berarti mempertaruhkan modal. Namun, menunggu hujan juga berarti kehilangan kesempatan memperoleh penghasilan.
Padahal, ancaman kemarau telah diperingatkan BMKG sejak April 2026. Informasi disebut telah diteruskan melalui dinas pertanian dan penyuluh. Namun, sejumlah petani yang ditemui Zonautara.com mengaku tidak pernah menerima peringatan tersebut.
Data pemerintah mencatat 27 hektare padi sawah dan 947 hektare jagung terdampak kekeringan di Kecamatan Lolak.
Sementara analisis citra satelit Zonautara.com menemukan indikasi penurunan kondisi vegetasi pada sekitar 499 hektare sawah. Temuan ini bukan bukti pasti kekeringan atau gagal panen.
Bendungan Lolak senilai Rp2,02 triliun telah beroperasi. Namun, dari rencana layanan irigasi 2.214 hektare, BWS Sulawesi I menyebut baru 908 hektare yang menerima air.
Pertanyaannya, bagaimana peringatan iklim, data pertanian, dan pengelolaan irigasi bisa benar-benar membantu petani menentukan kapan harus menanam?
Baca laporan mendalam Zonautara.com:
https://s.id/bendunganlolak06
Laporan ini bagian dari serial PSN Sulawesi Utara dalam Edisi Khusus Teras.id: "Rapor Dua Tahun Prabowo-Gibran".
Dukung jurnalisme independen dengan berlangganan: https://s.id/dukungzu
Sebab bagi petani, sawah yang tak bisa ditanami bukan sekadar angka statistik. Ada penghidupan yang ikut tertunda.
#TerasID
#BendunganLolak
#PSN
#DuaTahunPrabowoGibran
MENANAM ATAU MENUNGGU AIR: DILEMA PETANI DI TENGAH KEMARAU
Markus (54) memiliki sawah di Desa Lalow, Kecamatan Lolak, Bolaang Mongondow. Namun, sudah lama sawah itu tidak diolah.
"Tidak ada air, hanya mengharap hujan saja," katanya kepada Zonautara.com.
Di Mongkoinit Barat, Tohong mengalami kesulitan serupa. Pasokan air tak mencukupi, sementara bendung yang menjadi sumber pengairannya mengalami kerusakan.
Berbeda dengan keduanya, Ahmad (53) di Desa Lolak masih bisa menggarap sawah. Berkat jaringan irigasi yang berfungsi, ia mengaku dapat memanen padi hingga tiga kali setahun.
Tiga petani menghadapi kemarau yang sama, tetapi memiliki kesempatan menanam yang berbeda.
Bagi petani, menanam tanpa kepastian air berarti mempertaruhkan modal. Namun, menunggu hujan juga berarti kehilangan kesempatan memperoleh penghasilan.
Padahal, ancaman kemarau telah diperingatkan BMKG sejak April 2026. Informasi disebut telah diteruskan melalui dinas pertanian dan penyuluh. Namun, sejumlah petani yang ditemui Zonautara.com mengaku tidak pernah menerima peringatan tersebut.
Data pemerintah mencatat 27 hektare padi sawah dan 947 hektare jagung terdampak kekeringan di Kecamatan Lolak.
Sementara analisis citra satelit Zonautara.com menemukan indikasi penurunan kondisi vegetasi pada sekitar 499 hektare sawah. Temuan ini bukan bukti pasti kekeringan atau gagal panen.
Bendungan Lolak senilai Rp2,02 triliun telah beroperasi. Namun, dari rencana layanan irigasi 2.214 hektare, BWS Sulawesi I menyebut baru 908 hektare yang menerima air.
Pertanyaannya, bagaimana peringatan iklim, data pertanian, dan pengelolaan irigasi bisa benar-benar membantu petani menentukan kapan harus menanam?
Baca laporan mendalam Zonautara.com:
https://s.id/bendunganlolak06
Laporan ini bagian dari serial PSN Sulawesi Utara dalam Edisi Khusus Teras.id: "Rapor Dua Tahun Prabowo-Gibran".
Dukung jurnalisme independen dengan berlangganan: https://s.id/dukungzu
Sebab bagi petani, sawah yang tak bisa ditanami bukan sekadar angka statistik. Ada penghidupan yang ikut tertunda.
#TerasID
#BendunganLolak
#PSN
#DuaTahunPrabowoGibran
...
Di era digital saat ini, menguasai jurnalistik saja nyatanya tak cukup bagi media. Dalam Local Media Summit di Manhattan Hotel Jakarta, Kamis (22/10/2026), Inisiator Pantau Iklim (@pantauiklim ) yang juga sekaligus Pemred ZonaUtara, Ronny Buol (@ronnybuol ), menyoroti pentingnya penguasaan teknologi bagi para pelaku media di tengah perubahan lanskap industri digital.
Menurutnya, kemampuan jurnalistik tetap menjadi fondasi utama. Namun, media juga perlu memahami cara kerja algoritma, mengenali kebutuhan pasar, serta menguasai teknologi yang kini menjadi jalur utama distribusi konten kepada audiens.
Lantaran, sebagus apapun konten yang diproduksi, media tetap perlu memahami bagaimana teknologi bekerja. Hal ini agar informasi bisa menjangkau audiens secara efektif.
#LocalMediaSummit2026
#Media
#Jurnalistik
#Teknologi
Di era digital saat ini, menguasai jurnalistik saja nyatanya tak cukup bagi media. Dalam Local Media Summit di Manhattan Hotel Jakarta, Kamis (22/10/2026), Inisiator Pantau Iklim (@pantauiklim ) yang juga sekaligus Pemred ZonaUtara, Ronny Buol (@ronnybuol ), menyoroti pentingnya penguasaan teknologi bagi para pelaku media di tengah perubahan lanskap industri digital.
Menurutnya, kemampuan jurnalistik tetap menjadi fondasi utama. Namun, media juga perlu memahami cara kerja algoritma, mengenali kebutuhan pasar, serta menguasai teknologi yang kini menjadi jalur utama distribusi konten kepada audiens.
Lantaran, sebagus apapun konten yang diproduksi, media tetap perlu memahami bagaimana teknologi bekerja. Hal ini agar informasi bisa menjangkau audiens secara efektif.
#LocalMediaSummit2026
#Media
#Jurnalistik
#Teknologi
...
AIR BENDUNGAN LOLAK TAK SAMPAI KE SAWAH, SIAPA YANG BERTANGGUNG JAWAB?
Bendungan Lolak sudah beroperasi. Air mengalir ke sungai. Tetapi mengapa sebagian petani masih kesulitan mendapatkan air untuk sawah mereka?
Di Mongkoinit Barat, Tohong sudah berbulan-bulan tidak menanam padi. Saluran irigasi di sekitar lahannya mengalami gangguan dan pasokan air tidak mencukupi.
Di Desa Lalow, Markus masih mengandalkan hujan karena jaringan irigasi belum menjangkau sawahnya. Namun di Desa Lolak, Ahmad tetap bisa mengolah sawah meskipun kemarau panjang melanda Bolaang Mongondow.
Tiga petani, tiga kondisi berbeda. Lantas, siapa sebenarnya yang mengatur air dari bendungan hingga sampai ke sawah?
Penelusuran Zonautara.com menemukan bahwa pengelolaan air melibatkan beberapa pihak dengan tanggung jawab berbeda.
Pengelola Bendungan Lolak mengatur pelepasan air dari bendungan ke sungai. Petugas irigasi di bawah mengatur pembagian air melalui jaringan sesuai kewenangannya. Perkumpulan Petani Pemakai Air berperan dalam pengelolaan jaringan tersier yang melayani petak-petak sawah.
Masalahnya, sejumlah petani mengaku jarang bertemu petugas pengatur air. Sebagian mengatur kebutuhan air sendiri, sementara saluran di beberapa lokasi rusak atau belum dibangun.
Dari target layanan Bendungan Lolak seluas 2.214 hektare, BWS menyebut baru 908 hektare yang telah menerima air. Jaringan pengembangan untuk 1.306 hektare lainnya belum dibangun.
Jika air tidak sampai ke sawah, ke mana petani harus mengadu?
Tim Zonautara.com menelusuri pembagian kewenangan, tanggung jawab pengelola, hingga jalur pengaduan yang dapat digunakan petani.
Baca laporan lengkap: https://s.id/bendunganlolak05
Liputan ini merupakan bagian dari serial PSN Sulawesi Utara dalam Edisi Khusus Teras.id: Rapor Dua Tahun Prabowo-Gibran".
Dukung jurnalisme independen Zonautara.com dengan berlangganan: https://s.id/dukungzu
Sebab bagi petani, yang terpenting bukan sekadar air tersedia di bendungan, tetapi siapa yang memastikan air itu sampai ke sawah.
#TerasID
#BendunganLolak
#PSN
AIR BENDUNGAN LOLAK TAK SAMPAI KE SAWAH, SIAPA YANG BERTANGGUNG JAWAB?
Bendungan Lolak sudah beroperasi. Air mengalir ke sungai. Tetapi mengapa sebagian petani masih kesulitan mendapatkan air untuk sawah mereka?
Di Mongkoinit Barat, Tohong sudah berbulan-bulan tidak menanam padi. Saluran irigasi di sekitar lahannya mengalami gangguan dan pasokan air tidak mencukupi.
Di Desa Lalow, Markus masih mengandalkan hujan karena jaringan irigasi belum menjangkau sawahnya. Namun di Desa Lolak, Ahmad tetap bisa mengolah sawah meskipun kemarau panjang melanda Bolaang Mongondow.
Tiga petani, tiga kondisi berbeda. Lantas, siapa sebenarnya yang mengatur air dari bendungan hingga sampai ke sawah?
Penelusuran Zonautara.com menemukan bahwa pengelolaan air melibatkan beberapa pihak dengan tanggung jawab berbeda.
Pengelola Bendungan Lolak mengatur pelepasan air dari bendungan ke sungai. Petugas irigasi di bawah mengatur pembagian air melalui jaringan sesuai kewenangannya. Perkumpulan Petani Pemakai Air berperan dalam pengelolaan jaringan tersier yang melayani petak-petak sawah.
Masalahnya, sejumlah petani mengaku jarang bertemu petugas pengatur air. Sebagian mengatur kebutuhan air sendiri, sementara saluran di beberapa lokasi rusak atau belum dibangun.
Dari target layanan Bendungan Lolak seluas 2.214 hektare, BWS menyebut baru 908 hektare yang telah menerima air. Jaringan pengembangan untuk 1.306 hektare lainnya belum dibangun.
Jika air tidak sampai ke sawah, ke mana petani harus mengadu?
Tim Zonautara.com menelusuri pembagian kewenangan, tanggung jawab pengelola, hingga jalur pengaduan yang dapat digunakan petani.
Baca laporan lengkap: https://s.id/bendunganlolak05
Liputan ini merupakan bagian dari serial PSN Sulawesi Utara dalam Edisi Khusus Teras.id: Rapor Dua Tahun Prabowo-Gibran".
Dukung jurnalisme independen Zonautara.com dengan berlangganan: https://s.id/dukungzu
Sebab bagi petani, yang terpenting bukan sekadar air tersedia di bendungan, tetapi siapa yang memastikan air itu sampai ke sawah.
#TerasID
#BendunganLolak
#PSN
...
Api Melalap Rumah, Warga Hanya Bisa Terdiam
Kebakaran lahan merembet ke permukiman warga di Kompleks Persada Permai Baru 2, Handil Bakti, Barito Kuala, Kalimantan Selatan, Sabtu (17/10/2026).
Seorang pria terdiam menyaksikan rumah dilalap api. Angin kencang mempercepat penyebaran kobaran, sementara minimnya sumber air menyulitkan petugas dan relawan melakukan pemadaman.
Ketika karhutla merambah permukiman, bukan hanya lahan yang terbakar, tetapi juga tempat warga menggantungkan hidup.
#Karhutla #KalimantanSelatan #BaritoKuala #Kebakaran
Api Melalap Rumah, Warga Hanya Bisa Terdiam
Kebakaran lahan merembet ke permukiman warga di Kompleks Persada Permai Baru 2, Handil Bakti, Barito Kuala, Kalimantan Selatan, Sabtu (17/10/2026).
Seorang pria terdiam menyaksikan rumah dilalap api. Angin kencang mempercepat penyebaran kobaran, sementara minimnya sumber air menyulitkan petugas dan relawan melakukan pemadaman.
Ketika karhutla merambah permukiman, bukan hanya lahan yang terbakar, tetapi juga tempat warga menggantungkan hidup.
#Karhutla #KalimantanSelatan #BaritoKuala #Kebakaran
...
DI BALIK ANGKA INVESTASI TRILIUNAN RUPIAH DI KEK BITUNG
Investasi sudah mencapai triliunan rupiah. Perusahaan berdatangan. Tetapi seberapa besar manfaat Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Bitung yang benar-benar dirasakan masyarakat?
Hingga triwulan II 2026, investasi kumulatif KEK Bitung tercatat Rp2,874 triliun, dengan 1.240 tenaga kerja dalam laporan capaian kawasan.
Namun, di balik angka tersebut, ada sejumlah fakta yang perlu diperhatikan.
Dari 14 perusahaan yang tercatat masuk, baru 8 perusahaan aktif beroperasi. Dari total kawasan seluas 534 hektare, baru 23,73 hektare atau sekitar 4,4 persen yang tercatat telah dimanfaatkan.
Realisasi investasi 2026 hingga triwulan II baru Rp1,544 miliar, sekitar 0,74 persen dari target Rp207,4 miliar.
Angka-angka itu memperlihatkan jarak antara rencana besar pengembangan kawasan industri dan realisasi di lapangan. Bukan berarti KEK Bitung belum memberi manfaat.
Salah satu warga Bitung, Stenly Walo, misalnya, memperoleh pekerjaan di PT Futai Sulawesi Utara. Penghasilannya membantu memenuhi kebutuhan keluarga. Namun, masih banyak pertanyaan tentang perluasan lapangan kerja dan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Pemerintah daerah mengakui masih ada persoalan pematangan lahan, infrastruktur kawasan, hingga penyesuaian rencana induk (master plan) yang memengaruhi masuknya investasi baru.
Mengapa kawasan yang telah diresmikan sejak 2019 itu belum berkembang sesuai harapan? Siapa yang harus menyelesaikan hambatannya?
📰 Baca laporan mendalam Zonautara.com: https://s.id/psnsulut01
Liputan ini merupakan bagian dari serial Proyek Strategis Nasional (PSN) di Sulawesi Utara, dalam Edisi Khusus Teras.id: "Rapor Dua Tahun Prabowo-Gibran".
Kami menelusuri capaian pembangunan, hambatan, dan manfaat nyata yang diterima masyarakat.
Dukung jurnalisme independen.
Berlangganan untuk mengakses laporan premium Zonautara.com melalui Teras.id.
Dukung kami disini:
https://s.id/dukungzu
Sebab keberhasilan investasi bukan hanya soal berapa triliun rupiah yang tercatat, tetapi berapa banyak kesempatan dan kesejahteraan yang dihasilkan.
#TerasID
#KEKBitung
#PSN
#DuaTahunPrabowoGibran
DI BALIK ANGKA INVESTASI TRILIUNAN RUPIAH DI KEK BITUNG
Investasi sudah mencapai triliunan rupiah. Perusahaan berdatangan. Tetapi seberapa besar manfaat Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Bitung yang benar-benar dirasakan masyarakat?
Hingga triwulan II 2026, investasi kumulatif KEK Bitung tercatat Rp2,874 triliun, dengan 1.240 tenaga kerja dalam laporan capaian kawasan.
Namun, di balik angka tersebut, ada sejumlah fakta yang perlu diperhatikan.
Dari 14 perusahaan yang tercatat masuk, baru 8 perusahaan aktif beroperasi. Dari total kawasan seluas 534 hektare, baru 23,73 hektare atau sekitar 4,4 persen yang tercatat telah dimanfaatkan.
Realisasi investasi 2026 hingga triwulan II baru Rp1,544 miliar, sekitar 0,74 persen dari target Rp207,4 miliar.
Angka-angka itu memperlihatkan jarak antara rencana besar pengembangan kawasan industri dan realisasi di lapangan. Bukan berarti KEK Bitung belum memberi manfaat.
Salah satu warga Bitung, Stenly Walo, misalnya, memperoleh pekerjaan di PT Futai Sulawesi Utara. Penghasilannya membantu memenuhi kebutuhan keluarga. Namun, masih banyak pertanyaan tentang perluasan lapangan kerja dan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Pemerintah daerah mengakui masih ada persoalan pematangan lahan, infrastruktur kawasan, hingga penyesuaian rencana induk (master plan) yang memengaruhi masuknya investasi baru.
Mengapa kawasan yang telah diresmikan sejak 2019 itu belum berkembang sesuai harapan? Siapa yang harus menyelesaikan hambatannya?
📰 Baca laporan mendalam Zonautara.com: https://s.id/psnsulut01
Liputan ini merupakan bagian dari serial Proyek Strategis Nasional (PSN) di Sulawesi Utara, dalam Edisi Khusus Teras.id: "Rapor Dua Tahun Prabowo-Gibran".
Kami menelusuri capaian pembangunan, hambatan, dan manfaat nyata yang diterima masyarakat.
Dukung jurnalisme independen.
Berlangganan untuk mengakses laporan premium Zonautara.com melalui Teras.id.
Dukung kami disini:
https://s.id/dukungzu
Sebab keberhasilan investasi bukan hanya soal berapa triliun rupiah yang tercatat, tetapi berapa banyak kesempatan dan kesejahteraan yang dihasilkan.
#TerasID
#KEKBitung
#PSN
#DuaTahunPrabowoGibran
...
